Showing posts with label Hikmah Jumat. Show all posts
Showing posts with label Hikmah Jumat. Show all posts

Monday, 3 June 2019

Simbol Iluminati dalam Arsitektur Masjid As-Shafar: Antara Kreatifitas dan Sensitifitas

 Simbol Iluminati dalam
Arsitektur Masjid As-Shafar:
Antara Kreatifitas dan Sensitifitas

Oleh Dr. Eng. Bambang Setia Budi

Tulisan ini adalah permintaan beberapa rekan termasuk (terutama) desakan teman hidup (istri hehe) untuk memberikan pandangan saya tentang kegaduhan bangunan masjid ini. Sejak mengikuti polemik, saya memang tidak ingin buru-buru berpendapat sebelum saya melihat, mengunjungi dan merasakan langsung bangunannya dengan mata kepala dan panca indera saya sendiri. Saya melihat banyak dari rekan-rekan yang terburu-buru berpendapat dan beropini tanpa melihat dan mengamati langsung di lapangan, dan itu menurut saya budaya yang kurang baik dari masyarakat kita.

Saya hanya ingat top manajemen di Perusahaan Toyota, bila ada masalah di satu bagian pabriknya, lalu pemimpin rapatnya bertanya kepada para direkturnya yang ikut rapat, adakah yang belum melihat kondisi di lapangannya? Walaupun hanya dua orang dari sekian puluh peserta rapatnya, ternyata ditunda rapat itu hingga dua orang yang belum melihat sampai mengamatinya sendiri. Itu mungkin supaya tidak bikin masalah menjadi tambah rumit dan bertele-tele karena kurang lengkap memahami persoalannya dan pembahasan rapatnya bisa lebih berorientasi pada solusi tidak hanya perang pendapat atau opini.

Tafsir atau Interpretasi Wujud dan Simbol Arsitektur

Bentuk dan wujud arsitektur memang bisa ditafsirkan apa saja oleh masyarakat atau pengamat tanpa harus meminta klarifikasi arsitek atau perancangannya. Tidak sepenuhnya benar bila masyarakat, pengamat atau bahkan kritikus arsitektur harus meminta penjelasan atau klarifikasi (tabayyun) kepada sang arsitek atau perancangnya dulu sebelum menafsirkannya atau menginterpretasikannya kemudian menyampaikan pendapatnya terkait suatu bangunan tertentu atau simbol tertentu.





Pertanyaannya, siapa yang boleh menginterpretasikan dan menafsirkan suatu bentuk karya arsitektur atau simbol dalam arsitektur tertentu itu? Apakah harus orang yang mendalam pengetahuannya tentang arsitektur? Apakah hanya para arsitek akademisi arsitektur atau sejarahwan dan kritikus arsitektur? Atau (!) bahkan hanya arsiteknya sendiri? Mungkin itu benar dan mungkin ada sebagian yang berpendapat demikian.

Namun dalam pandangan saya, siapa saja boleh dan berhak memandang, mengamati, atau menginterpretasikan sebuah karya arsitektur dengan caranya dan dengan pemahamannya. Apalagi arsitektur yang dimaksudkan itu adalah bangunan publik. Dan itu menurut saya, pandangan dan interpretasi itu harus dihargai dan jangan dilecehkan. Apalagi (bahkan) mereka itu pengguna bangunan itu sendiri juga, bila tidak maka yang tersisa dari arsitek hanyalah sikap ego dan arogansi. Padahal karya arsitektur, sehebat apapun arsiteknya tidak akan pernah ada yang sempurna dan pasti selalu saja ada celah kekurangannya.

Bila diseriusi, pendapat masyarakat umum juga bahkan bisa menjadi bahan penelitian tersendiri. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap suatu obyek karya arsitektur tertentu. Dan saya beberapa kali membimbing dan menguji topik tesis mahasiswa S2 atau disertasi S3 seperti itu. Misalnya bagaimana opini masyarakat terhadap bentuk Masjid Salman ITB karya arsitek seribu masjid Achmad Noe'man atau bagaimana respon pandangan masyarakat Sumbar terhadap bentuk Arsitektur Masjid Raya Sumatra Barat karya arsitek Rizal Muslimin.

Karena pada dasarnya, arsitektur itu memang sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat. Maka setiap karya arsitektur yang hadir memang sewajarnya perlu bersiap mendapatkan komentar, pendapat, intepretasi dan opini dari masyarakat apalagi pengguna arsitektur itu sendiri. Kalau tidak siap dengan opini atau interpretasi dari masyarakat penggunanya, ya mungkin lebih baik tidak perlu berkarya.

Dan dalam kasus ini, masjid itu sangat dekat dengan umatnya, maka wajar saja bila ada sebagian umatnya sebagai pengguna berpendapat dan beropini sesuatu tentang masjid itu sendiri. Terlepas dari perbedaan pandangan politik, atau soal suka dan benci kepada seseorang/tokoh tertentu/arsiteknya dan lain sebagainya. Dan menurut hemat saya jangan terburu-buru dibawa ke ranah itu supaya pembahasannya lebih jernih dan obyektif.

Di sisi lain, kita juga meyakini bahwa yang sering terjadi, arsitek saat merancang tidak berpandangan atau tidak bermaksud tertentu sebagaimana yang ditafsirkan masyarakat, pengguna atau pengamat, atau juga bahkan kritikus arsitektur. Karena ianya bisa jadi merupakan bagian proses kreatif semata, tetapi mereka dalam hal ini masyarakat, pengamat, kritikus atau sejarahwan arsitektur bisa menafsirkannya dan memasukkannya dalam kategori dan/atau maksud yang berbeda atau bertolak belakang. Yang terjadi, belakangan arsitek bisa menolaknya atau menyangkal atau membantahnya, namun bisa juga mengakuinya atau membenarkannya karena mungkin baru menyadarinya. Yang jelas, cukup banyak terjadi adalah maksud arsitek tidak selalu sama sebagaimana yang ditafsirkan oleh pengamat.

Saya coba berikan contoh-contoh sekilas. Arsitektur Aula Barat dan Timur ITB, khususnya pada atap, banyak yang menafsirkan diturunkan dari atap Sunda Besar, ada pula yang mengatakan diturunkan dari atap Bagonjong Minang. Apakah arsiteknya memang berfikir demikian? Tentu bisa iya bisa tidak. Dan arsitek sepanjang pengetahuan saya tidak pernah menjelaskannya. Tetapi karya arsitektur yang membuka interpretasi yang beragam ini juga justru menariknya.

Bentuk dan wujud Arsitektur Gereja di Ronchamp karya Le Corbusier, diinterpretasikan oleh pengamat malah lebih banyak lagi. Dari bentuk seperti topi, tangan berdoa, binatang swan, atau seseorang yang memeluk anaknya dan sebagainya. Tentu ini membentang dari yang bersifat serius atau hanya mengada-ada. Tetapi keragaman interpretasinya oleh pengamat itu sah-sah saja.

Atau atap tumpuk tiga masjid tradisional Jawa yang mentradisi itu, apa dan siapa yang pernah menginterpretasikannya? Ulama besar Buya Hamka pernah menafsirkannya sebagai tiga tingkatan yakni Iman, Islam dan Ihsan. Salahkah beliau? Tidak. Bolehkah menafsirkan hal demikian? Boleh saja.

Yang terdekat dalam bahasan ini yakni misalnya Arsitektur Masjid Salman, yang oleh sebagian masyarakat atau pengamat beropini bila atapnya yang seperti mangkuk terbuka seperti tangan yang menengadah atau sedang berdoa, atau juga seperti huruf "ba" yang artinya singkatan dari "bait" atau rumah, sementara menaranya sebagai "alif" dari singkatan Allah, yang kesemuanya berarti Rumah Allah. Salah atau tidakkah interpretasi ini. Tidak ada yang salah tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Lalu, apakah sang arsitek memang berpikiran demikian waktu merancangnya, sepanjang saya berinteraksi dengan beliau (Bpk Achmad Noe'man), beliau hanya tertawa dan kemudian menjawab perlahan tidak pernah berpikir seperti demikian itu dulunya. Itu istilah beliau hanya menggunakan "ilmu gathuk", atau dicocok-cocokkan. Namun belakangan beliau juga menjelaskan menggunakan ilmu gathuk itu sendiri juga dengan mengatakan bahwa atap Masjid Salman adalah inversi (bentuk negatif) dari atap Aula Barat dan Timur ITB. Apakah itu kebetulan atau hanya justifikasi semata, itu hanya Tuhan dan arsiteknya yang tahu.

Dalam kasus Masjid Salman, bahkan ada seorang Profesor Sejarah Islam di Bandung yang menginterpretasikan dan mengkritik bahwa kolom dan balok di interior Masjid Salman pada sebelah dinding kanan dan kiri (Utara-Selatan) sebagai bentuk-bentuk salib dalam masjid. Lebih parah lagi adalah mimbarnya, yang apabila ada khatibnya sedang naik mimbar maka proporsinya menjadi sama persis dengan bentukan salib. Bagaimana respon Pak Noe'man? Sepanjang saya ketahui beliau diam dan tenang saja, bahkan tersenyum saja tanpa perlu direspon apalagi berlebihan.

Saya sendiri tentu menghargai keduanya, tetapi saya juga tentu tidak sama pendapatnya dengan Profesor itu karena itu bagaimana pun suatu konsekwensi logis dari struktur kolom dan balok. Kecuali kita membuatnya dalam bentuk arches atau lengkungan-lengkungan dengan menghindari kolom dan balok. Begitu pula dengan mimbarnya. Intrepretasinya ini mungkin terlalu berlebihan.

Bukan (hanya) Persoalan Bentuk Segitiga

Sama dengan Masjid As-Shafar karya Ridwan Kamil dari Urbane yang sedang menjadi polemik itu. Menginterpretasikan bentuk-bentuk segitiga sebagai simbol-simbol derivat dari Iluminati, menurut saya memang agak berlebihan karena bentuk-bentuk itu biasa dalam arsitektur dan bentuk segitiga adalah bentukan yang paling kokoh dalam struktur bangunan.

Saya pun juga sangat percaya bahwa sang arsitek dalam hal ini Ridwan Kamil, hampir tidak mungkin melakukan itu dengan maksud untuk memperkenalkan simbol-simbol segitiga Iluminati itu secara halus dan sembrono. Terlalu berani dan gegabah untuk menampilkan gagasan-gagasan itu dalam bentuk arsitektur khususnya Masjid sebagai tempat ibadah umat Islam itu sendiri.

Karena bagaimanapun simbol Iluminati itu memang wujud dari simbol musuh bebuyutan Umat Islam akhir zaman, dialah Dajjal yang diyakini dan diberitakan akan hadir menjelang kiamat. Ia bermata satu karena satunya buta. Ianya memang kerap bermain simbol, dan simbolnya segitiga dengan satu mata di tengahnya. Bagi Umat Islam, saking besarnya fitnah itu, dalam setiap Shalat dan diakhir duduk At-Tahiyat sebelum salam, berdoa supaya dihindarkan dari fitnah Dajjal itu. Dan tanda-tandanya adalah kerusakan di berbagai bidang yang sebagian besarnya memang sudah nampak dari sekarang. Ia mengaku dirinya Tuhan dan nantinya banyak sekali orang yang akan tersihir, mengikuti dan tunduk patuh kepadanya, kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Allah SWT.

Namun kembali lagi, persoalannya apakah hanya soal bentukan segitiga? Tentu saja tidak. Bagi saya yang sudah mencoba mengamati dan merasakan bangunan ini baik dari luar dan dalam, bentukan segitiga di berbagai sudut dan tempat tidak terlalu merisaukan kecuali hanya di bagian Mihrab. Karena bentukan segitiga di bagian Mihrab ini bukan hanya segitiganya tetapi adanya bulatan yang bila diamati maksudnya arsitek adalah untuk hiasan dengan kaligrafi di bagian lingkaran di tengah segitiga itu. Namun dengan desain seperti itu, rupanya menjadi semakin memperjelas dan mendekatkan/memiripkan bentuk atau simbol dari iluminati itu sendiri yang berupa segitiga dengan mata satu di tengahnya.

Sekali lagi, saya sangat percaya kalau arsitek Ridwan Kamil tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja apalagi sebagai bagian dari konspirasi, namun kenyataan di lapangan memang secara nyata dan jelas, khusus untuk bagian Mihrab ini bagaimanapun, cukup atau juga sangat mengganggu bila seorang Muslim atau pengguna yang sholat didalamnya seperti menghadap simbolnya Dajjal yang itu berarti Tuhan lain selain Allah sebagaimana yang dikehendaki oleh Dajjal itu sendiri.

Kreatifitas Tetap Perlu Sensitifitas

Pelajaran dari kasus Masjid As-Shafar ini menurut saya, arsitek memang harus dan perlu dan secara bebas melakukan kreatifitas secara maksimal dalam desain bentuk dan wujud arsitektur masjid. Itu memang dikehendaki dalam arsitektur Islam khususnya membangun masjid, dimana tidak adanya patokan-patokan yang terlalu ketat.

Arsitektur Masjid merupakan bangunan umat Islam yang bagi setiap arsitek adalah makanan paling empuk, tinggal sejauh mana pengetahuan, wawasan, ketrampilan, penguasaan teknologi dan lain sebagainya bisa diterapkan di dalamnya. Sebagaimana dalam kaidah Ushul Fiqih, ibadah Ghairu Mahdhoh ini semuanya boleh kecuali yang dilarang saja. Ia bebas menggunakan bentuk apa saja, material aja saja, dan lain sebagainya namun ia harus tetap berfungsi dengan baik sebagai tempat ibadah Umat, menghadapkan dirinya/shafnya ke kiblat, kejelasan batas suci dan tidak suci, dan tentu arsitekturnya harus menyesuaikannya dengan kondisi iklim setempat.

Namun demikian, kebebasan berkreatifitas tentu itu tentu tetap perlu memperhatikan dan hal-hal sensitif di masyarakat dan lingkungannya supaya tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Dalam kaitan dengan bentuk dan simbol ini, memang ada baiknya arsitek dan siapapun itu yang merancang masjid, perlu lebih sensitif.

Kasus Masjid As-Shafar ini dalam pandangan saya cukup kreatif, dengan bentukan masjid yang tidak biasa bahkan mungkin belum pernah ada, namun kurang sensitif dalam mengelaborasikan bentuk-bentuk bidang sehingga khususnya pada Mihrab seakan menghadirkan sebuah bentukan dan simbol segitiga Iluminati dengan bulatan di tengahnya yang menjadi musuh utama Umat Islam akhir zaman dan itu berada di depan orang sedang berdiri, ruku dan sujud.

Masukan saya di luar bentuk dan wujud simbolisme itu dalam kasus rancangan masjid ini, dan setelah merasakan sendiri di lapangan, arsitektur masjid ini juga kurang sensitif terhadap iklim tropis yang padahal itu merupakan salah satu ciri Arsitektur Islam. Yang paling terasa adalah di ruang mezanin lantai dua untuk sholat para wanita, ketika saya hadir pukul 13.30 siang hari, sungguh ruangan sangat panas sehingga hampir tidak mungkin itu dipakai sholat dengan tenang dan nyaman.

Menurut pandangan saya, arsitek dan teman-teman Urbane terlalu fokus pada eksplorasi dalam bentuk-bentuk dan bermain bidang, namun kurang sensitif kalau tidak dikatakan lemah dalam merespon iklim tropis lokal kita yang panas dan lembab. Terlalu berlebihan dalam mengeksplorasi bentuk dengan kurang responsif atau sensitif terhadap simbolisme dan iklim tropis lembab setempat ini menurut saya catatan yang perlu dan bisa menjadi hikmah dan pembelajaran ke depannya.

Berbeda dengan Masjid Salman yang walaupun beratap datar, namun dengan adanya koridor dan cross ventilation-nya yang sangat mendekati sempurna sehingga tidak pernah terasa panas walaupun penuh sesak jemaah saat sholat Jumat di siang hari. Atau juga Arsitektur Masjid Istiqlal karya Friedrich Silaban yang semua dindingnya bisa bernafas, atau bahkan karya Kang Ridwan Kamil sendiri di Masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan Bandung yang dinding-dindingnya juga bernafas.

Solusi

Sebagaimana pembuka tulisan ini, saya lebih berorientasi pada solusi dibandingkan mengembangkan polemik atau perang opini yang berkelanjutan. Saya lebih mengajukan beberapa usulan solusi yang singkat dan jelas:

Pertama, untuk bagian Mihrab sebaiknya bisa diredesain sehingga kemiripannya dengan simbol iluminati bisa direduksi. Isu sensitif ini perlu direspon tanpa harus defensif karena menyangkut kenyamanan pengguna. Serahkan pada arsitek/tim arsiteknya karena mereka pasti lebih tahu bagaimana menyelesaikannya.

Kedua, perlu beberapa solusi desain tambahan untuk aspek responsif dan sensitifitasnya terhadap iklim tropis lembab ini agar masjid lebih nyaman digunakan.

Demikian pendapat saya, dan dari lubuk yang paling dalam kurang lebihnya mohon maaf lahir dan batin. Taqaballahu minna wa minkum. Selamat Berhari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1440 H.

Mudik di Kampung Halaman,
Sragen - Jawa Tengah, 3 Juni 2019

Bambang Setia Budi
Arsitek dan Dosen Mata Kuliah Arsitektur Islam, SAPPK ITB
Baca selengkapnya

Thursday, 30 May 2019

Mayjen (Purn) Kivlan Zein, kisah dan pengabdian pada NKRI

Mayjen (Purn)  Kivlan Zein

Putra Minang adalah seorang Tentara Ninik Mamak. Bertindak dengan bijak, seperti menghela rambut dalam tepung.

Purn Jendral Kivlan Zein, lulusan Akademi Militer (Akmil) angkatan tahun 1971. Dia memilih pengabdian di Kesatuan Infanteri, Baret Hijau. Dimulai sebagai Komandan Peleton (1971), kemudian Ki-B Batalyon 753, hingga Danyon (1973). Pada, 1974, pasukan Kivlan berhasil meringkus gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Juga ketika bertugas di Timor Timur, Kivlan dinilai berhasil sehingga mendapat kenaikan pangkat luar biasa.



Dia menjabat Kepala Staf Brigade Infanteri Linud 1/Cilodong/Kostrad (Kasdivif I Kostrad) dengan pangkat Kolonel, (1990). Tahun itu juga dia bertugas di Filipina, memimpin Kontingen Garuda. Lulusan Sekoad 1990 itu berhasil menjalankan tugasnya di Filipina. Terbukti dari penghargaan (medali kehormatan) yang dianugerahkan secara khusus kepadanya oleh Presiden Filipina Fidel Ramos karena Kivlan dinilai berhasil membujuk pimpinan MNLF, Nur Misuari, agar mengakhiri konflik Moro di Filipina Selatan. Kivlan yang memimpin Kontingen Garuda XVII, Pasukan Konga 17 di Filipina juga berperan menjadi pengawas genjatan senjata setelah adanya perundingan antara MNLF dengan pemerintah Filipina.

Setelah itu, dia menjabat Kepala Staf Daerah Militer VII/Wirabuana, dengan pangkat Brigadir Jenderal. Naik jabatan menjadi Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad, berpangkat Mayor Jenderal dan terakhir menjabat Kepala Staf Kostrad (1998).

Dinamika kariernya terbilang mulus. Kendati tatkala berpangkat mayor, dia sempat menyandangnya selama enam tahun dan letnan kolonel baru dia dapatkan setelah tujuh tahun saat dia bertugas di Timor Timur. Namun, setelah menyandang pangkat kolonel tahun 1994, dia hanya butuh waktu 18 bulan untuk naik menjadi jenderal (bintang satu) dan kemudian berakhir dengan pangkat jenderal bintang dua dalam jabatan Kepala Staf Kostrad.

Kivlan memiliki talenta kepemimpinan yang terasah sejak kecil. Sebelum masuk Akmil, Kivlan sempat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara. Kala itu, dia memilih Fakultas Kedokteran karena ingin mengabdikan diri untuk kehidupan sosial. Saat masih pelajar, Kivlan sudah aktif dalam organisasi. Dia telah bergabung dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (1962). Pada 1965, menjabat sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Medan dan Ketua Departemen Penerangan KAMI Medan. Dia juga aktif dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

10 SANDERA DIBEBASKAN TANPA DARAH, UANG DAN AIR MATA hanya dengan memakai cara Minangkabau.

10 sandra dibebaskan dari tawanan kelompok Abu Sayyaf. Mencengangkan, pembebasan sandra tersebut tanpa uang, air mata, apa lagi darah. Alhamdulillah, sungguh luar biasa.

Adalah Jendral Kivlan Zein, putra Minang pensiunan TNI. Lelaki shaleh dan sangat anti komunis tersebut rupanya jago diplomasi. Saya yakin dan percaya beliau memakai petuah orang tua, mamak dan guru beliau :

" indak ado karuah nan tak amuah janiah, indak ado kusuik nan tak amuah salasai. Duduk surang basampik-sampik, duduak basamo ba lapang-lapang. Aia janiah sayaknyo landai, jalan rayo titian batu, barundiang cadiak jo pandai, paham duo manjadi satu... saukua kato dibulek-i, saukua paham di samokan.

Kalau dibudaya lain, saya lihat tak seperti itu. Misalnya dalam film-filem kisah berbagai peperangan di luar Minang. Ada perselisihan kirim para pendekar (pasukan), bertemu di jalan... lalu 'parang basosoh'.

Kecamuk perang tanpa perundingan akan melahirkan kezaliman demi kezaliman, dendem berketurunan dan menjadi beban sejarah.

Maka kata orang Minang maambiak contoh ka nan sudah maambiak, maambiak tuah ka nan manang. Mengapa orang Minang bisa seperti itu; jawabannya ABS-SBK,Adaik Basandi Syarak,Syarak basandikan Kitabullah.

Karena itu, bila cara-cara Minang ini ditinggalkan akan merugikan bangsa bahkan dunia.

Aku Bangga Menjadi Anak Minangkabau...
Baca selengkapnya

Tuesday, 28 May 2019

Siapa Jerry D Gray? BULE PENGKRITISI JOKOWI

Siapa Jerry D Gray?
BULE PENGKRITISI JOKOWI

Jerry D Gray, seorang mantan tentara Amerika Serikat yang sudah bertahun-tahun bermukim di Indonesia dan sudah menjadi Muslim pula. Jerry D Gray adalah penulis sejumlah buku yang mengkritisi kebijakan pemerintah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, termasuk Zionisme.

Jerry berupaya menyampaikan kepada masyarakat bahwa saat ini dunia dikuasai oleh sekumpulan orang atau kelompok yang berupaya memujudkan apa yang dinamakan “The New World Order.”

“Mereka menguasai seluruh negara dan pemerintahan yang ada di dunia ini. Mereka menguasai 96 persen media massa yang ada di dunia ini, sehingga mereka bisa menguasai semua informasi dan mengatur semua pemberitaan. Mereka berusaha menghilangkan semua agama di dunia ini dan menggantikannya dengan agama yang mereka ciptakan sendiri. Mereka berusaha menjadikan semua bangsa tunduk berada di bawah ketiaknya. Mereka melaukan segala upaya untuk menyambut datangnya Dajjal,” kata Jerry D Gray pada suatu diskusi.


Jerry mengupas tentang sejumlah kebohongan pemerintah Amerika Serikat berkait dengan peristiwa serangan 11 September 2001 yang sering juga disebut tragedi WTC. Dia memaparkan bukti-bukti melalui gambar-gambar maupun data-data lainnya bahwa serangan yang menghancurkan menara kembar tersebut bukanlah dilakukan oleh apa yang pemerintah AS sebut sebagai teroris, khususnya Al-Qaidah yang dipimpin oleh Usamah bin Ladin.

“Tragedi WTC itu merupakan kerjaan pemerintah AS sendiri agar bisa melakukan perang kepada negara-negara lain, terutama Irak dan Afghanistan. Pemerintah AS telah melakukan kebohongan besar, telah melakukan kebohongan besar, telah melakukan kebohongan besar,” tegas Jerry D Gray berapi-api.

Jerry juga mengupas tentang flu burung, flu babi, virus dan berbagai penyakit yang kini berkembang di berbagai Negara. “Semua itu merupakan rekayasa pemerintah AS untuk membuat bangsa-bangsa lain tidak sehat, sehingga bisa mereka kuasai.

Semua obat, termasuk vaksin yang mereka buat, mengandung efek samping yang bisa membahayakan kesehatan atau menimbulkan persoalan baru. Contoh imunisasi. Sebanyak 30 persen dokter di AS tidak mau mengimunisasi anaknya, tapi kenapa mereka —antara lain melalui World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia– memaksa anak-anak kita supaya divaksinasi?

Jerry juga pernah ditanya mengenai alasannya masuk Islam. Ia mengatakan bahwa ia telah mencari kebenaran agama-agama sejak umur 21 tahun mengaku bahwa ia masuk Islam karena agama Islam itu logis. “Saya masuk Islam karena Islam itu logis. Kalau logis, baru saya percaya. Kalau tidak logis, saya tidak percaya,” tuturnya.

Sebelum masuk Islam, dia telah membaca The Holy Qur’an. “Kok nama Muhammad muncul terus di Al-Qur’an? Saya penasaran. Maka saya membaca buku Hadits Bukhari dari A-Z. Alhamdulillah, saya bisa kenal Muhammad. Baca Hadist saja saya sudah jatuh cinta kepada Muhammad. Sudah cukup bagi saya untuk meyakini bahwa Islam dan Nabi Muhammad itu benar."

"Lalu saya baca lagi The Holy Qur’an. Saya semakin yakin kepada kebenaran Islam, sehingga akhirnya saya memutuskan bahwa Islamlah agama yang logis, Islamlah agama yang benar, dan saya pun masuk Islam.”

Demikian kata Jerry D Gray yang pernah membeli lebih 350 judul buku tentang keislaman berbahasa Inggris saat berkunjung ke Arab Saudi guna mempelajari dan memperdalam Islam.[]

_____
saripedia
Baca selengkapnya

Aceh Referendum, apakah Sumatera lainnya juga akan turut?

MUALEM
: Aceh Lebih Baik Referendum, Ikut Langkah Timor Timur
 23:29 WIB, 27 Mei 2019
 
Mualem: Aceh Lebih Baik Referendum, Ikut Langkah Timor Timur
Mualem (Foto: Ist)

Banda Aceh | Lama tak berbicara tajam dan keras. Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Ketua DPA Partai Aceh (PA) Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, akhirnya mengeluarkan pendapat mengejutkan. “Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja, itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel,,yel hidup Mualem.

Pendapat dan keinginan itu disampaikan Mualem dalam sambutannya pada peringatan Kesembilan Tahun (3 Juni 2010-3 Juni 2019), wafatnya Wali Neugara Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk Muhammad Hasan Ditiro dan buka bersama di salah satu Gedung Amel Banda Aceh, Senin (27/5/2019) malam.

Menurut Mualem, pihaknya sudah mengkaji dan melakukan instropeksi diri terhadap berbagai kelemahan dan kemajuan yang perlu diperbaiki pada masa datang. Nah, berdasarkan pengalaman itulah menurut Mualem, Aceh harus melihat dan meretas jalannya sendiri di masa depan.

“Karena, sesuai dengan Indonesia, tercatat ada bahasa, rakyat dan daerah (wilayah). Karena itu dengan kerendahan hati, dan supaya tercium juga ke Jakarta. Hasrat rakyat dan Bangsa Aceh untuk berdiri di atas kaki sendiri,” ungkap Mualem yang kembali mendapat tepuk tangan dari kader PA dan mantan kombatan GAM yang hadir.

Mualem menilai, Indonesia tak lama lagi akan dijajah asing. “Kita tahu bahwa Indonesia, beberapa saat lagi akan dijajah oleh asing, itu yang kita khawatirkan. Karena itu, Aceh lebih baik mengikuti Timor Timur, kenapa Aceh tidak,” ujar Mualem.

Hadir saat itu, Plt Gubernur Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, Rektor Unsyiah Banda Aceh, Ketua Pengadilan Tinggi (masing-masing diwakili) serta para Bupati dan Walikota dari Partai Aceh, anggota DPRA Partai Aceh serta partai nasional

Kata Mualem, beberapa tokoh dan pengamat luar negeri seperti Australia, Jepang, Malaysia dan negara eropa lainnya, Indonesia tidak bisa diselamatkan lagi. “Dari pada kita dijajah orang lain, lebih baik kita (Aceh) berdiri di atas kaki sendiri. Mudah-mudahan, ini adalah satu usaha dan pemikiran bangsa Aceh saat ini. Mudah-mudahan dengan niat kita semua, lebih baik kita mengikuti Timor-Timur, Insya Allah,” tegas Mualem kembali yang disambut yel,,yel hidup Mualem dan “merdeka”.

20190527-bendera

Bendera Aceh di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Foto: google.com)

Mualem juga menilai. “Kita tidak dapat bayangkan lagi, persoalan bangsa Indonesia, semakin hari semakin menumpuk. Indonesia terjerat pada berbagai persoalan. Ini seperti nasib beberapa negara di Afrika. Ini perlu kita camkan, kita berharap Indonesia ini dipimpin oleh sosok yang baik. Mudah-mudahan  aman dan damai semuanya,”tutup Mualem, mengakhiri sambutannya.

Nah, pantauan media ini usai acara buka puasa bersama tersebut, sejumlah petinggi GAM, mantan kombatan dan kader Partai Aceh, membicarakan kembali penyataan Mualem tersebut. Mayoritas mereka menyatakan mendukung.

“Pane keumah lon ngon Indonesia, sabe-sabe tanyo dipeunget. Dipelueh ule, dimat iku (ndak mungkin lagi bersama Indonesia, selalu kita ditipu. Kalau pun dilepas kepala, ekor tetao di pegang),” ujar Ismal, yang mengaku salah seorang mantan kombatan GAM Wilayah Aceh Besar. Akankah pernyataan Mualem ini memberi efek? (selengkapnya baca edisi cetak, terbit setiap Rabu).***
Baca selengkapnya

Sunday, 26 May 2019

MARI BERSAMA KITA UNGKAP UJUNG & PANGKAL TALINYA, koran TRAGEDI KEMANUSIAAN 22 MEI, HARUN

MARI BERSAMA KITA UNGKAP UJUNG & PANGKAL TALINYA

Oleh : Setiyono

Kemarin siang, tepatnya tanggal 26 Mei 2019. Saya beserta tim advokasi hukum dari Keluarga Alumni KAMMI, melakukan silaturahim kesalah satu keluarga korban tragedi 21-22 Mei 2019 di jakarta. Keluarga korban yang kami datangi adalah orang tua dari adinda almarhum Harun Rasyid. Keluarga ini tinggal di RT 09/RW 10 No 81 Kelurahan Duri Kepa, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Harun Rasyid ini adalah remaja yang masih duduk dibangku sekolah kelas 1 SMP. Umurnya baru 14 tahun. Masih sangat belia, belum punya hak pilih, dan belum terlalu mengerti dengan konflik politik orang-orang dewasa. Yang ia mengerti baru sebatas bermain, suka dengan keramaian, dan tidak begitu faham apakah permainan dan keramaian itu berbahaya atau tidak.



Beberapa jam sebelum Harun pergi untuk menyaksikan keriuhan orang-orang yang aksi 21-22 Mei, Harun sempat bermain layang-layang bersama teman sebayanya. Dan juga bermain sepakbola dilingkungan yang tak jauh dari rumahnya. Ia menikmati masa-masa indahnya sebagai anak-anak yang beranjak remaja.

Namun sungguh malang, ternyata sore itu adalah hari terakhir bagi Harun untuk bisa bermain layang-layang. Sebab malam harinya, tepatnya malam 22 Mei, ketika Harun hadir untuk menyaksikan aksi 21-22 Mei, Harun mengalami hal yang tragis. Dia menjadi salah satu korban dari konflik orang-orang dewasa. Tubuh kecilnya tertembus peluru tajam. Yang entah datang dari senjata siapa. Sempat dilakukan pertolongan medis, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan. Akhirnya Harun pun menjadi korban dari perilaku para durjana.

Harun ini tidak terlahir dikeluarga yang kaya raya. Ia lahir ditengah keluarga yang sangat sederhana. Rumahnya di perkampungan yang sangat padat penduduk, menyusuri gang-gang sempit. Harun adalah putra kesayangan dari pasangan Didin dan Murniati. Ia memiliki seorang adik bernama Zahra, dan memiliki seorang kakak yang bernama Anisa.

Orang tua Harun sangat terpukul ketika mengetahui bahwa anaknya menjadi korban tragedi 21-22 Mei. Terlebih lagi mendapati putra kesayangannya itu meninggal dengan sebab yang sangat tidak wajar. Tertembus peluru tajam.

Saat saya beserta team silaturahim ke rumah keluarga tersebut, masih sangat terasa luka dan duka yang demikian dalam pada diri setiap anggota keluarga Harun. Bahkan kakak Harun yang bernama Anisa, masih syok berat. Sejak mengetahui bahwa adiknya telah meninggal dengan cara sangat tragis itu, Anisa keluar dari kendali kesadaran. Ia masih terkulai lemas, dan setiap kali ia membuka mata, kata yang ia ucapkan adalah Harun, Harun, Harun.

Mendapati semua fakta itu, hati kami pun seperti tercabik-cabik. Ada rasa marah yang luar biasa, marah pada orang yang melepaskan tembakan ditengah massa aksi 21-22 Mei, hingga membunuh orang-orang tak bersalah. Kecurigaan tentang dari mana asal peluru tajam tersebut, ada terlintas dalam benak kami. Tapi kami sadar bahwa tidak boleh gegabah menuduh pelakunya. Karena itulah, kami memutuskan untuk melakukan investigasi, mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, dengan harapan dapat mengungkap kemana ujung talinya, dan siapa saja yang harus dituntut untuk bertanggungjawab. Sebab kami meyakini, bahwa ini adalah kejahatan HAM yang sangat luar biasa.

Apa yang dirasakan oleh keluarga Harun, juga kami rasakan. Begitu juga dengan keluarga lain yang anggota keluarganya turut menjadi korban pada tragedi 21-22 Mei. Mempersoalkan kematian Harun dan kematian para korban lainnya pada tragedi tersebut, adalah tanggungjawab kita sebagai seorang manusia. Mengusut kematian Harun dan mengusut kematian seluruh korban tragedi itu, sama dengan memperjuangkan masa depan jutaan anak-anak Indonesia dan masa depan seluruh generasi bangsa, termasuk masa depan kita. Jika kita abaikan kematian Harun, dan kematian para korban tragedi 21-22 Mei ini, maka artinya kita membiarkan para durjana, membiarkan para pembunuh, dan membiarkan para pelanggar HAM berkeliaran dibangsa yang kita cintai ini.

Jakarta, 27 Mei 2019
Baca selengkapnya

MEMPROSES SOEHARTO LENGSER

MEMPROSES SOEHARTO LENGSER

Teman-teman Jamaah Maiyah, foto yang Anda lihat ini adalah foto satu atau pertama dari dua kali Mbah Nun berada di Istana Negara, yakni pada 19 Mei 1998.

Seperti bisa Anda lacak ke dalam dokumentasi media, atau Anda dengarkan dari tuturan para om-om kalian, tahun 97 dan 98 adalah puncak dari gelombang besar yang menghendaki Presiden Soeharto turun dari jabatannya yang telah diduduki selama 30 tahun lebih.

Gelombang demonstrasi mahasiswa dan para aktivis berlangsung di kota-kota besar di Indonesia dalam jumlah dan eskalasi yang kian meningkat. Desakan untuk Soeharto turun dari kursi kekuasaan tak terelak lagi. Tapi pertanyaannya, bagaimana cara dan proses menurunkan Soeharto? Apakah demonstrasi, termasuk yang di depan gedung DPR/MPR kala itu otomatis langsung bisa menurunkan Soeharto? Sementara itu, mereka juga belum pernah demonstrasi di depan Soeharto. Soeharto masih sangat berkuasa ketika gelombang demonstrasi itu berlangsung, bahkan ketika kerusuhan-kerusuhan meruyak di mana-mana.

Jelaslah di sini dibutuhkan satu langkah krusial lagi agar Soeharto bisa turun. Di situlah, Mbah Nun yang juga sedari dulu selalu bersikap kritis dan vokal terhadap kebijakan-kebijakan Orde Baru, mengambil peran di hari-hari penting di bulan Mei 1998 itu, yang tak semua tokoh Reformasi saat itu punya cara untuk meminta Soeharto turun, di mana cara-cara itu tak mungkin keluar dari lembaga negara yang ada seperti DPR atau MPR yang saat itu dianggap bagian dari Orde Baru yang justru harus direformasi.

Tidak mungkin lembaga yang tidak dipercaya ini menggelar Sidang Istimewa yang secara efektif bisa menurunkan Soeharto. Mereka semua masih taat dan takut sama Soeharto. Tidak juga bisa berharap kepada partai politik.


Demikianlah, untuk menerobos kebuntuan itu, pada 16 Mei malam, Mbah Nun beserta Cak Nur, Malik Fajar, Oetomo Danandjaya, dan Drajat rapat merumuskan empat prosedur turunnya Soeharto dengan pertimbangan empat prosedur ini dapat meminimalisasi korban, terutama di pihak rakyat dan mahasiswa, serta efektif secara kenegaraan.

Kemudian esoknya pada 17 Mei 1998, Mbah Nun bersama empat tokoh tersebut menggelar konferensi pers di Hotel Wisata Jakarta untuk menyampaikan dan meminta agar Pak Harto segera turun dari jabatan.

18 Mei 1998, di luar dugaan, atas permintaan Mbah Nun dan empat tokoh ini, Mensekneg Saadillah Mursyid mau dan memberanikan diri untuk menyampaikan usulan serta mekanisme lengser yang telah dirumuskan tadi. Ternyata Pak Harto menyatakan bersedia dan setuju, tetapi meminta ditemani dalam proses turun dari jabatan Presiden. Ini adalah satu tahap krusial yang telah terlampaui dengan baik.

Untuk memberi gambaran situasi ini, Mbah Nun menyitir sebuah ungkapan dari pesantren. Man yualliqul jaros. Silakan dicari sendiri artinya. Intinya, siapa yang mau dan bisa menemui langsung kepada Soeharto yang notabene orang yang masih berkuasa penuh untuk meninggalkan kekuasaannya.

Maka, pada 18 Mei itu, pukul 20.00, Pak Harto menelepon Mbah Nun dan Cak Nur. “Mohon kita ketemu besok untuk menyiapkan agar lengsernya saya tidak menimbulkan guncangan dan korban.”

Tanggal 19 pagi mereka bertemu di Istana. Mbah Nun pinjam sepatu Pak Bahriman, sekarang Guru SMA Muhammadiyah Denpasar, yang saat itu setia menemani Mbah Nun dalam situasi krisis dan genting Reformasi. Pak Harto minta 5 orang ini dilengkapi menjadi 9 orang dari para sesepuh, termasuk KH Ali Yafie dan Gus Dur. Mbah Nun dan Cak Nur meneguhkan saran agar Pak Harto turun dari jabatan Presiden. Pak Harto tertawa lebar ketika Mbah Nun berempati dengan mengemukakan, “Pak Harto tidak jadi Presiden kan “ora pathèken”. Wong sudah 32 tahun menjabat. Cak Nur menambahkan: “Bukan hanya ora pathèken, tapi sudah tuwuk.” Itu bahasa Jombang untuk “sangat puas sampai hampir bosan”.

Begitulah, teman-teman, permintaan dan perumusan prosedur turunnya Pak Harto yang dilakukan Mbah Nun dan empat orang tadi telah diterima oleh Pak Harto. Sebagai proses pembelajaraan kita, kita perlu mengembangkan imajinasi bahwa situasi saat itu yang dilanda semangat besar menurunkan Soeharto menyisakan beberapa hal penting yang tak sempat dipikirkan. Misalnya, kalau Soeharto sudah turun siapakah yang menggantikannya? Apakah orang yang masih dari Orba yang jelas berada posisi tidak Reformasi? Ataukah bagaimana?

Semua orang saat itu tampaknya terfokus hanya pada Soeharto turun, tapi bagaimana tahap setelahnya, tampaknya tak banyak terdengar rumusannya dari para tokoh lain, baik aktivis maupun para mahasiswa. Apa yang diformulasikan Mbah Nun bersama empat orang tadi, dalam konteks ilmu politik sangat patut kita catat karena mengisi celah besar itu. Kita sebagai anak-cucu Mbah Nun perlu belajar lebih dalam mengenai hal ini. Untuk pembelajaran itu, Mbah Nun sejak saat situ sudah menyiapkan tulisan yang telah terhimpun menjadi buku Mati Ketawa Cara Refotnasi dan Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana. Baca dan dalamilah buku itu.

CakNun.com
Baca selengkapnya

BEGINI ANCAMAN NYATA DARI RRC BAGI INDONESIA

BEGINI ANCAMAN NYATA DARI RRC

By Asyari Usman
(Wartawan senior ex BBC Internasional)

Bisakah kita mengatakan bahwa ancaman teritorial dari RRC hanya mitos? Khayalan? Atau hanya paranoia? Bagi Anda yang tak perduli, boleh jadi Anda akan mengatakan begitu. Anda merasa tak mungkinlah RRC mau dan bisa menguasai Indonesia.

Tapi, sebaiknya jangan dulu katakan mitos. Kita semua akan menyesal berkepanjangan. Mari kita cermati angka-angka tentang RRC. Yaitu, angka-angka demografi, ekonomi, konsumsi energi, dan kekuatan militer RRC. Dan kita lihat pula angka-angka tentang Indonesia yang sangat menggiurkan ini.


Kita akan paham mengapa ambisi teritorial China bukan sekadar kekhawatiran tanpa alasan. Kita akan mengerti betapa empuknya Indonesia di mata RRC.

Pertama, angka demografi. Jumlah penduduk RRC per 2019 mencapai 1,400,000,000 (satu miliar empat ratus juta) jiwa. Atau, setiap 7 orang yang ada di Bumi ini, 1 orang adalah warga RRC.

Pada 2018, Biro Statistik Nasional RRC menyebutkan penduduk usia kerja di negara itu berjumlah 900 juta. Tingkat pengangguran 5.3%, atau sekitar 48 juta orang. Ini angka resmi. Biasanya, jumlah yang sesungguhnya dua kali lipat, atau 90 juta.

Kedua, angka ekonomi. RRC memiliki cadangan devisa asing (CDA) lebih 3.8 triliun dollar Amerika pada 2014. Tahun lalu, CDA itu turun ke angka 3 triliun dollar. Supaya mendapat gambaran yang lebih jelas, 3 triliun dollar itu adalah 3,000 (tiga ribu) miliar dollar atau sekitar 42,000 (empat puluh dua ribu) triliun rupiah.

Meskipun turun menjadi 3 triliun dollar, CDA China tetap yang tertinggi di dunia. Sebagai perbandingan, Jepang (posisi ke-2) hanya punya 1.2 triliun dollar. Di tempat ke-3 ada Swiss dengan CDA 800 miliar dollar.

Dana CDA China itu bisa disebut duit tidur. Uang yang menganggur. Inilah yang membuat mereka merasa kuat. Karena mereka punya uang paling banyak.

Ketiga, angka konsumsi energi. Dengan penduduk 1.4 iliar, RRC adalah pengguna tenaga listrik terbesar di dunia, yakni 6.4 triliun kWh per tahun. Konsumsi listrik dunia sekitar 22 triliun kWh per tahun. Konsumen listrik terbesar kedua adalah Amerika Serikat, sebesar 4 triliun kWh per tahun.

RRC pemakai batubara terbesar di dunia atau 50% dari konsumsi global. Negara ini memakai lebih-kurang 4.4 miliar ton batubara per tahun. RRC sekaligus produsen batubara terbesar di dunia, yaitu sebanyak 3.4 miliar ton per tahun. Kalau seluruh produksi dalam negerinya dipakai untuk keperluan mereka, berarti RRC harus mengimpor 1,000,000,000 (1 miliar) ton lagi dari luar.

Batubara adalah sumber energi yang sangat vital bagi China. Sekitar 60% keperluan listriknya dihasilkan dari konversi 4.4 miliar ton batubara itu. Selebihnya adalah kombinasi listrik tenaga nuklir, energi terbarukan, dan sumber-sumber lain.

Bagaimana dengan konsumsi gas RRC? Tahun lalu (2018), China menggunakan gas sebanyak 276.6 miliar meter kubik gas alam cair. Dari jumlah ini, yang harus diimpor 125.4 miliar meter kubik. Tahun ini (2019) konsumsi gas China diperkirakan mencapai 300 miliar meter kubik. Hampir separuhnya (45%) diimpor.

Keempat, angka kekuatan militer RRC. Jumlah personel militer China mencapai 2.7 juta orang. Yang aktif 2.1 juta. Tentara cadangan ada 500 ribu orang.

Angkatan udara RRC memiliki 3,187 pesawat militer. Dari jumlah ini, pesawat tempurnya 1,222 (terkuat kedua di dunia). Pesawat serbu (attack) 1,564. Sedangkan pesawat angkut ada 193. Pesawat latih 368 unit. Helikopter militer ada 1,004 unit. Helikopter tempur 281 unit.

Angkatan darat China memiliki 13,050 tank tampur plus 40,000 kendaraan tempur lapis baja. Artileri mandiri ada 4,000 unit dan artileri tarik ada 6,264 unit. Peluncur roket ada 2,050.

Angkata laut RRC mempunyai 1 kapal induk, 55 frigat, 33 destroyer, 42 korvet, 76 kapal selam, dan 192 kapal patroli.

Baik, sekarang kita lihat angka-angka di atas. Apa kira-kira yang dapat kita simpulkan?

Lebih-kurang seperti ini: RRC adalah negara yang sangat kuat secara ekonomi dan militer, tetapi rawan dalam ketahanan energi dan pengangguran. Kata kuncinya adalah: kuat enonomi, kuat militer. Tetapi haus sumber energi dan lapangan kerja.

Apakah dengan fakta-fakta ini RRC bernafsu mencaplok Indonesia baik dengan cara hegemoni ekonomi maupun pendudukan fisik? Saya berpendapat kedua-duanya sangat mungkin. Mereka akan lakukan itu secara bertahap. Bertahap maksudnya adalah, mereka tancapkan dulu cengkeraman ekonomi di Indonesia. Baru kemudian, sangat mungkin, menyusul kehadiran militer yang akan berlangsung secara mulus dan tak terasa oleh rakyat.

Harap diingat, RRC memiliki ‘proxy’ yang sangat banyak di Indonesia. Mereka kuat secara ekomoni dan finansial. Mereka sangat mampu mengatur penggiringan negara ini ke dalam pelukan China. Hampir pasti mereka akan merasa lebih nyaman kalau RRC hadir secara fisik dengan kekuatan besar di pelosok Nusantara.

Mitoskah? Sama sekali tidak. Nah, bagaimana penjelasan tentang ini? Ikuti bagian kedua dalam postingan yang berikutnya.

RRC memerlukan pasar yang sangat besar karena produksi mereka sangat besar. Pasar besar itu sudah ada. Tapi masih perlu diamankan supaya betul-betul menjadi milik mereka. Dalam rangka mengamankan pasar itulah, RRC mengajak sekitar 70 negara untuk ikut proyek One Belt One Road (OBOR) yang kemudian dinamakan Belt and Road Initiative (BRI). Tak salah disebut ‘jalur sutra gaya baru’ (JSGB). Indonesia sekarang resmi menyerahkan lehernya kepada RRC lewat OBOR.

China tidak hanya membawa dagangannya ke mancanegara, tetapi juga menawarkan pembangunan infrastruktur untuk ekspor dan distribusi produk mereka. Infrastruktur itu dibiayai dengan uang pinjaman dari mereka. Mereka yang mengerjakannya. Termasuk pembangunan pelabuhan, jalan tol, bandara, dan pusat-pusat industri untuk pabrik-pabrik milik China.

Semua negara tergiur. Sekaligus terkicuh. Tergiur, karena janji-janji China tentang manfaat proyek infrastruktur itu. Terkicuh, karena sejumlah negara lemah terjerembab ke dalam perangkap utang RRC. Ini memang tujuan mereka. Begitu terjebak, negara-negara itu tak sanggup membayar cicilan. Dibuatlah ‘deal’: proyek-proyek itu diserahkan kepada RRC selama sekian puluh tahun.

Dari sinilah bermula hegemoni langsung China di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Mereka akan punya banyak pusat industri di negara kita. Ribuan jenis produk dibuat. Fasilitas distribusi mereka bangun dan itu adalah utang negara kita. Sejalan dengan perkembangan ini, RRC sangat mungkin akan mengatakan mereka perlu membawa orang-orang China untuk bekerja di pabrik-pabrik mereka. Ingat, di RRC ada 90 juta penganguran.

Setelah sekian tahun, dimunculkanlah keperluan untuk menjaga sendiri proyek-proyek vital RRC. Sekitar setahun yang lalu (Juli 2018) pernah terungkap ke publik kerjasama Polres Ketapang di Kalbar dengan kepolisian RRC. Sampai-sampai dibuat kantor polisis bersama yang menggunakan papan nama beraksara China. Walaupun Kapolres dicopot, tetapi kita telah menyaksikan betapa mudahnya RRC “mengukur” mentalitas pejabat Indonesia.

Ada contoh kerawanan lain. Masih ingat beberapa warga China bisa bertani cabai di kawasan Kabupaten Bogor? Entah bagaimana, mereka bisa mendapatkan lahan empat hektar untuk bertanam cabai. Hanya karena ada bakteri yang terkandung di cabai itu, baru kemudian ada tindakan dari beberapa instansi terkait.

Lalu, coba juga ingat kasus seorang WNA China yang bisa mendapatkan e-KTP meskipun ada kolom yang menjelaskan dia warganegara RRC. Tapi, bukan tidak mungkin orang ini (namanya Guohui Chen) bisa melakukan lobi-lobi agar status kewarganegaraannya diubah atau dihapus. Inilah antara lain kerawanan di pihak instansi dan para pejabat Indonesia.

Kita lanjutkan lagi. Kalau kehadiran ekonomi RRC sangat besar di negara ini, sangat mungkin mereka merasa perlu membawa pasukan pengamanan sendiri. Yang paling siap dan bisa cepat dikirim adalah militer. Ingat angka militer RRC? Ada 2.7 juta tentara yang sebagian besar ‘menganggur’.

Apa salahnya dikirim beberapa belas ribu personel untuk menjaga proyek-proyek vital RRC di Indonesia? Di sini kita bicara jangka panjang. Mungkin 20-25 tahun yang akan datang. Ketika orang seusia saya hari ini, juga para pejabat eksekutif dan legislatif yang ada sekarang ini, sudah berada di alam kubur semua.

Kalau sudah ribuan atau belasan ribu yang bertugas di negara kita ini, tentulah ada keperluan khusus. Perlu fasilitas sendiri yang ‘dikuasai’ sendiri. Mula-mula nantinya diusulkan pangkalan militer kecil saja dulu di sebuah pulau. Bisa diperbesar sesuai keperluan.

Ada ribuan pulau yang masih kosong. Apa beratnya menyerahkan satu-dua pulau? Bukankah kita punya 17,000 pulau? Apalagi nanti yang mengendalikan negara ini adalah anak-anak milenial hari ini, yang pikirannya sudah ‘terbuka’ dan sudah ‘tunduk’.

Sekarang, coba ingat angka konsumsi gas dan batubara RRC. Diprediksikan mereka harus mengimpor 150 miliar meter kubik gas dari kebutuhan 300 miliar kubik per tahun. Indonesia adalah eksporter gas kedua terbesar di Asia. Masuk 10 besar dunia.

Cadangan gas kita ada sekitar 4 triliun meter kubik. China sudah tahu ini. Tidak perlu ragu mengatakan bahwa mereka telah menyiapkan muslihat untuk mengkooptasi cadangan gas yang sangat besar ini. Proyek OBOR, kekuatan uang, dan kekuatan militer RRC bisa menggiring Indonesia untuk “menjual” simpanan gas kepada Beijing.

Begitu juga batubara. RRC perlu mengimpor 1 miliar ton per tahun. Cadangan batubara (cadangan itu artinya siap untuk ditambang) di bumi Indonesia ini ada 37 miliar ton. Sedangkan sumberdaya batubara (yang bisa berubah menjadi cadangan) sangat besar, yaitu 166 miliar ton. Total persediaan menjadi 200 miliar ton lebih. Sangat menjanjikan, bukan?

Nah, ada cadangan gas dan batubara yang sangat besar di perut bumi Indonesia. Sangat menggiurkan bagi RRC. Pasti. Dan, kalau rezim yang ada ini terus berkuasa, semakin mudahlah China mendapatkan kedua cadangan energi ini. Paling tidak melalui “debt repayment scheme” (skema cicil utang, DRS). Yakni, untuk membayar utang proyek OBOR yang telah ditandatangani.

Tidak pun dengan cara DRS, tetap saja China akan mempelototi cadangan energi kita yang gurih itu. Tak tertutup kemungkinan RRC akan menggunakan “last resort” (cara terakhir) mereka. Yaitu, kekuatan militer. Apakah ini hanya mitos? Sama sekali tidak.

Di masa depan, RRC bisa saja cari gara-gara untuk mengklaim pulau Natuna yang sejauh ini telah menyuplai keperluan gas Singapura. “Ah, si penulis ini terlalu jauh,” kata Anda kepada saya. Itu pertanda Anda sangat percaya kepada China.

Anda lupa bagaimana RRC menduduki Tibet dan Turkistan Timur yang kemudian mereka beri nama Xinjiang. Wilayah yang semula berpenduduk mayoritas suku Uigur itu, sekarang menjadi daerah pendudukan (occupied territory) yang mayoritas dihuni oleh etnis Han. Suku Han dipindahkan besar-besaran oleh China antara 1950-1970. Hari ini Uigur menjadi minoritas.

Begitulah cara RRC mencaplok. Tibet mereka ambil paksa pada 1951. Tentara Rakyat Cina melancarkan penyerbuan atas perintah Mao Tse Tung dengan doktrin komunisme.

Mungkinkah RRC berani menyerbu Indonesia? Saya sendiri berharap itu tidak terjadi. Tetapi, China tidak bisa dipercaya. Dalam situasi sulit, khususnya dalam hal energi, semua opsi akan terbuka. Tidak ada yang bisa dipastikan tak akan terjadi.

Inilah bentuk potensi ancaman RRC terhadap Indonesia. Potensi itu sangat nyata. Cuma, tidak akan segera menjadi kenyataan sebagai mana dulu China menyerbu Tibet dan Tukistan Timur (Xinjiang).

Untuk sementara ini, RRC akan menaklukkan Indonesia melalui perangkap utang atau diplomasi utang. Proyek-proyek OBOR di Indonesia adalah pintu masuk yang sangat menyenangkan bagi China.[]

*Sumber: dari fb penulis (25/5/2019)
Baca selengkapnya

Thursday, 23 May 2019

Jangan ceritakan, apa yang kalian miliki!

*Jangan ceritakan....

Kalian punya mobil mewah seharga 1 Miliar? Tahaaan dulu keinginan kalian posting pamer. Kalian punya rumah megah 10 Miliar? Ups, tahaan dulu nafsu pamernya. Punya baju baru, lagi jalan2 di manalah, sebentar, tahan dulu heboh ingin lapor ke seluruh dunia.

Karena ketahuilah, dulu, ada seorang anak muda, dia bermimpi menjadi orang hebat sekali (bukan cuma punya mobil mewah, rumah megah, jalan2 kemanalah), tapi dia justeru disuruh diam saja.

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”  Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” (Al Qur’an Surah Yusuf Ayat 4-5)

Lihat potongan kalimat di atas. Itu bukan karangan Tere Liye, itu adalah kalimat Tuhan di kitab suci. Bahwa, dulu pernah ada anak muda, namanya Yusuf, dia bermimpi sebelas bintang, matahari dan bulan sujud padanya. Wah, kalau kita yang mimpi begitu, mungkin sudah heboh sekali cerita kemana2, ke keluarga, ke teman, bahkan ke seluruh galaksi Bima Sakti. Tapi apa kata Ayahnya, tutup mulutmu. Jangan ceritakan. Padahal itu Yusuf loh, yg sejak kecil dididik langsung oleh ayahnya Nabi Yakub, pasti hatinya bersih, niatnya pasti mulia kalau dia cerita. Yusuf tetap dilarang cerita oleh Ayahnya.


Maka, tidakkah kita mengambil sebuah hikmah luar biasa dari cerita nyata ini?

Ketahuilah, orang2 yang suka pamer, juga yang selalu bilang ‘saya sih bukan pamer, saya lagi menginspirasi,’ ‘saya lagi berbagi, bukan pamer’, kalian boleh jadi lupa sebuah fakta: sungguh setan itu musuh yang jelas bagi manusia. Kalian lupa kita hidup di dunia ini bukan hanya sendirian. Tidak semua orang sesuci, semulia, dan sehebat kita, yang bisa mengiris secara sempurna, membedakan pamer dengan berbagi dan menginspirasi. Di luar sana, ada manusia lain, dan juga setan. Well, baiklah, kita memang hebat sekali mengelola niat, yakin sejuta persen tidak ada riya, pamer, sombong saat posting hal2 hebat dalam hidup kita, niat kita jauh lebih suci dan hebat dibanding Yusuf, tapi ketahuilah, ada orang lain, ada setan.

Tapi, tapi, tapi kan itu bukan urusan saya. Salah mereka dong yang ngiri, sirik. Toh ini harta2 saya, toh saya memang cantique, memang ganteng, toh ini uang saya sendiri bisa jalan2 ke Mars, dll. Itu benar, sama benarnya dengan ketika Yusuf dijanjikan besok lusa akan membuat sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Itu hak Yusuf, dia sudah ditakdirkan jadi sehebat itu. Tapi apa kata ayahnya: tutup mulutmu, jangan cerita.

Media sosial ini memang menggoda sekali untuk posting. Dikit2 posting. Iseng, posting. Tidak ada kerjaan, posting. Wajah close up kita tak terhitung berapa kali diposting. Anak2 kita, keluarga kita, tak terhitung berapa kali diposting. Perjalanan kita. Prestasi kita. Hal2 hebat kita, diposting semua. Tentu saja boleh sesekali, namanya juga manusiawi. Tapi pahamilah, setan berkeliaran. Jangan sampai, karena hobi posting beginian, kita telah lupa, apakah itu memang pantas diposting, atau hanya nafsu kita agar tetap eksis, diperhatikan, dipuji, dilike dan dikomen orang lain. Kita memang sedang berbagi, atau karena niat lain? Kita sedang menginspirasi atau sedang tak mau kalah? Kita lupa, semua sudah dianggap kebiasaan yang baik2 saja.

Semoga tidak begitu. Semoga masih ada yang mau memikirkannya. Selalu pikirkanlah minimal dua kali sebelum mengumumkan banyak hal di media sosial ini. Apakah ini penting sekali saya umumkan? Apakah ini mendesak sekali? Atau ini hanya agar orang lain bilang wow keren. Atau ini hanya agar orang lain tahu saya sedang ngapain, saya sedang hebat loh ini. Perjalanan wisata misalnya, jika kita memang mau menginspirasi orang lain biar berpetualang, lebih baik tuliskan tips dan trik cara kita bisa ke sana, posting foto2 kerennya tanpa perlu wajah close-up kita muncul. Coba lihat, liputan2 terbaik tentang perjalanan, di majalah2 travel terkemuka, sering nggak penulisnya ikutan selfie di foto? Jarang saya temukan. Pun saat kita sedang berprestasi sekali, jika kita ingin berbagi, cukup bagikan saja informasinya, tidak perlu sampai ditambah2i quote sebagai caption: “maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”, Juga epic sekali saat melihat ada foto yang sedang pamer maksimal betapa cantiknya dia, betapa bagusnya baju dia, eh itu foto dikasih hastag: bajubarunemu, fotobarunemu, fotoisengdoang. Apanya yang iseng, itu foto jangan2 diambil minimal 20 kali, dihapus semua yang 19, baru yang 1 terakhir diposting. Kalau memang iseng, sungguh niat banget isengnya. Atau kita sudah benar2 lupa perbedaannya.

Saya tahu, membaca catatan ini membuat banyak orang tidak nyaman. Ada yang bahkan ‘benci otomatis’ dengan Tere Liye. ‘Benci maksimal’ dengan si lebay Tere Liye. Tapi kalian keliru kalau menyangka saya sedang nyinyir, julid ke kalian, catatan ini justeru sebagai upaya habis2an, agar saya ini selalu ingat tidak ikutan lebay pamer juga. Sekaligus agar sy bisa menunaikan kewajiban saling menasihati. Itu kewajiban semua orang, saling mengingatkan.

Maka, bacalah sekali lagi kalimat2 ini:

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”  Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” (Al Qur’an Surah Yusuf Ayat 4-5)

**Tere Liye
Baca selengkapnya

2019 Jokowi akan biarkan Indonesia jadi negeri Kacung? Prabowo akankah tinggal diam menyaksikan kedaulatan bangsa terancam?

>>>> PILPRES 2019 YANG MENENTUKAN

Oleh: DR. MOEFLICH HASBULLAH
(Pakar Sejarah Islam, Dosen UIN Sunan Gunung Djati)

Mengapa pilpres yang hanya soal pergantian presiden dan kita sudah pengalaman menyelenggarakannya beberapa kali tapi sekarang ini demikian panas, tegang, sulit saling mengalah, kecurangan masif berani terang-terangan? Petahana akan menangkap siapa saja yang dianggapnya provokator bahkan sekarang dibuatkan hukum oleh Wiranto untuk menangkap siapa saja yang menghina Jokowi. Sisi lain, oposan akan mengerahkan gerakan rakyat yang disebut people power walaupun sebuah gerakan damai.

Kata "kalah" sekarang ini, nampaknya tidak akan diterima oleh kedua belah pihak. Apakah kekalahan tidak akan diterima hanya oleh kubu 02? Tidak. Kubu 01 juga sama, suasananya tidak akan menerima kekalahan untuk pilpres kali ini.


Bagi kubu 02, pemilu kali ini penuh rekayasa, karena itulah kecurangan struktural dan masif disiapkan sejak awal, catatannya di tim BPN mencapai ribuan, termasuk membangun opini melalui quick count yang diyakini hanya pesanan semata, hanya konstruksi untuk mempengaruhi pikiran dan mental masyarakat agar hasil pemilu bisa diterima dari hasil quick count dan perhitungan KPU.

Bagi kubu 01, pemilu kali tampaknya tidak bisa terima kekalahan karena diyakininya kelompok Islam radikal menyatu pada kubu 02 yang dituduhkannya akan merubah NKRI dan Pancasila. Prabowo iya nasionalis tapi dia didompleng oleh elemen Islam radikal dan ini membahayakan kelangsungan NKRI. Itulah pikiran di kubu 01. Maka, bagaimana pun caranya, 02 tidak boleh menang walaupun itu kekuatan rakyat.

Kalau soal pemilu biasa yang jurdil dan kondisi negara normal, kubu Jokowi dan kubu Prabowo pasti akan menerima kalah dan menang sebagai hal yang biasa. Tapi mengapa kondisi jadi rumit, panas, tegang dan gawat? Mengapa ada ribuan kecurangan yang dibaca masyarakat dari berita-berita media dan ditonton langsung dari banyak sekali video yang beredar? Mengapa survei dan quick count yang fungsinya membantu menghitung cepat tapi kali ini kontroversial dan tak diterima oleh satu paslon? Berarti ada sesuatu. Itu jawabannya.

Bukankah pada banyak pemilu sebelumnya, kwikkoun tidak jadi masalah? Karena tidak ada nuansa kecurangan apalagi masif. Di pilpres 2019 ini, masalahnya jelas karena pemilunya tidak wajar. Bukankah sepanjang sejarah pemilu Indonesia baru kali ini begitu banyak kecurangan yang disaksikan masyarakat? Mengapa ada korban kematian panitia begitu banyak hingga 550 lebih? Ada apa? Apa artinya? Sekali lagi, artinya ada sesuatu, ada yang tidak wajar, ada misteri yang besar yang sekarang jadi kontroversi. Bukankah mudah saja memahami itu? Diagnosis Ikatan Dokter Indonesia sudah membuktikan mereka bukan mati oleh kelelahan. Kelelahan bukan penyebab langsung kematian. Bila kematian massal itu diautopsi, sebabnya akan terbuka.

Mana mungkin sebuah hasil pemilu akan diterima oleh peserta bila kecurangan begitu banyak? Di negara manapun pasti akan jadi masalah, yang kalah pasti akan protes karena permainan tidak fair, karena pemilu tidak jujur. Ada apa dengan kematian panitia KPPS hingga 500 orang lebih? Apakah ini pemilu yang biasa? Pemilu yg normal dan wajar? Tentu tidak. Semua masyarakat tahu dan merasakan ini pemilu yang tidak biasa, tidak wajar. Kematian massal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, sekali lagi, ada apa dengan pemilu pilpres 2019?

Mengamati dan merasakan ketidakwajaran Pilpres 2019 sebenarnya bukan soal Jokowi lawan Prabowo, bukan hanya soal pergantian presiden, bukan soal Islam moderat dan Islam radikal, bukan soal Pancasila vs Khilafah, bukan soal nasionalisme religius vs nasionalisme sekuler. Bukan soal rebutan kekuasaan antar anak bangsa. Kalau hanya itu semua, pemilu tidak akan segawat dan segenting ini. Dalam banyak hal masyarakat kita sudah terbiasa dan menerima perbedaan.

Maka, jawabannya tidak lain adalah sesuatu yang lebih besar dari sekedar pemilu. Yang lebih besar dari sekedar pergantian presiden yaitu masalah kedaulatan negara dan masa depan bangsa. Hanya, yang satu kubu seperti tidak perduli, tidak menyadari, karena lebih memandang aspirasi politik kelompoknya. Kubu lain tahu, sangat perduli dan melihat urusan yang lebih besar, yaitu soal kedaulatan bangsa dan negara yang sedang tergadaikan. Soal ancaman kepada rakyat yang akan jadi kacung di negerinya sendiri.

Ini era global. Negara-negara besar mencaplok negara-negara lain tidak melalui penjajahan langsung tapi melalui neo-kolonialisme, melalui imperialisme politik yang gejalanya sudah banyak di Indonesia tapi masih juga sulit diyakinkan kepada sebagian masyarakatnya.

Samuel Huntington menjelaskan secara rasional dalam bukunya "The Clash of Civilization and Remaking New Order," bahwa negara-negara raksasa dengan ledakan penduduknya yang sudah tak terkendali di negerinya karena sudah lewat batas, pasti akan mencari sumber-sumber alam dan penghidupan dengan membanjiri negara-negara tetangganya dan menganeksisasi secara ekonomi dan politik. Kolonialisme dulu karena kerakusan, sekarang kolonialisme karena mempertahankan hidup dari negara yang terlalu besar.

Penduduk Cina sekrang sudah sekitar 1,4 milyar yang sumber alamnya sudah tak bisa diandalkan. Bagaimana ia harus mempertahankan hidup? Seperti air, dengan meluber keluar, menganeksasi bangsa-bangsa lain. Dan Cina sudah membuktikan itu dengan jebakan-jebakan utang yang besar yang membuat negara lain tidak berdaya: Tibet sudah jadi negara Cina, Malaysia sudah terlambat untuk bisa lepas dari hegemoni Cina.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman mengungkapkan, Zimbabwe memiliki utang sebesar 40 juta dollar AS kepada China dan tak mampu membayar sehingga harus mengganti mata uangnya menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utang sejak 1 Januari 2016. Nigeria yang disebabkan oleh model pembiayaan melalui utang yang disertai perjanjian merugikan dalam jangka panjang membuat China mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal China untuk pembangunan infrastruktur di Negeria.

Sri Lanka yang juga tidak mampu membayarkan utang luar negerinya untuk pembangunan infrastruktur dan harus melepas Pelabuhan Hambatota sebesar Rp 1,1 triliun atau sebesar 70 persen sahamnya dijual kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China. Angola mengganti nilai mata uangnya. Zimbabwe juga.

Kapan Indonesia sadar?

Hutang Indonesia sudah mencapai 5000an Trilyun dan Indonesia akan kesulitan membayarnya. Satu-satunya cara adalah intervensi Cina harus diterima menghegemoni Indonesia dengan dikte-dikte ekonomi dan politiknya yang kini semakin kuat.

Melalui konglomerasi raksasa, Indonesia harus dibawah kendali mereka. Jokowi dan petahana adalah akses yang bisa diintervensi yang selama menambah terus utangnya hingga titik kritis. Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang sangat berkuasa, sudah menandatangi 23 kontrak proyek dengan Cina untuk memperkuat dan semakin mengunci Indonesia dengan utang.

Liputan Kompas dan banyak media lain mengkhawatir bahaya jebakan hutang ini dan banyak tokoh mengkritiknya. Tapi Wiranto malah menyambutnya dengan membentuk Tim Hukum Nasional yang bernuansa dihidupkannya politik otoriter Orde Baru.

Kesadaran ancaman atas kedaulatan negara disikapi berbeda oleh kedua kubu capres dan masing-masing pendukungnya. Petahana menganggapnya bukan masalah karena mungkin sudah akrab tanpa melihat dampak dan akibatnya, kubu oposisi sangat merasakan ini berbahaya bagi kelangsungan bangsa dan negara.

Kapan keduanya akan menyadari bersama? Mungkin kelak kalau bangsa ini, tanpa sadar dan tidak berdaya, sudah menjadi bagian dari negeri asing. Kita baru akan menyadari ketika kedaulatan sudah hilang di negeri yang dimerdekakan oleh hasil keringat darah rakyat, para pejuang dan para ulama dari 350 tahun kolonialisme.

Maka, siapa pemenang pilpres 2019 akan menentukan apakah Indonesia akan menjadi bangsa kacung dan kekayaan negerinya habis milik asing yang sekarang sebagiannya sudah terbukti atau menjadi negara dan bangsa "baru" yang berdaulat sebagai amanat Pancasila dan UUD 1945. Wallahu a'lam.***
Baca selengkapnya

Wednesday, 22 May 2019

VPN, pengertian, kelebihan dan kekurangannya!

Bacaan pengantar tidur. Buat yang hari ini sempat install VPN. Saya copaskan sebagian ya...

🌷🌷🌷

VPN singkatan dari "Virtual Private Network" (Jaringan Pribadi Virtual), adalah sebuah koneksi jaringan pribadi yang melalui jaringan publik (dalam hal ini internet) dengan menggunakan aturan (protocol) tertentu. Yah, namanya juga jaringan pribadi, maka tidak bisa diakses untuk umum. 

VPN memungkinkan komputer kita terhubung ke jaringan pribadi melalui internet (atau jaringan publik lainnya), dan bertukar data dengan komputer lainnya di dalam jaringan aman seolah-olah secara fisik merupakan bagian dari jaringan tersebut.

Hal ini bisa dicapai dengan membentuk koneksi terenkripsi dengan komputer jarak jauh (remote) dan "mengarahkan" semua trafik melalui koneksi tersebut. Layanan VPN biasanya sering mengacu kepada penyedia konektivitas VPN yang digunakan untuk mengarahkan semua trafik internet agar melewati ISP lokal.


VPN tidak hanya memungkinkan kita bisa mengakses konten-konten yang diblokir (misal oleh pemerintah), tetapi VPN juga bisa memproteksi keamanan koneksi internet kita. Dengan VPN kita jadi seolah-olah membuat jaringan di dalam jaringan atau biasa disebut dengan tunnel (terowongan).

Untuk dapat bekerja, VPN membutuhkan sebuah server yang berfungsi sebagai penghubung. Server VPN ini bisa berupa komputer dengan aplikasi VPN Server atau sebuah Router. Lalu komputer dengan aplikasi/tools VPN Client mengontak VPN Server, VPN Server kemudian memverifikasi data, dan jika berhasil maka VPN Server memberikan IP Address baru kepada komputer client, selanjutnya sebuah "tunnel" akan terbuka.

Setelah itu, komputer client bisa digunakan untuk mengakses berbagai resource yang berada di belakang VPN Server, seperti melakukan transfer data, sampai browsing dengan "gerbang" yang telah diberikan oleh VPN Server, dan lain sebagainya. Layanan VPN bisa kita dapatkan di smartphone maupun PC.

Plus (+)

Kita bahas kelebihannya dulu...

Dengan VPN, lalu lintas personal kita dienkripsi dan dikirimkan dengan aman melalui internet. Ini juga menjaga kita agar tetap aman dari bahaya yang mengancam di internet.

VPN bisa mempersulit para peretas untuk melihat atau mengganggu komunikasi pribadi atau bisnis kita.

Kita bisa menjelajahi internet sebagai anonim dengan aman dari mana saja. Kita bisa mengakses apa saja yang ada di internet tanpa takut diketahui oleh orang lain.

Layanan VPN dibuat berbeda, tergantung kebutuhan. Kita bisa pilih, ada yang gratis, ada juga yang perlu biaya bulanan atau tahunan (dengan segala kelebihan fiturnya).

Menggunakan VPN jauh lebih murah ketimbang menggunakan bentuk konfigurasi keamanan lainnya.

Kita tidak perlu memikirkan masalah pemasangan perangkat keras (hardware) untuk keamanan.

"User-friendly." Kita tidak butuh bantuan profesional untuk penyiapan atau pemasangan.

Bagi pengguna pribadi, layanan VPN terpercaya (berbayar) akan menganggap kebutuhan individual sebagai masalah penting (prioritas).

Kita bisa mengakses konten-konten yang dibatasi secara geografis, termasuk situs-situs streaming yang diblokir di negara tertentu. VPN sangat ideal dipakai apabila kita ingin streaming dari lokasi negara-negara yang dilarang.

Minus (-)

Lalu kekurangannya?

Bila VPN tidak dipersiapkan secara benar, sering terjadi kebocoran DNS dan IP, tentu ini akan mempermudah para peretas untuk mengakses informasi kita.

Ada banyak sekali protokol keamanan yang bisa dipilih, mungkin kita tidak tahu mana yang terbaik.

Kebanyakan orang menggunakan layanan VPN gratis, padahal VPN gratis memiliki tingkat keamanan yang cenderung minim, tidak seperti VPN berbayar. Sebenarnya ini bisa berisiko terhadap keamanan dan privasi kita.

Layanan VPN gratis rawan disusupi malware atau virus yang kemungkinan bisa menyerang jaringan kita.

VPN tidak melindungi kita dari ancaman phising (penipuan) atau keylogger.

VPN bisa berbiaya lebih murah atau mahal tergantung dari fasilitas yang diberikan penyedia layanan VPN. Lamanya waktu berlangganan juga bisa mengubah harganya.

Ada batasan jumlah koneksi yang diperbolehkan. Seperti membatasi jumlah peralihan server, dan kecepatan akses yang diberikan.

Koneksi internet (jaringan publik) tidak bisa kita prediksi. Namanya kita cuma "nebeng" koneksi pada jaringan pihak lain, sehingga otomatis kita tidak punya kontrol terhadap jaringan tersebut.

Pada penggunaan jaringan publik, kita perlu waspada terhadap kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyadapan, hacking dan tindakan cyber crime pada jaringan VPN.

Beberapa situs web akan mengubah sebagian konten atau keseluruhan situs web tergantung pada lokasi server yang kita pilih.

Banyak situs-situs streaming sekarang sudah menyadari akan layanan VPN dan sudah mempersiapkan blokir untuk menghentikan atau mengurangi akses ke konten terbatas di negara tertentu.

Oleh segelintir oknum, VPN juga bisa digunakan untuk aktivitas ilegal yang akan membuat reputasi layanan VPN menjadi buruk.

Sayangnya, karena "kebebasan" akses ini kebanyakan orang malah menggunakan VPN untuk tujuan mengakses konten-konten terlarang.

Baca selengkapnya

Tuesday, 21 May 2019

PRABOWO TIDAK PERNAH KALAH!

PRABOWO TIDAK PERNAH KALAH!

“Bahwa kami, saya Azis Subekti dan sebelah saya Didi Hariyanto sebagai saksi dari BPN 02 menyatakan menolak hasil Pilpres yang telah diumumkan. Penolakan ini sebagai monumen moral bahwa kami tidak menyerah untuk melawan ketidakadilan, untuk melawan kecurangan, untuk melawan kesewenang-wenangan, untuk melawan kebohongan, dan untuk melawan tindakan-tindakan apa saja yang akan mencederai demokrasi!”

Kutipan di atas adalah pernyataan saksi dari BPN 02 yang sedari awal memang memutuskan menolak hasil Pemilu ini. Mantap bener pernyataan tersebut. Saya suka. Tapi saya sempat cemas, jangan-jangan partai-partai koalisi Prabowo-Sandi akan menandatangani hasil rekapitulasi KPU tersebut.

Namun akhirnya saya lega. Karena sesuai dengan harapan saya, PAN, PKS dan Gerindra juga tidak mau tandatangan. Bagaimana dengan Demokrat? Abaikan saja partai yang satu ini. Dari awal posisinya memang tidak jelas. Selalu begitu sejak 2014.


Jujur saya tidak kaget dengan keputusan KPU. Pun saya tidak sedih sama sekali. Sebab Koalisi Adil Makmur bukan kalah. Tapi dikalahkan!

Dari awal KPU sudah memulai pekerjaannya dengan tidak profesional. Mulai pembuatan kotak suara kardus yang sangat rapuh: Lapuk terkena banjir air. Hangus dibakar.

17,5 Juta DPT fiktif. Sudah diakui KPU dan katanya sudah diperbaiki. Namun nyatanya hingga hari pencoblosan DPT tersebut masih ada. Dari sinilah awal penggelembungan suara itu!

Keterlibatan Lembaga Survey yang tidak pernah mau membuka sumber dananya. Sudah diputuskan salah oleh Bawaslu, tapi tidak jelas sanksinya.

Entri data pada Situng yang bermasalah. Juga sudah diputus salah oleh Bawaslu, tapi sekali lagi pun tidak jelas sanksinya.

Sampai saat mengumumkan hasil rekapitulasi hasil Pemilu pada jam yang tidak wajar: Jam 2 dini hari. Seperti tukang garong aja!

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jadi ketidak-profesionalan KPU ini sebenarnya bukan karena mereka tidak becus bekerja. Tapi seperti pelaksana pesananan yang sekedar memenuhi pesanan saja.

Jadi untuk apa heran dengan hasil yang sudah dirilis KPU. Pun janganlah kita bersedih. Justru semua perilaku KPU tersebut jadikanlah sebagai bahan bakar yang mengobarkan bara!

Sudah tepat Prabowo tidak akan menggugat ke MK. Karena itu sia-sia. Makanya Prabowo-Sandi mengembakikan kepada rakyat sebagai pemilik mandat dan kedaulatan yang sesungguhnya.

Jakarta, 21 Mei 2019

Ustadz Abrar Rifai
(Pompes Babul Khairat Malang)
Baca selengkapnya

Monday, 20 May 2019

Kalian sudah kalah. Itu yang dikatakan Fir'aun ketika Nabi Musa as sampai di tepi laut merah. Tak ada jalan lagi.

Kalian sudah kalah. Itu yang dikatakan Fir'aun ketika Nabi Musa as sampai di tepi laut merah. Tak ada jalan lagi.

Kalian sudah kalah. Itu yang dikatakan raja Namrudz ketika Nabi Ibrahim as dibakar di dalam lapangan api yang luas.

Kalian sudah kalah. Itu yang dikatakan pasukan Ahzab ketika mereka mengepung Nabi Muhammad saw di dalam kota madinah.


Menyerahlah, itu yang dikatakan oleh pasukan Mongol kepada Saifudin Quthuz ketika mereka akan masuk ke Mesir, setelah meluluhlantakkan ibukota muslim di Irak.

Menyerahlah, itu yang dikatakan oleh pasukan NICA  ketika mereka mengepung Kota Surabaya dengan pasukan dan peralatan perang yang sangat besar.

Tapi sejarah mencatat siapa yang tenggelam, siapa yang mati mengenaskan, siapa yang hancur setelahnya.

Kita mungkin akan kalah. Tapi kita juga bisa menang. Tapi kita tidak akan menyerah. Karena kita bersama di jalan yang ditempuh ulama. Mereka pewaris nabi. Mereka mewarisi keberkahannya. Dan mereka juga mewarisi pahit getirnya perjuangan para nabi.

Orang bilang jangan terlalu berharap. Tapi Allah menyuruh kita berharap pada-Nya. Maka tetaplah pada posisi masing-masing. Sampai Allah menetapkan janji-Nya.

By : Ustadz Satria Hadilubis
Baca selengkapnya

KETIKA DICURANGI KAFIR QURAISY MAKA NABI MUHAMMAD MENOLAK BERDAMAI DAN SIAPKAN PEOPLE POWER 10 000 PRAJURIT KEPUNG KOTA MEKKAH

KETIKA DICURANGI KAFIR QURAISY MAKA NABI MUHAMMAD MENOLAK BERDAMAI DAN SIAPKAN PEOPLE POWER 10 000 PRAJURIT KEPUNG KOTA MEKKAH

Rosul pun melawan kecurangan

Tahun 630 M tepatnya pada tahun ke 8 Hijriah, kaum musyrik Quraish mencurangi aturan main dalam kesepakatan Hudaibiyah.

Rosulullah pun tidak bisa lagi mentolelir kelakuan musyrik Quraish yg sudah berulang kali berbuat tidak fair dan melanggar aturan yg telah disepakati bersama.

Abu Sufyan, salah satu pemimpin Quraish datang ke Madinah, mencoba melakukan negosiasi agar Rosulullah mau menerima kecurangan musyrik Quraish. Rosul menolak, lalu Abu Sufyan mencoba melobi Abu Bakar, Umar dan Ali, hasilnya sama: Gagal!

Rosulullah sdh pada titik tidak bisa lagi di lobi.. Quraish sudah keterlaluan, jika dibiarkan terus maka kecurangan dan kesewenang-wenangan akan menang. Maka pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 H atau 630 M itu Rosulullah menyiapkan pasukan besar, menyiapkan People Power!!

10000 massa yg terdiri dari kaum muhajirin dan Anshor bergerak dari Madinah menuju Makkah. Setiap lewat suatu kabilah, warga kabilah itu ikut bergabung, akhirnya jumlah yg ikut semakin banyak.. Jadilah aksi massa yg terbesar yg belum pernah ada sebelumnya..


Tapi Rosulullah datang ke Makkah dengan begitu banyak massa yg mengikutinya, menggerakkan People Power bukanlah utk membuat kerusuhan atau kekacauan.

Justru sebaliknya, utk memastikan kedamaian terjadi dengan menolak perjanjian yg telah dicurangi musyrik Quraish.

Rosulullah memasuki kota Makkah dan berkata, "siapa yg masuk ke masjid maka mereka aman, siapa yg masuk ke rumah Abu Sufyan maka mereka aman, siapa yg berdiam diri di rumah dan menutup rapat pintu-pintunya maka mereka aman"

Rosulullah pun menduduki kota Makkah tanpa perlawanan, tanpa setitik darahpun yg tumpah. Lalu Rosul keliling ka'bah dan menghancurkan semua berhala yg telah melalaikan manusia pada Tuhan nya.

Rosulullah pun membaca ayat, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’: 81).

Jadi, People Power dilakukan di bulan ramadhan dengan damai. Bukan utk membuat kerusuhan, justru utk menegakkan keadilan dan membebaskan Makkah dari berhala yg melalaikan.

Tidak ada pertumpahan darah di Makkah, karena memang rakyat Quraish tdk diprovokasi utk melakukan perlawanan, disamping juga mereka sudah gentar melihat People Power yg sangat dahsyat, tidak ada yg berani menyulut konflik horisontal, apalagi melakukan perlawanan dgn mengirim anjing-anjing peliharaan.

Bangkit Mari Berjuang Berjihad Membela Kebenaran

Nabi Muhammad bersabda :

افضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

Jihad yang paling tinggi adalah membela kebenaran didepan penguasa yang zalim
 ( HR Abu Dawud )
Baca selengkapnya

Sunday, 19 May 2019

SEJARAH NABIYULLAH SYAM'UN AL-GHAZI AS (SAMSON) DAN HUBUNGANNYA DENGAN ASAL MUASAL LAILATUL QADR

SEJARAH NABIYULLAH SYAM'UN AL-GHAZI AS (SAMSON) DAN HUBUNGANNYA DENGAN ASAL MUASAL LAILATUL QADR

Nabi Syam’un al-Ghazi As, memiliki beberapa nama; dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam'un.
dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon,
dalam bahasa Tiberias, disebut Šhimšhôn;
dalam Alkitab Nasrani, disebut Samson.
Nama Syam’un sendiri artinya "yang berasal dari matahari”, sedangkan al-Ghozi, artinya “yang berasal dari Ghazi” (Ghaza,Palestina sekarang).

Suatu ketika Nabi Muhammad saw, Berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan.
Nabi Muhammad SAW, terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya
“Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”"
Beliau menjawab,
“Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan dipadang mah’syar, ada seorang Nabi yang membawa pedang dan tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Syam'un”.


Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Al Ghozi AS,
beliau adalah Nabi yang berasal dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi.
Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT.
Nabi Syam’un al-Ghozi as. adalah seorang pahlawan berambut panjang yang memiliki
kemukjizatan dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana.

Baca juga :

Kisah Adzan Terakhir Bilal bin Rabah yang tidak pernah terselesaikan! 

Syam’un memiliki senjata semacam pedang yang terbuat dari tulang rahang unta
bernama Liha Jamal, dengan pedang itu dia dapat membunuh ribuan orang kafir.
Siapapun musuh yang berhadapan dengannya, pasti akan hancur dengan pedang ajaibnya.
Tidak hanya itu, bahkan ketika dia merasa haus dan lapar, dengan perantara pedangnya pula Allah memberikan makanan dan minuman.

Syam'un seorang muslim dan seorang yang ahli ibadah yang sangat disegani oleh kaum kafir.
Sudah tak terhitung lagi orang kafir yang mati di tangannya. Selain itu, Syam'un juga ahli ibadah dan tercatat ia sanggup beribadah selama 1000 bulan dengan shalat malam dan siangnya berpuasa, dimana selama 1000 bulan tak pernah lepas dari shalat malam dan siangnya selalu berpuasa.

Samson adalah seorang pembela agama tauhid (meng Esa kan 1 tuhan / ALLAH),
berperang melawan kaum kafir selama 1000 bulan, hanya berbekal tulang dagu unta sebagai senjata, tidak memiliki senjata lain.
Setiap kali menghantam kaum kafir dengan janggut untanya, terbunuhlah banyak kaum kafir dalam jumlah yang tidak terhitung.

فَإِذاَ عَطَسَ يَخْرُجُ مِنْ مَوْضِعِ الأَسْناَنِ ماَءُ عَذَبٍ فَيَشْرِبَهُ , وَإِذاَ جاَعَ يَنْبُتُ مَنْهُ لَحْمٌ فَيَأْكُلَهُ ,
فَكاَنَ عَلَى هَذاَ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى مَضَى مِنْ عُمْرِهِ أَلْفَ شَهْرٍ وَهِىَ ثَلاَثُ وَثَمَانُوْنَ سَنَةً وَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ ,
فَعَجَزَ الكُفاَرُ عَنْ رَدِّهِ , فَقاَلُوْا ِلإِمْرَأَتِهِ وَهِىَ كاَفِرَةٌ إِنّاَ نُعْطِيْكِ أَمْواَلاً كَثِيْرَةً إِنْ قَتَلْتِ زَوْجَكِ , قاَلَتْ أَناَ لاَأَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ

Dengan hanya bersenjatakan tulang rahang seekor unta yang di bentuk menyerupai sebuah
pedang pendek yang tajam, Nabi berperang melawan bangsa yang menentang Allah SWT,
dengan penuh keberanian dan selalu dapat mengalahkan mereka.
Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa
kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil.
Menghadapi kesaktian Nabi Syam’un al-Ghozi as, membuat para kafirun kewalahan.
Mereka mencari jalan untuk bisa menundukkannya.
Dengan segala kehebatannya itu, ia dibenci oleh para musuh, terutama dari golongan orang kafir.

Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un.
Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi,
akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah. Akhirnya ide licik-pun ditemukan.

Mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi
(Istri samson), dengan syarat ia bersedia melumpuhkan suaminya.
Istri Nabi yang ternyata seorang kafir, sangat tergiur oleh hadiah itu. Mereka kemudian memanfaatkan Istri Syam’un, untuk ikut membantu membunuh Syam’un.
Setelah dirayu dengan imbalan yang menggiurkan, sang istri mengiyakan ajakan kaum kafir untuk membunuh Syam’un suaminya sendiri karena ada iming-iming harta benda yang banyak, si istri akhirnya mau melakukan kejahatan itu.

فَقاَلُوْا نُعْطِيْكِ حَبْلاً شَدِيْداً فَشَدِّى بِهِ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فىِ نَوْمِهِ وَنَحْنُ نَقْتُلُهُ ,
فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ فىِ نَوْمِهِ فاَسْتَيْقَظَ فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟
فَقاَلَتْ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ الحَبَلُ , ثُمَّ جاَءَ الكُفاَرُ بِسِلْسِلَةٍ فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ بِهاَ فاَسْتَيْقَظَ ,
فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ قاَلَتْ أَناَ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ السِّلْسِلَةُ

Maka orang kafir memberikan ide agar dia mengikat tangan dan kaki Syam’un sewaktu tidur, untuk kemudian akan dibunuh dengan beramai-ramai.

Para pembesar2 Kafir berkata,
"Kami akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur,
nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya."

Pada hari pertama istri Syam'un gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan shalat malam.
Lama waktunya itu sehingga membuat istri Syam'un tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Memang Syam'un tidurnya hanya sedikit saja dalam semalam. Dimana malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Keesokan harinya, istri Syam'un lapor kepada orang-orang  kafir.  bahwa dia belum berhasil
mengikat tangan dan kaki suaminya. Mereka tidak mempermasalahkan hal ini.

Pada hari kedua istri Syam'un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat. Tatkala Syam'un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT,
ia terkejut karena kedua kakinya terikat.
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku dengan tali ini?" tanya Syam'un kepada istrinya.
"Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sampai sejauh mana kekuatanmu," ujar istrinya.

Syam’un dengan mudah dapat melepaskan tali yang mengikatnya dengan satu ucapan doa.
Kemudian Syam'un lalu bergegas menuju tempat peribadatannya. Maka gagallah rencana pembunuhan pada hari kedua itu.
Namun, setelah itu, musuh-musuh kafir datang lagi dengan membawa rantai dan
istri Syam'um siap mengikat suaminya lagi pada keesokan malamnya.

Pada hari ketiga istri Syam'un di hari ketiga itu berhasil lagi mengikat suaminya dengan rantai
yang diberikan oleh orang-orang kafir.
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku kali ini?" tanya Syam'un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur.
"Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu," jawab istrinya.
Namun, dengan sekali hentakan Syam’un dapat menghancurkan rantai tersebut.

Lalu Syam'un segera menarik tangannya dan memotong rantai itu. Kemudian istrinya pun segera membujuk suaminya agar mau menceritakan rahasia kekuatan tubuh yang dimiliki suaminya. Akhirnya Syam'un bercerita juga, jika sebenarnya ia adalah seorang wali dari sekian banyak WALIYULLAH yang hidup di dunia ini.

Sam’un berkata
“Wahai istriku aku wali diantara wali kekasih Allah, segala perkara dunia ini tidak ada yang
sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut panjang ini, ketahuilah bahwa tidak ada
seorang pun yang mampu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini,"
jelas Syam'un.

Syam'un memang memiliki rambut yang panjang dan panjangnya digambarkan
bahwa ujung rambutnya akan menyentuh tanah saat Syam'un berdiri.

Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya pada saat syamun tidur mulailah istrinya mengikat tangan Syam'un dengan 4 helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan 4 helai rambut milik Syam'un, sementara ia tetap dalam tidurnya.
Setelah bangun, Syam'un bertanya,
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku ini?"
"Aku, untuk mengujimu," jawab istrinya yang mulai ketakutan.

Setelah itu Syam'un berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan itu,
namun dia tidak berdaya untuk memotongnya.
Si istri langsung saja memberitahukan kepada kaum kafir tentang hal ini.

Nabi Syam’un al-Ghozi as lalu dibawa ke istana kehadapan raja para kafirun. lalu diikat pada tiang utama istana dan dipertontonkan kepada khalayak istana. Mulailah mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya.
Tidak hanya itu, Nabi juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya, Mereka menyiksa Nabi dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan. Istrinya yang jahat, ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belas kasihan.

Begitu hebatnya siksaan tersebut, membuat Allah SWT lewat perantaraan malaikat jibril
berbicara dengan suaranya yang hanya bisa didengar oleh Nabi Syam’un al-Ghozi as,
“Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.”

Nabi menjawab,
Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini,
dan akan kuhancurkan mereka dengan kekuatan dari Allah !.
Bismillah. La haula wa la quwwata illa billah!

Do’a Nabi Syam’un al-Ghazi as diKabulkan Allah SWT. Allah SWT memberi kekuatan
kepada Syam'un yang kekuatannya tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan dari rambutnya sendiri. Maka dengan seizin Allah, Nabi Syam’un al-Ghazi as. menggoyangkan tiang istana tersebut, Syam'un hanya beringsut sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan dan tiang itupun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. Tiangnya juga ikut roboh dan hancur lebur. istana yang dijadikan tempat pembantaian itu juga turut hancur dan atapnya menimpa orang-orang kafir dan semuanya mati.

Begitu juga dengan istrinya, juga ikut tertimpa reruntuhan gedung istana raja kafir.
Mereka semua mati tertimpa reruntuhan bangunan istana dan terkubur didalamnya.
Hanya Syam’un sendiri yang selamat, lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan
yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya.

فَبَعْدَ ذَلِكَ عَبَدَ اللهَ أَلْفَ شَهْرٍ مَعَ قِياَمِ لَيْلِهاَ وَصِياَمِ نَهاَرِهاَ , فَضَرَبَ بِالسَّيْفِ فىِ سَبِيْلِ اللهِ

Setelah peristiwa itu, Nabi Syam’un al-Ghozi as. bersumpah kepada Allah SWT akan menebus
semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1000 bulan tanpa henti. Nabi menyibukkan diri dalam beribadah kepada Allah. Malam hari dilalui dengan memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa.
Nabi menjalankan ibadahnya selama seribu bulan hingga ajalnya tiba.

Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un al-Ghozi as, para sahabat Nabi Muhammad saw
menangis terharu, bertanya sahabat kepada Nabi Muhammad SAW.
“Ya Rasullulah, tahukah baginda akan pahalanya?”
Jawab Rasulullah,
“Aku tidak mengetahuinya.”

فَأَنْزَلَ اللهُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ (القَدْرِ)
وَقاَلَ ياَمُحَمَّدْ أَعْتَيْطُكَ وَأُمَّتَكَ لَيْلَةَ القَدْرِ العِباَدَةُ فِيْهاَ أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةِ سَبْعِيْنَ أَلْفِ شَهْرٍ

Setelah Rasulullah selesai berkisah,
Allah SWT menyuruh Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan
menurunkan Surat Al Qadr.
"Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadar kepadamu dan umatmu, ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1000 bulan," ujar Malaikat Jibril.

Allah SWT berfirman: Surat Al-Qadar ayat 1-5:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ٢
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ٣
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ٤
سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥

Artinya:
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Mendengar berita itu, Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berburu
malam Lailatul Qadar agar mendapatkan pahala seperti yang Allah AWT
berikan kepada Waliyullah Syam'un Al-Ghazi.

Apabila fajar telah terbit di malam qadar, maka malaikat Jibril berkata:
"Wahai para malaikat, kumpul kemari"
Para malaikat berkata "Ya Jibril apa yang Allah perbuat untuk kaum muslimin di malam ini
dari ummat Nabi Muhammad SAW ? "
Jibril menjawab "Sesungguhnya Allah memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang, Allah memaafkan serta ngampuni dosa-dosa mereka, kecuali empat kelompok. "
Para malaikat bertanya "Siapa empat kelompok itu ? "
Jibril menjawab " Pertama, orang yang membiasakan diri minum arak, mabuk-mabukan. Kedua, Orang yang durhaka kepada orang tua. Ketiga, orang yang memutus silaturrahmi. Keempat, orang yang bertengkar,
yaitu pertengkaran dengan sesama yang belum damai dalam jangka waktu tiga hari. "

sumber:
-DurrAtun Nasihin" pada Bab Lailatul Qadr.
-Kitab Muqasyafatul Qulub.
-Kitab Qishashul Anbiyaa.

Disalin dari fanspage "sastra dam syair sufi"
Baca selengkapnya

PENYERBUAN BANGSA MONGOL KE JAWA

PENYERBUAN BANGSA MONGOL KE JAWA

Setelah meruntuhkan kerajaan Tang, orang-orang Mongol kemudian mendirikan sebuah pemerintahan baru yang diberi nama Sung (Song). Salah satu anak Genghis Khan, sang penakluk kerajaan Cina, bernama Kublai Khan menjadi raja pertamanya.

Keinginan untuk memperluas pengaruh bangsa Mongol setelah menjajah Cina adalah menundukkan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur dengan menggunakan kekuatan militer dan politik.

Caranya dengan meminta para penguasa lokal untuk mengakui kaisar Mongol sebagai penguasa tunggal dan mengharuskan raja-raja lokal tersebut untuk mengirim upeti (tribute) kepada kaisar Cina. Salah satunya adalah ke Jawa yang kala itu diperintah oleh Raja Kartanagara dari kerajaan Singhasari.


Untuk maksud tersebut, Kublai Khan mengirim seorang utusan bernama Meng Chi ke Jawa meminta raja Kartanagara untuk tunduk di bawah kekuasaan Cina. Merasa tersinggung, utusan itu dicederai wajahnya oleh Kartanagara dan meingirimnya pulang ke Cina dengan pesan tegas bahwa ia tidak akan tunduk di bawah kekuasaan raja Mongol. Perlakuan Kartanegara terhadap Meng Chi dianggap sebagai penghinaan kepada Kublai Khan. Sebagai seorang kaisar yang sangat berkuasa di daratan Asia saat itu, ia merasa terhina dan berniat untuk menghancurkan Jawa yang menurutnya telah mempermalukan bangsa Mongol.

Peristiwa penyerbuan ke Jawa ini dituliskan dalam beberapa sumber di Cina dan merupakan sejarah yang sangat menarik tentang kehancuran kerajaan Singhasari dan munculnya kerajaan Majapahit, seperti yang dapat kita baca dalam buku nomor 162 dari masa pemerintahan Dinasti Yuan yang terjemahannya dapat dibaca dalam buku W.P. Groeneveldt berjudul Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources (1963: 20-31).


Disebutkan bahwa utusan yang dikirim ke Jawa terdiri dari tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, dan Kau Hsing. Hanya Kau Hsing yang berdarah Cina, sedangkan dua lainnya adalah orang Mongol. Mereka diberangkatkan dari Fukien membawa 20.000 pasukan dan seribu kapal. Kublai Khan membekali pasukan ini untuk pelayaran selama satu tahun serta biaya sebesar 40.000 batangan perak. Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang. Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab untuk menyiapkan perbekalan dan kapal. Pasukan besar ini berangkat dari pelabuhan Chuan-chou dan tiba di Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293. Di sini mereka mempersiapkan penyerangan ke Jawa selama lebih kurang satu bulan.

Perjalanan menuju Pulau Belitung yang memakan waktu beberapa minggu melemahkan bala tentara Mongol karena harus melewati laut dengan ombak yang cukup besar. Banyak prajurit yang sakit karena tidak terbiasa melakukan pelayaran. Di Belitung mereka menebang pohon dan membuat perahu (boats) berukuran lebih kecil untuk masuk ke sungai-sungai di Jawa yang sempit sambil memperbaiki kapal-kapal mereka yang telah berlayar mengarungi laut cukup jauh.

Pada bulan kedua tahun itu Ike Mese bersama pejabat yang menangani wilayah Jawa dan 500 orang menggunakan 10 kapal berangkat menuju ke Jawa untuk membuka jalan bagi bala tentara Mongol yang dipimpin oleh Shih Pi. Ketika berada di Tuban mereka mendengar bahwa raja Kartanagara telah tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang kemudian mengangkat dirinya sebagai raja Singhasari.

Oleh karena perintah Kublai Khan adalah menundukkan Jawa dan memaksa raja Singhasari, siapa pun orangnya, untuk mengakui kekuasaan bangsa Mongol, maka rencana menjatuhkan Jawa tetap dilaksanakan. Sebelum menyusul ke Tuban orang-orang Mongol kembali berhenti di Pulau Karimunjawa untuk bersiap-siap memasuki wilayah Singhasari. Setelah berkumpul kembali di Tuban dengan bala tentara Mongol.

Diputuskan bahwa Ike Mese akan membawa setengah dari pasukan kira-kira sebanyak 10.000 orang berjalan kaki menuju Singhasari, selebihnya tetap di kapal dan melakukan perjalanan menggunakan sungai sebagai jalan masuk ke tempat yang sama. Sebagai seorang pelaut yang berpengalaman, Ike Mese, yang sebenarnya adalah suku Uigur dari pedalaman Cina bukannya bangsa Mongol, mendahului untuk membina kerja sama dengan penguasa-penguasa lokal yang tidak setia kepada Jayakatwang.

Menurut cerita Pararaton, kedatangan bala tentara Mongol (disebut Tartar) adalah merupakan upaya Bupati Madura, Aria Wiraraja, yang mengundangnya ke Jawa untuk menjatuhkan Daha. Aria Wiraraja berjanji kepada raja Mongol bahwa ia akan mempersembahkan seorang puteri cantik sebagai tanda persahabatan apabila Daha dapat ditundukkan. Surat kepada raja Mongol disampaikan melalui jasa pedagang Cina yang kapalnya tengah merapat di Jawa (Pitono, 1965: 44).

Armada kapal kerajaan Mongol selebihnya dipimpin langsung oleh Shih Pi memasuki Jawa dari arah sungai Sedayu dan Kali Mas. Setelah mendarat di Jawa, ia menugaskan Ike Mese dan Kau Hsing untuk memimpin pasukan darat. Beberapa panglima “pasukan 10.000-an” turut mendampingi mereka. Sebelumnya, tiga orang pejabat tinggi diberangkatkan menggunakan ‘kapal cepat’ menuju ke Majapahit setelah mendengar bahwa pasukan Raden Wijaya ingin bergabung tetapi tidak bisa meninggalkan pasukannya. Melihat keuntungan memperoleh bantuan dari dalam, pasukan Majapahit ini kemudian dijadikan bagian dari bala tentara kerajaan bangsa Mongol.

Untuk mempermudah gerakan bala tentara asing ini, Raden Wijaya memberi kebebasan untuk menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kekuasaannya dan bahkan memberikan panduan untuk mencapai Daha, ibukota Singhasari. Ia juga memberikan peta wilayah Singhsari kepada Shih Pi yang sangat bermanfaat dalam menyusun strategi perang menghancurkan Jayakatwang.

Selain Majapahit, beberapa kerajaan kecil (mungkin setingkat provinsi di masa sekarang) turut bergabung dengan orang-orang Mongol sehingga menambah besar kekuatan militer sudah sangat kuat ketika berangkat dari Cina. Persengkongkolan ini terwujud sebagai ungkapan rasa tidak suka mereka terhadap raja Jayakatwang yang telah membunuh Kartanegara melalui sebuah kudeta yang keji.

Pada bulan ketiga tahun 1293, setelah seluruh pasukan berkumpul di mulut sungai Kali Mas, penyerbuan ke kerajaan Singhasari mulai dilancarkan. Kekuatan kerajaan Singhasari di sungai tersebut dapat dilumpuhkan, lebih dari 100 kapal berdekorasi kepala raksasa dapat disita karena seluruh prajurit dan pejabat yang mempertahankannya melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan induknya.

Peperangan besar baru terjadi pada hari ke-15, bila dihitung semenjak pasukan Mongol mendarat dan membangun kekuatan di muara Kali Mas, di mana bala tentara gabungan Mongol dengan Raden wijaya berhasil mengalahkan pasukan Singhasari. Kekalahan ini menyebabkan sisa pasukan kembali melarikan diri untuk berkumpul di Daha, ibukota Singhasari. Pasukan Ike Mese, Kau Hsing, dan Raden wijaya melakukan pengejaran dan berhasil memasuki Daha beberapa hari kemudian. Pada hari ke-19 terjadi peperangan yang sangat menentukan bagi kerajaan Singhasari.

Dilindungi oleh lebih dari 10.000 pasukan raja Jayakatwang berusaha memenangkan pertempuran mulai dari pagi hingga siang hari. Dalam peperangan ini dikatakan bahwa pasukan Mongol menggunakan meriam yang pada zaman itu masih tergolong langka di dunia.

Terjadi tiga kali pertempuran besar antara kedua kekuatan yang berseteru ini di keempat arah kota dan dimenangkan oleh pihak para penyerbu. Pasukan Singhasri terpecah dua, sebagian menuju sungai dan tenggelam di sana karena dihadang oleh orang-orang Mongol, sedang sebagian lagi sebanyak lebih kurang 5.000 dalam keadaan panik akhirnya terbunuh (slain = bantai) setelah bertempur dengan tentara gabungan Mongol-Majapahit. Salah seorang anak Jayakatwang yang melarikan diri ke perbukitan di sekitar ibukota dapat ditangkap dan ditawan oleh pasukan Kau Hsing berkekuatan seribu orang.

Jayakatwang menyadari kekalahannya, ia mundur dan bertahan di dalam kota yang dikelilingi benteng. Pada sore harinya ia memutuskan keluar dan menyerah karena tidak melihat kemungkinan untuk mampu bertahan.

Kemenangan pasukan gabungan ini menyenangkan bangsa Mongol. Seluruh anggota keluarga raja dan pejabat tinggi Singhasari berikut anak-anak mereka ditahan oleh bangsa Mongol. Sejarah Cina mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Raden Wijaya memberontak dan membunuh 200 orang prajurit Mongol yang mengawalnya ke Majapahit untuk menyiapkan persembahakn kepada raja Kublai Khan. Adalah Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang sempat membantu orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, melakukan penumpasan itu (Pitono, 1965 46).

Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya menyerang balik orang-orang Mongol dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa. Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya itu harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara. Dari sini ia berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

Kekalahan bala tentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kublai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporakporandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di atasnya.

Menjelang akhir bulan Maret, yaitu di hari ke-24, seluruh pasukan Mongol kembali ke negara asalnya dengan membawa tawanan para bangsawan Singhasari ke Cina beserta ribuan hadiah bagi kaisar. Sebelum berangkat mereka menghukum mati Jayakatwang dan anaknya sebagai ungkapan rasa kesal atas ‘pemberontakan’ Raden Wijaya. Kitab Pararaton memberikan keterangan yang kontradiktif, disebutkan bahwa Jayakatwang bukan mati dibunuh orang-orang Mongol melainkan oleh Raden Wijaya sendiri, tidak lama setelah ibukota kerajaan Singhasari berhasil dihancurkan.

Ternyata kegagalan Shih Pi menundukkan Jawa harus dibayar mahal olehnya. Ia menerima 17 kali cambukan atas perintah Kublai Khan, seluruh harta bendanya dirampas oleh kerajaan sebagai kompensasi atas peristiwa yang meredupkan kebesaran nama bangsa Mongol tersebut. Ia dipersalahkan atas tewasnya 3.000 lebih prajurit dalam ekspedisi menghukum Jawa tersebut.

Selain itu, peristiwa ini mencoreng wajah Kublai Khan karena untuk kedua kalinya dipermalukan orang-orang Jawa setelah raja Kartanegara melukai wajah Meng Chi. Namun sebagai raja yang tahu menghargai kesatriaan, tiga tahun kemudian nama baik Shih Pi direhabilitasi dan harta bendanya dikembalikan. Ia diberi hadiah jabatan tinggi dalam hirarkhi kerajaan Dinasti Yuan yang dinikmatinya sampai meninggal dalam usia 86 tahun.
Baca selengkapnya
loading...