Showing posts with label Mengapa. Show all posts
Showing posts with label Mengapa. Show all posts

Saturday, 8 September 2018

Awas ! MAKAR PKI KE 3

Awas ! MAKAR PKI KE 3

Awas ! MAKAR PKI KE 3

Sejak Pembubaran Konstituante 1959, PKI semakin dalam meracuni Sukarno, serangan offensif dilakukan menggunakan kekuasaan Sukarno, setelah membungkam PRRI, sebagai gerakan koreksi atas cara Sukarno mengelola negara, atas hasutan dan *Provokasi PKI*, selanjutnya tahun 1960 dengan SK nomer 200 dibubarkanlah Masyumi, dan SK nomer 201 Sukarno membubarkan PSI (Partai Ayahandanya Mas Prabowo, Sumitro Djoyo hadikusumo).
1963, Nasakom bergerak (PNI, NU & PKI). Gerombolan PKI dengan tameng Nasakom melakukan tindakan yang represif dan ugal-ugalan.

1. Tahun 1963, GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesis), dibubarkan oleh Sukarno. Sukarno dihasut oleh PKI/CGMI untuk membubarkan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), ada dua situasi merespon pembubaran HMI, dibentuknya IMM sebagai Antisipasi dan Aksi massa yang dimotori oleh PII (Pelajar Islam Indonesia), adalah Wahid Kadungga, kader PII membawa Poster: *Langkahi dulu mayat kami PII, sebelum membubarkan HMI !*

2. Menjelang 1965, situasi semakin memanas, PKI semakin bringas. Insiden Kanigoro, Kediri 1964, PKI menyerbu acara Kaderisasi PII dan masuk kemasjid, menginjak-injak Alquran dan melecehkan PII wati. Gerakan PKI dan mantel organisasinya seperti Lekra CGMI, SOBSI, Gerwani dan Pemuda Rakyat semakin bringas, mereka melakukan aksi sepihak dan anarkis secara kejam. Mereka melecehkan Agama, terutama Islam. Misalnya dengan menampilkan pertunjukkan Tonil/sandiwara: *Matine Gusti Allah* dan Malaikat jibril dikhitan (disunat).

3. Puncaknya adalah Kudeta kedua yakni 30 September 1965 atau Gestok 1965. PKI menuduh TNI AD membuat Dewan Jenderal, padahal justeru PKI yang membuat *Dewan Revolusi* langsung dipimpin oleh DN Aidit. PKI membunuh 7 orang Anggota TNI AD, 6 orang jenderal 1 orang perwira menengah, PKI Gagal, PKI Salah dan Kalah!. Sebagian kecil masih bergerak di Blitar Selatan, sampai 1967 dan di Kalimantan juga di Sulawesi.

4. Dalam sidang Mahmilub, Sudisman (Pelanjut DN Aidit), 1967, menyatakan bahwa PKI akan bangkit kembali. Diaspora PKI menyebar, didalam negeri mereka menyebar liar dengan mengganti Identitas, di luar negeri mereka  berada di: Jerman, Inggris, Belanda, Rusia, dan beberapa di Eropa Timur, cukup banyak dicina. Sejak tahun 1980-an mereka mulai merayap kembali masuk secara senyap ke Indonesia.

5. Ditahun 1990-an melalui LSM, gerakan Mahasiswa dan kelompok diskusi Gerakan PKI  membangun sel idiologi Komunisme di Indonesia. Polisi menangkap seorang kader PKI/Gerwani Muda yang bernama *Dita Indah Sari* Staf Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi sejak 2009 sampai sekarang, dibuku harian pertanggal *16 April 1996, Dita menulis,.... Partai yang terkubur 31 tahun,... kita hidupkan kembali* Ditangkap untuk dilepas kembali. Seiiring dengan pendirian PRD (Partai Rakyat Demokratik), biang kerok Kerusuhan 27 Juli 1996 yang outputnya lahirlah PDIP, yang menurut Ribka Tjiptaning diisi oleh 20.000.000 kader PKI (2002, Lativi).

6. Ditahun 1998, 1999 dan 2000 terjadi teror dengan Pembunuhan sadis oleh 'Pihak tertentu' dengan dalih membunuh Dukun santet, ditengarai sekitar 300-400 yang dibunuh secara keji, sadis dengan dalih Dukun Santet, para Korban berusia 60-70 an tahun yang pada tahun 1960-1965 berusia 20-30 tahun dan anggota atau pengurus Banser, Ansor Pemuda NU. Tahun 2000, Kongres PKI yang ke 8 di Sukabumi Selatan (Dapilnya, Ribka Tjiptaning, Gerwani Srikandi Indonesia). Kongres ke-9 di Cianjur Selatan dan Kongres ke 10, pada tahun 2010 di Sebuah desa di Magelang Jawa Tengah, tepatnya Desa Ngablak (basis PKI tahun 1960-an).

7. Sejak tahun 2004-2014 terjadi pengiriman kader PDIP dan Nasdem ke Pusat Pendidikan Kader Partai Komunis Cina, sebanyak 13 angkatan. Alumni dari Kaderisasi tersebut: Hasto Kristianto, Eva Kusuma Sundari, Puteranya Ribka dkk. Memasuki 2015, pada acara HUT RI ke 70, dibeberapa daerah: Jember, Pamekasan, Madura Jawa Timur, Payakumbuh Sumatera Barat dan Di TMII Jakarta Timur berkibarlah bendera PKI dan defile karnaval yang membawa foto tokoh-tokoh PKI, seiring dengan maraknya penggunaan kaos berlogo palu Arit diberbagai Daerah.

8. Memasuki tahun 2016, rangkaian kegiatan PKI dimotori oleh Bejo Untung (75), Reza Muharram, Wahyu Setiaji, Teguh Karyadi, HB Daman melakukan kegiatan Simposium PKI di Aryaduta, April 2016, yang diawali acara  Belok Kiri Fest di TIM Jakarta, temu kangen kader PKI dikawasan Puncak Jawa Barat. Markas PKI di Jakarta di Kantor LBH Jakarta, disebrang Kantor DPP PPP.

9. Tahun 2017, tahun pembungkaman, penangkapan dan Kriminalisasi terhadap pegiat yang gigih menyuarakan adanya gerakan PKI-- berkolaborasi dengan PKC, PKUS, PK Vietnam dan PK Korut--Bambang Tri (Penulis: Jokowi Undercover) divonis 2,7 tahun, ditahan di Lapas Blora, dipindah ke Lapas  Slawi.
Kemudian Alfian Tanjung, Ditahan di lima penjara ditiga Provinsi sejak 30 Mei 2017, dengan *tuduhan yang tidak pernah dipersoalkan* di Pengadilan, Vonis-vonisan serta 40-an Tokoh yang ditangkap oleh Rezim Komunis ini.

10. Cina, menggaransi bahwa Indonesia akan Makmur dengan menjadi Provinsi Indocina. Pembubaran HTI menjadi Pintu masuk untuk membubarkan Ormas yang memiliki misi Islam yang pastinya merupakan lawan tangguh paham komunisme.

11. Selangkah lagi, PKI akan memproklamasikan diri. Sikap menyerang, menangkap dan menteror bahkan membunuh ulama semakin sering ditahun 2018 ini. Dengan tameng *Nasakom Jilid 2* dengan mudahnya menuduh Makar! Menyerang Ulama.

Catat ada Trio Partai Cina yang mengawaki PKI Perjuangan. Yakni Partai milik Pdt. James Riady, KH. Hary Tanoe dan milik Naga yang dipimpin oleh  Grace Natalie
*simak video Pak Tjahyo Kumolo, diatas*

Bersiaplah menyongsong era baru:
*Indonesia Tanpa PKI !* Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wan ni'man nashir.....

Indonesia
Sabtu, 8 September  2018

Alfian Tanjung
Pimpinan Taruna Muslim.
Baca selengkapnya

Ngeri, inilah ILMU POLITIK JOKOWI!!!

ILMU POLITIK JOKOWI

1. Rangkul untuk memukul
2. Sabar untuk menampar
3. Santai untuk membantai

Contoh satu,  pak JK bilang "Hancur negara ini kalau di pimpin Jokowi" maka jokowi merangkul JK jadi Wakilnya di Pilpres dalam rangka Memukulnya lembut lembut dan tak berkutik.  Terbukti...!!!


Contoh dua,  pak Ngabalin bilang "pak Jokowi Kurang Gizi, antek Asing dan lain lain" maka Jokowi begitu sabarnya menunggu 4 tahun untuk menampar Ali Mukhtar Ngabalin, dan sekarang sedang berproses. Jadilah Ngabalin ada di Istana he he heeee... Terbukti...!!!!

Contoh tiga,  Mbah Yai Makruf Amin bilang "jangan taati dan ikuti  pemimpin yang ingkar janji" maka Jokowi dengan "santun" menjadikan Mbah Yai Makruf Amin sebagai Wakilnya dalam rangka membantai otoritasnya sebagai Ulama. Terbukti....!!!

Ini bukan hoax, bukan su'udzon dan bukan fitnah,  tapi nyata.

Tetapi Jokowi gagal ketika menawari "dunia dan seisinya" kepada Imam Besar Habib Rizieq Shihab agar tidak melanjutkan aksi 212 dan tidak mempermasalahkan lagi kasus Ahok..

Buat orang-orang yang berpikir, silahkan anda berpikir dengan siapa dan kemanakah seharusnya kita mengikuti arah angin.
Baca selengkapnya

Tuesday, 4 September 2018

Kasihan Mbah Kardam, Penjual tekwan kena tipu uang *mainan*!

Untuk PENGUSAHA UANG MAINAN,..!!

Mbok Ya Tolong, Mainannya Dibuat Beda Ukuran nya, Kalo Bisa Sekecil Kartu ATM...
Sudah terlalu banyak Korban,.!
kebanyakan Ya Orang-orang Tua,yang sudah lansia, Ketelitian sudah Berkurang,.
Contohnya Ini,,

Jualan Perporsi 6 Ribu,Ada Ibu-Ibu Beli 1 Porsi Bayarnya 50 ribu pakek Uang Mainan,. Kog ya masih tega Minta Kembalian 44 Ribu...  Itu kakeknya Ya Gak Sadar Kalau Di Bayar pake Uang Mainan,. Soalnya Bentuk Ukuran Gambar Sama,Cuma yg Membedakan Tulisan "Uang Mainan",.
😢


Sumber; #Fb Nyonya Ferry Andrio
#kronologi_nya,.

ditipu pakai uang mainan.
mbah kadam, penjual tekwan dan model di depan lorong. hari ini sungguh naas.
seorang ibu datang memesan satu bungkus tekwan, mbah kadam yg hidupnya sebatang kara dgn semangat membungkus pesanan ibu tersebut.
lalu ibu itu berkata, "mbah, saya mau jemput anak saya dulu, nanti tekwannya saya ambil. ini saya bayar dulu saja." lalu ibu tersebut menyerahkan uang 50ribuan dlm keadaan terlipat.
mbah kadam yg tidak curiga langsung memasukkan uang tersebut ke dlm saku bajunya.
si ibu langsung meminta kembalian dari uang yg dibayarnya tadi, dan mbak kadam langsung memberikan kembaliannya sebesar 44ribu (harga tekwak 1 porsi 6ribu).
dan si ibu pun dgn cepat melangkah pergi.
sdh hampir 2 jam mbah kadam menunggu ibu itu kembali untuk mengambil pesanannya tapi tak kunjung datang. mbah kadam yg mulai merasa ada yg aneh langsung mengambil uang 50ribu yg ada disaku bajunya.
terkejutlah dia saat tau bahwa uang itu ternyata uang mainan.
buat semuanya hati2 saat menerima uang dlm keadaan terlipat, karena uang mainan seperti ini bila dilipat dan dilihat sekilas memang mirip uang asli, ditambah ukurannya pun sama.
buat mbah kadam yg sabar ya, dan iklas. krena Allah akan membeli rejeki berkali lipat.

#viralkan
Biar sampe ke pengusahanya,.!
Baca selengkapnya

Monday, 3 September 2018

IMUNISASI YANG DICONTOHKAN RASULULLAH SAW

IMUNISASI YANG DICONTOHKAN RASULULLAH SAW.

Kepada saudara ku sesama muslim, Sampai saat ini masih banyak saudara kita sesama kaum muslim yang belum mengetahui dan menerapkan metode ‘imunisasi’ sesuai tuntunan Islam.

Padahal sejak dini Rasulullah SAW telah mengajarkan “Tahnik” sebagai metode imunisasi yang sesungguhnya dengan mengandalkan kurma sebagai media utama.

Dengan demikian Islam tidak pernah mengajarkan bahkan melarang penggunaan bahan-bahan subhat apalagi haram na'udzubillah. 😱

Imam Bukhori meriwayatkan, Abu Musa ra berkata :

ولد لى غلام فأتيت به النبى – صلى الله عليه وسلم – فسماه إبراهيم وحنكه بتمرة.

“(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan ia mentahnik dengan sebutir kurma.”

Dari ‘Aisyah, beliau berkata :

أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يؤتى بالصبيان فيبرك عليهم ويحنكهم.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka dan mentahnik mereka.”

An Nawawi menyebutkan dua hadits di atas dalam Shahih Muslim :

استحباب تحنيك المولود عند ولا دته وحمله إلى صالح يحنكه وجواز تسميته يوم ولا دته واستحباب التسمية بعبدالله وإبراهيم وسائر أسماء الأنبياء عليهم السلام

“Dianjurkan mentahnik bayi yang baru lahir, bayi tersebut dibawa ke orang sholih untuk ditahnik. Juga dibolehkan memberi nama pada hari kelahiran. Dianjurkan memberi nama bayi dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama nabi lainnya. “

Rasulullah SAW bersabda : “Kurma itu menghilangkan penyakit dan tidak membawa penyakit, ia berasal dari surga dan di dalamnya terdapat obat.”

Sa’ad mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa memakan tujuh buah kurma ajwa di pagi hari, maka racun dan sihir tidak membahayakannya pada hari itu.” (HR Bukhari & Muslim)

Salamah binti Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Berikanlah kurma kepada wanita yang akan melahirkan, agar anaknya menjadi murah hati, itu adalah makanan Maryam saat akan melahirkan Isa. Jika Allah mengetahui ada yang lebih baik dari itu, tentu Dia telah memberikannya. ”

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menganjurkan untuk para istri-istri kamu yang sedang hamil untuk makan buah kurma, niscaya anak yang akan lahir kelak akan menjadi anak yang penyabar, bersopan santun serta cerdas. (HR Bukhari).

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Musa berkata: “Seorang anakku lahir, akupun membawanya kepada Nabi SAW, beliau menamainya Ibrahim, beliau melolohkan dengan sebutir kurma, memohon berkah baginya lalu menyerahkannya kepadaku.”

Imam Bukhari dalam Shahih-nya men-takhrij hadits dari Asma’ binti Abu Bakar rah.

Dari Asma’ binti Abu Bakar rah. bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah ibn Zubair di Mekkah mengatakan, “Saya keluar dan aku sempurna hamilku 9 bulan, lalu aku datang ke madinah, aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, maka beliau Shalallaahu alaihi wasalam menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam kamarnya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau Shalallaahu alaihi wasalam memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah ibn Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, kemudian beliau men-tahnik-nya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam pun mendo’akannya dan mendoakan keberkahan kepadanya.

SUBHANALLAH …! Hikmah dari Hadits di atas sangatlah bagus dan patut kita yakini serta terapkan, selain dari sisi konten kurma yang sangat besar kandungan gizinya dan manfaatnya untuk menjaga kesehatan serta obat. Ternyata buah kurma memiliki hikmah lain yang sangat special bilamana sejak awal dicekoki pada bayi yang baru lahir (tahnik).

Disinilah perlunya kita ketahui makna dan manfaat Tahnik yang diajarkan Islam melalui Nabi Muhammad SAW. Tahnik adalah melolohkan kurma yang sudah dikunyah oleh orang tuanya dengan menggerak-gerakkan dari kiri ke kanan sampai merata di langit-langit mulut bayi dengan lembut seraya berdoa dan berzdikir.

Melolohkan (memasukkan) buah kurma ke dalam mulut bayi adalah sebuah hal menakjubkan karena di dalamnya terdapat manfaat kesehatan yang besar. Terbukti buah kurma mengandung unsur-unsur penting yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan memperkuat daya tahan tubuh. Kurma juga berkhasiat melindungi dan membentengi anak sepanjang hidupnya, terlebih dari itu hikmah melolohkan (memasukkan) kurma ke dalam mulut bayi berguna untuk menguatkan syaraf-syaraf mulut bayi berguna untuk menguatkan syaraf-syaraf mulut dan gerakan lisan beserta tenggorokan dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan sehingga anak siap untuk menghisap air susu ibunya dengan kuat dan alami.

Kurma yang diberikan bayi dengan proses pengunyahan dari mulut kedua orang tuanya juga mengandung makna yang special dalam menjalin ikatan batin kepada anaknya. melalui air liur kedua orang tuanya akan mengikat hati bayi dengan cinta mereka kepada mereka dan mengalirkan kepadanya fitrah islam mereka yang suci. Anak akan tumbuh dengan baik dan bersih dan juga dapat merasakan manisnya iman, sebagaimana manisnya buah kurma yang bercampur air liur, yang bersamaan lidah selalu dibasahi dengan dzikir kepada Allah Ta’ala.

Melolohkan (memasukkan) kurma ke dalam mulut bayi adalah sebuah Ritus yang dapat menanamkan dalam jiwa kedua orang tua kasih sayang yang tulus kepada anak-anak mereka, sehingga keluarga muslim ini keluarga muslim ini akan hidup dalam keharmonisan, kedamaian dan cinta kasih.

Ibu saya pernah mengatakan bahwa bayi dilahirkan dalam keadaan kekurangan glukosa. Bahkan apabila tubuhnya menguning, maka bayi tersebut dipastikan membutuhkan glukosa dalam keadaan yang cukup untuknya. Bobot bayi saat lahir juga mempengaruhi kandungan glukosa dalam tubuhnya.

Pada kasus bayi prematur yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, dimana pada sebagian kasus malah kurang dari 20 mg/100 ml darah. Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 ml. Kadar semacam ini berarti (20 atau 30 mg/100 ml darah) merupakan keadaan bahaya dalam ukuran kadar gula dalam darah. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya berbagai penyakit, seperti bayi menolak untuk menyusui, otot-otot bayi melemas, aktivitas pernafasan terganggu dan kulit bayi menjadi kebiruan, kontraksi atau kejang-kejang. Terkadang bisa juga menyebabkan sejumlah penyakit yang berbahaya dan lama, seperti insomnia, lemah otak, gangguan syaraf, gangguan pendengaran, penglihatan, atau keduanya.

Apabila hal-hal di atas tidak segera ditanggulangi atau diobati maka bisa menyebabkan kematian. Padahal obat untuk itu adalah sangat mudah, yaitu memberikan zat gula yang berbentuk glukosa melalui infus, baik lewat mulut, maupun pembuluh darah.

Mayoritas atau bahkan semua bayi membutuhkan zat gula dalam bentuk glukosa seketika setelah lahir, maka memberikan kurma yang sudah dilumat bisa menjauhkan sang bayi dari kekurangan kadar gula yang berlipat-lipat. Disunnahkannya tahnik kepada bayi adalah obat sekaligus tindakan preventif yang memiliki fungsi penting, dan ini adalah mukjizat kenabian Muhammad SAW secara medis dimana sejarah kemanusiaan tidak pernah mengetahui hal itu sebelumnya, bahkan kini manusia tahu bahayanya kekurangan kadar glukosa dalam darah bayi.

Kandungan Nutrisi, Mineral dan  Vitamin Kurma

Manfaat Buah Kurma Untuk Kesehatan

1. Menguatkan imunity 2. Mencerdaskan otak 3. Meningkatkan daya tahan (antibody) 4. meningkatkan Hemoglobin (Baik untuk penderita animea) 5. Meningkatkan jumlah trombosit 6. Sebagai multivitamin 7.Anti bakteri dan virus 8. Baik untuk masa pertumbuhan 9. Mengatur kepadatan tulang 10.Meningkatkan nafsu makan 11. Memelihara ketajaman mata dan pendengaran 12. Menenangkan dan menguatkan syaraf 13. Menstabilkan kejiwaan anak 14. Meluncurkan 15. Mengobati cacingan 16.Mengobati panas (demam), flu, batuk 17. menghaluskan kulit


Solusi Bagi Mereka yang terlanjur memberikan vaksin & imunisasi pada anak-anaknya.

1. Perbanyak istighfar.

karena kewajiban selaku orang tua dituntut dan diminta pertanggungjawannya oleh Allah Ta’ala dalam hal memberi nama pada anak, bersikap adil dalam memberikan kasih sayang, memeberikan nafkah dari rizki dan barang yang halal dan pendidikan moralnya.

Dalam Surat Al Baqarah: 168 Allah berfirman : “Hai sekalian manusia makanlah yang halal dan baik apa yang ada di bumi, dan jangan mengikuti langkah-langkah syetan karena sesungguhnya syetan adalah musuh yang nyata bagimu.”

Dalam Surat Al Baqarah: 173 Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang (yang ketika disembelih) disebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang. ”

2. Berdoa kepada Allah dengan tujuan diampuni dosa-dosa.

mohon petunjuk, ketetapan iman dan dilindungi dari gangguan dan kebodohan orang-orang kafir.Doanya ada dalam Surat Al Baqarah: 201: “Ya Tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Juga ada dalam Surat Ali Imran: 147: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir. ”

3. Untuk membantu mengeluarkan unsur racun dari imunisasi / vaksinasi sekaligus meningkatkan Antibodinya.

Yaitu dengan memberikan Al Habbatus sauda (jintan hitam), madu, kurma, zaitun dan air kelapa.

4. Selalu mendoakan anak-anaknya dengan doa yang disyariatkan Rasulullah SAW

Seperti: “Rabbana hablana min azwajina wa min zdurriyatina qurrota a’yunin waj’alna lil muttaqiina imama.”

Wallahu‘Alam Bishawab.

_____________________________________________

TAHNIK = Imunisasi Alami CONTOH RASUL
sumber : Ummu Salamah Al-Hajjam

°°Tahnik adalah Imunisasi Alami yang di ajarkan Rasulullah , Tahnik adalah tata cara imunisasi yang telah Rasul contohkan dan patut kita ikuti.

Hadits berikut (dalam Kitab Shahih Muslim no. 3997) adalah dalil sunnahnya taknik :

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ

Artinya : "Dari Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata: Terlahir seorang bayi bagiku kemudian aku membawanya kepada Nabi SAW., Nabi memberinya nama Abdullah dan men-tahniknya dengan kurma"

°°Tahnik itu di zaman Rasul caranya adalah mengunyah kurma hingga lembut, lalu di ambil lagi dari mulut ( kurma sudah tercampur air liur ) dan di berikan ke langit-langit mulut bayi.

Biasanya tahnik di lakukan oleh orang yang dipilihkan orangtuanya , seorang yang solih, dan pembaca Al Quran yang dianggap baik.

Sekarang bisa di lakukan melalui ibunya/ bapaknya,bisa dengan sari kurma , madu, atau tahnik Zuha. Caranya. Teteskan tahnik zuha di lidah sang ibu, lalu setelah tercampur dengan air liur ibu , di ambil lagi dengan gunakan jari telunjuk kanan. Sambil berdoa apa saja.. sang ibu memasukkan Tahnik zuha yang sudah tercampur dengan air liur itu ke langit-langit mulut bayi.

Kenapa harus masuk dulu ke mulut ibunya? untuk mengambil bakteri/patogen sang ibu pada air liurnya, sehingga tentara alami dalam tubuh bayi (sel T dan sel B pada bayi) mampu mem fotocopy kuman tersebut, untuk pembuatan anti body.

Nah.. inilah Imunisasi alami yang Rasul Contohkan.

Penjelasan : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=226480424864120&id=100025064910594
Sekjen MUI Ust.Tengku Zulkarnain
Ust.Bachtiar Nasir : https://youtu.be/sMlNC-572S0
Ust.Zulkifli Muhammad Ali :
https://youtu.be/0XKWkh9PzRc

Wallahu a'lam
Baca selengkapnya

Friday, 31 August 2018

Apa makna huruf hijaiyah? beginilah penjelasannya!

Seorang Yahudi mendatangi Rosululloh seraya bertanya, “Apa makna huruf hijaiyah?”.

Rosululloh berkata kepada Ali bin Abi Tholib, “Jawablah pertanyaannya, wahai Ali!”. Kemudian Rosululloh saw berdoa, “Ya Alloh, jadikanlah dia berhasil dan bantulah dia.”

Ali berkata, “Setiap huruf hijaiyah adalah nama-nama Alloh.” Ia melanjutkan:

Alif ( ﺍ ) : Ismulloh (nama Alloh), yang tiada Tuhan selain-Nya. Dia selalu hidup, Maha Mandiri dan Mahakuasa .

’Ba ( ﺏ ) : al Baqi’ (Maha Kekal), setelah musnahnya makhluk .

Ta ( ﺕ ) : al Tawwab (Maha Penerima Taubat) dari hamba-hamba-Nya .

’Tsa ( ﺙ ) : al Tsabit (Yang Menetapkan) keimanan hamba-hamba-Nya .

Jim ( ﺝ ) : Jalla Tsanauhu (Yang Mahatinggi Pujian-Nya), kesucian-Nya, dan nama-nama-Nya yang tiada berbatas .

’Ha ( ﺡ ) : al Haq, al Hayyu, wa al Halim (Yang Maha Benar, Maha Hidup, dan Maha Bijak ) .

Kha ( ﺥ ) : al Khobir (Yang Maha Tahu) dan Maha Melihat. Sesungguhnya Alloh Maha Tahu apa yang kalian kerjakan .

Dal ( ﺩ ) : Dayyanu yaumi al din (Yang Mahakuasa di Hari Pembalasan ) .

Dzal ( ﺫ ) : Dzu al Jalal wa al Ikram (Pemilik Keagungan dan Kemuliaan ) .

Ra ( ﺭ ) : al Rouf (Maha Sayang ) .

Zay ( ﺯ ) : Zainul Ma’budin (Kebanggaan Para Hamba ) .

Sin ( ﺱ ) : al Sami al Boshir (Maha Mendengar dan Maha Melihat ) .

Syin ( ﺵ ) : Syakur (Maha Penerima ungkapan terima kasih dari hamba-hamba-Nya ) .

Shad ( ﺹ ) : al Shodiq (Maha Jujur) dalam menepati janji. Sesungguhnya Alloh tidak mengingkari janji-Nya .

Dhad ( ﺽ ) : al Dhar wa al Nafi (Yang Menangkal Bahaya dan Mendatangkan Manfaat ) .

Tha ( ﻁ ) : al Thohir wal al Muthohir (Yang Mahasuci dan Menyucikan ) .

Zha ( ﻅ ) : Zhahir (Yang Tampak dan Menampakkan Kebesaran-Nya ) .

Ain‘ ( ﻉ ) : al ’Alim (Yang Maha Tahu) atas segala sesuatu .

Ghain ( ﻍ ) : Ghiyats al Mustaghitsin (Penolong bagi yang memohon pertolongan) dan Pemberi Perlindungan

Fa ( ﻑ ) : Yang Menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan

Qaf ( ﻕ ) : Yang Maha Kuasa atas makhluk-Nya

Kaf ( ﻙ ) : al Kafi (Yang Memberikan Kecukupan) bagi semua makhluk, tiada yang serupa dan sebanding dengan-Nya .

Lam ( ﻝ ) : Lathif (Maha Lembut) terhadap hamba-hamba-Nya dengan kelembutan khusus dan tersembunyi .

Mim ( ﻡ ) : Malik ad dunya wal akhiroh (Pemilik dunia dan akhirat ) .

Nun ( ﻥ ) : Nur (Cahaya) langit, cahaya bumi, dan cahaya hati orang-orang beriman .

Waw ( ﻭ ) : al Wahid (Yang Maha Esa) dan tempat bergantung segala sesuatu .

Haa ( ﻩ ) : al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) bagi makhluk-Nya. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan memberikan petunjuk .

Lam alif ( ﻵ ) : lam tasydid dalam lafadz Alloh untuk menekankan keesaan Alloh, yang tiada sekutu bagi-Nya .

Ya ( ﻱ ) : Yadullahbasithun lil kholqi (Tangan Alloh terbuka bagi makhluk). Kekuasaan dan kekuatan-Nya meliputi semua tempat dan semua keberadaan .

Rosululloh saw bersabda, ”Wahai Ali, ini adalah perkataan yang Alflah rela terhadapnya.

” Dalam riwayat dijelaskan bahwa Yahudi itu masuk Islam setelah mendengar penjelasan Sayyidina Ali.

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
     
                  ISLAMPEDIA COMMUNITY

     •═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
👇Ikuti dan Share Channel Telegram & YouTube ane

♻ ZAWIYYAH MAHABBAH
https://t.me/joinchat/HVBM2kbs9ZOsySpdXpRTYg

📹  YouTube channel
https://www.youtube.com/channel/UCLGPzpvrgGLPIbDmyI-6qqw

🌐🌐🌐 FACEBOOK 🌐🌐🌐
🌍GALLERY PARA PECINTA HABAIB
https://www.facebook.com/groups/767066530129705/

🌏MANAQIB KAUM SHOLIHIN
https://www.facebook.com/groups/1348537445262609/

🌏ZAWIYYAH SHUFIYYAH
https://www.facebook.com/groups/165625600542495/

🌍ISLAMPEDIA
https://www.facebook.com/groups/359674114430458/



{ Foto Kiri ke Kanan Al Quthb Maula Kwitang Jakarta lil Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Al-Murobbi Habibana Alwi Al-Haddad Empang Bogor, Al-Musnid Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan bin Syeikh Abubakar bin Salim dan Al Quthb Habib Ali bin Hussein Al Atthos Bungur Senen Jakarta Pusat }
Baca selengkapnya

Kasihan!!! Projo Gelar Aksi Dukung Jokowi, Masyarakat Surabaya tidak Dukung

Rakyat Cerdas tak Bisa diBohongi

Para Projo melakukan aksi dukungan terhadap Jokowi dengan menggelar aksi di sepanjang jalan kota Surabaya. Aksi tersebut diperkirakan akan menyesakkan dan membuat macet jalan. Namun,  alih alih membuat aksi,  barisan muda Surabaya (bamus)  masyarakat malah tak peduli.

Beginilah tragisnya pasukan Projo yang terkenal pasukan nasi bungkus


Terlihat dalam aksi tersebut hanya segelintir pasukan yang tak percaya diri.
Baca selengkapnya

Tuesday, 14 August 2018

MAHFUD MD BLAK-BLAKAN DI ILC MALAM INI

MAHFUD MD BLAK-BLAKAN DI ILC MALAM INI!

Saya yakin besok bakal rame nih!
Ada 2 point yang saya catat :
1⃣ Pak Mahfud mengatakan bahwa dalam klarifikasinya kepada MMD keesokan harinya (setelah batal di-cawapres-kan), pak Jokowi menyatakan dirinya tak berdaya ketika partai-partai koalisi mengajukan calonnya masing-masing dan menolak Pak MMD.
Meskipun sejak 1 Agustus malam Pak Jokowi sebenarnya sudah mantap memilih pak MMD.


2⃣ Pada hari Rabu, sehari sebelum deklarasi, katanya 3 orang NU diundang Pak Jokowi ke istana. Yaitu Kyai Ma'ruf, Said Aqil Siradj, Muhaimin. Saat itu pak Jokowi meminta saran siapa orang NU yang akan dicalonkan, tanpa menyebut nama. Sehingga, ketiga orang tersebut kemudian berkesimpulan bahwa bakal cawapresnya Jokowi bukan salah satu dari mereka.
Sehingga mereka kemudian "marah-marah".
Lalu mulailah mengancam bahwa NU tidak akan bertanggungjawab secara moril atas pencapresan Jokowi.
Intinya NU gak mendukung, begitulah!
Dan...
Kata pak MMD, yang mendiktekan kata-kata itu justru Kyai Ma'ruf!
Nah lho!!!

Pak MMD siap mempertanggungjawabkan pernyataannya.

Saya yakin rekaman acara ILC khususnya pengakuan MMD itu akan viral besok.

Ngeri ngeri sedap euy!!!
Ahokers yang selama ini menolak Kyai Ma'ruf jadi cawapresnya Jokowi, bisa makin marah.

Catatan 📝
Waktu Pak MMD bilang soal Pak Jokowi gak berdaya, Om Rocky Gerung langsung geleng-geleng kepala.

Tapi...,
Waktu pak MMD cerita soal Kyai Ma'ruf, yang geleng-geleng kepala lebih banyak lagi.

Dan...
Saya amati muka si Nusron pucat, Lukman Edy pucat dan
 keliatan gak happy, Masinton juga langsung gak galak lagi.

(Iramawati Oemar)
Baca selengkapnya

Tuesday, 31 July 2018

Debat Terbuka Dengan Ansor Soal Islam Nusantara, Habib Hanif Alatas: Jangan Sampai Jadi Sarden Babi Cap Onta

Debat Terbuka Dengan Ansor Soal Islam Nusantara, Habib Hanif Alatas: Jangan Sampai Jadi Sarden Babi Cap Onta

Jakarta - Di Cianjur, Jawa Barat, pada hari Sabtu 28 Juli 2018 mulai pukul 22 : 30 WIB digelar Munazhoroh atau debat terbuka antara FPI dan Ansor di Ponpes Hibatussa'diyyah,  Pimp KH. Cepy Hibatullah.


Kyai Salman, Lc,  selaku narasumber pertama dari kubu pro Islam Nusantara menyampaikan bahwa Islam Nusantara bukanlah mazhab baru akan tetapi Isnus adalah konsep beragama Islam Ahlusunnah wal Jamaah yang santun, ramah dan mengedepankan pendekatan budaya dalam dakwah, sebagaimana hal ini terwujud di nusantara sejak berabad-abad yang lalu.

Sementara itu, Habib Hanif Alathas, Lc. sebagai Ketua Umum FSI menyampaikan materi menggunakan power point dengan judul " Islam Nusantara,  antara Konsep dan Realita " di awal pemaparannya beliau sampaikan bahwa dalam menilai Islam Nusantara jangan sampai tertipu dengan bungkus dan teori,  namun kita juga harus melihat kepada substansi dan realita yang ada.

Beliau memaparkan bahwa jika melihat konsep tertulis yang ditawarkan,  khususnya yang dirumuskan dalam hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur di Malang, yaitu; Islam Nusantara adalah ajaran Ahlusunnah wal Jamaah yang anti Radikal dan Liberal,  juga Syiah dan Wahabi, dengan cara dakwah yang sopan santun serta mengedepankan akhkaqul karimah, Maka defenisi ini sangat bagus dan menarik.

Namun realita dan fakta di lapangan membuktikan sebaliknya, Islam nusantara dibajak oleh kelompok Liberal untuk mengkampanyekan kebencian kepada Arab.

Di samping itu, Isnus juga kerap dijadikan kendaraan untuk meligitimasi ajaran-ajaran yang menyimpang seperti Rofidhoh,  Liberalisme,  Pluralisme bahkan sampai Komunisme,  juga banyak tokoh-tokoh Isnus menganggap ajaran Islam seperti Cadar,  Gamis,  Jenggot, dll sebagai BUDAYA ARAB,  bahkan menebar kebencian kepada para Habaib.

Untuk membuktikan ini semua Habib Hanif menampilkan fakta tak terbantahkan berupa tampilan video-video pernyataan nyeleneh para petinggi Islam Nusantara,  seperti KH Said Agil Siroj, KH Yahya Kholil Tsaquf, Ulil Abshar Abdalah, Dll.

Bahkan menariknya,  beliau sekaligus membantah semua statemen nyeleneh para petinggi Isnus dengan nukilan-nukilan  dari berbagai Karya Hadhrotusyekh KH Hasyim Asy'ari, sehingga nampak jelas bahwa berbagai kengawuran yang nampak dari tokoh-tokoh tersebut pada hakikatnya adalah penyimpangan terhadap koridor yang telah digariskan pendiri NU.

Beranjak dari hal tersebut,  Habib Hanif menuturkan bahwa ada kesenjangan yang begitu dalam antara teori yang indah dan fakta yang menyakitkan sehingga beliau mengatakan " Jangan sampai Islam Nusantara ini seperti sarden babi cap onta , bungkusnya menarik namun isinya rusak,  beda jauh "

Habib Hanif dalam hal ini juga meminta maaf kepada moderator karena waktu persentasi beliau melebihi durasi yang disediakan, karena kahwatir jika dipotong akan menjadikan pemahamannya rancu,  sebab pemahaman yang keliru lebih bahaya dari sekedar melewati waktu karenanya Habib Hanif juga mempersilahkan manakala pihak pro Islam Nusantara ingin diberikan waktu tambahan,  agar adil.

Dalam sesi tanggapan,  Kyai Salman mengutarakan bahwa Habib Hanif telah keluar dari Tema Islam Nusantara, beliau lebih fokus kepada pemikiran-pemikiran negatif KH. Said Agil Siroj, padahal Said Agil hanya salah satu dari Pengusung Islam Nusantara. 

Habib Hanif dengan lugas menjawab bahwa dia tidak sama sekali keluar dari tema,  justru judul materi beliau adalah Membandingkan Islam nusantara antara konsep dan realita yang ada, KH Said Agil adalah pemilik Ide Islam Nusantara ( Beliau menunjukkan Video pengakuan Said Agil bahwa ISNUS adalah Idenya)  sehingga statemen-statemen beliau menjadi cerminan dari Islam Nusantara itu sendiri,  ini yang menjadi persepsi umum.

Andai kata yang mengucapkan semua statemen adalah soerang santri maka tidak akan menjadi masalah, namun yang mengucapkan adalah para petinggi PBNU, maka akan menjadi representasi dari Islam Nusantara itu sendiri.

Habib Hanif melanjutkan bahwa lain halnya jika PBNU langsung membantah pernyataan-pernyataan yang nyeleneh ini dan menyatakan bahwa itu bukan bagian dari Islam Nusantara,  maka konsep ini akan tetap terjaga.

Tapi faktanya sampai saat ini tidak ada bantahan resmi sama sekali bahkan terkesan dibiarkan dan selalu dibela.  Dari sini,  beliau melihat bahwa Istilah Islam Nusantara masih sangat rentan dibajak oleh siapun,  sehingga berbagai aliran sempalan berlindung dibelakang baju Islam Nusantara, dari pada kita mempertaruhkan akidah Ummat lebih baik pakai Istilah yang sudah pasti dan terbukti,  yaitu Ahlusunnah wal Jamaah.

Kalau dipandang masih kurang jelas maka tambahkan Asy'ariyyah,  kaidahnya sudah jelas,  konsepnya jelas,  kitab-kitab rujukannya sudah jelas,  Dipegang teguh oleh para ulama dari masa kemasa,  sehingga tidak bisa dibajak oleh pihak manapun. Jika ada yang jelas dan terbukti,  mengapa harus cari yang bermasalah ?

KH. Cepy Hibatullah selaku tuan rumah yang mendukung Islam nusantara juga menanggapi,  bahwa sebetulnya ia gregetan melihat statemen-statemen para petinggi NU,  semisal Gusdur,  KH Said Agil dan KH Yahya Kholil Tsaquf,  namun beliau memandang bahwa ucapan-ucapan mereka tidak bisa dihukumi secara dzhohir karena mereka termasuk Ahlussama' ( Penduduk Langit  ) sehingga statemennya itu masuk kategori Siyasah Aliyaah ( politik tingkat tinggi )  yang cukup kita sikapi dengan Husnudzhon.

Dengan santai Habib Hanif menjawab bahwa Syariat memerintahkan kita untuk menilai apa yang nampak,  adapun perkara bathin kita serahkan kepada Allah SWT,  hal ini dicontohkan oleh Wali Songo yang menghukum Syekh Siti Jenar,  begitu pula  Ulama yang menghukum mati Hallaj,  meskipun keduanya Ahli Hakikat dan Makrifat namun ulama tetap menghukumi secara dzhohir.

Disamping itu syariat memerintahkan kita untuk berbicara sesuai dengan kadar akal lawan bicara kita,  terlebih seorang ulama yang berbicara dihadapan ummat,  jangan sampai apa yang disampaikan menjadi fitnah yang mendangkalkan akidah, dalam hal ini akidah ummat dipertaruhkan.  Nasihat ini pernah disampaikan oleh al-Marhum KH. M. Subadar Besuk  seorang ulama sepuh dan kharismatik NU kepada KH Said Agil saat diskusi di Sidogiri,  Pasuruan.

Habib Hasan Asseggaf selaku Ketua DPW FPI Bogor juga membacakan kutipan dari kitab Bughyah al-Mustarsyidin, bahwa Seorang Ulama Haram sembarangan bicara depan Ummat,  apalagi masalah-masalah yang membuat ummat jadi menggampangkan dan bermain-main dalam urusan Agama, ini sangatlah berbahaya,  karenanya ulama-ulama terdahulu,  khususnya  Almarhum KH Agil Siroj ( Ayahanda Said Agil)   sangat berhati-hati dalam bicara depan ummat mereka tidak pernah menyampaikan hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah.

Gus Lutfi Rohman selaku ketua DPD FSI Jawa Tengah juga menyampaikan bahwa beliau hadir dalam Muktamar NU Jombang,  beliau sebagai orang NU sejak lahir mempertanyakan tema " Islam Nusantara  Untuk Perdamaian Dunia " yang diusung dalam muktamar Jombang, Beliau mengatakan " Saya lihat sendiri Muktamar Jombang itu Kisruh,  sampai-sampai Gus Mus menangis ketika baca head line  berita saat itu ( Muktamar Muhammadiyah Teduh,  Muktamar NU Kisruh) , Bagaimana Konsep ini mau memberikan kedamaian dunia,  kalau didalam NU saja membuat rusuh ?? "  tutur Gus Lutfi.

Pada sesi penutup,  KH Cepy selaku tuan rumah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak atas terselenggaranya debat publik ini.

Sebagai Closing statemen, Habib Hanif mengutip Nasihat Hadhrotusyekh KH Hasyim Asy'ari dalam kitabnya Mawaidz,  agar kita semua meninggalkan fanatisme golongan dan berlomba lomba membela Alquran serta Agama, karena jihad melawan para perusak  Agama adalah wajib.

Sejak awal, Debat publik ini berjalan dengan santun, akhlaqul karimah,  aman dan Kondusif, sampai ditutup dengan doa oleh Habib Hud Alidrus.
Baca selengkapnya

Sunday, 29 July 2018

Wajib Baca yang *Ngaku Sunnah*, Ngislam ke wong jowo angel! Ojo titik' muni BID'AH,MUSYRIK,SIRIK

Ngislam ke wong jowo angel! Ojo titik' muni BID'AH,MUSYRIK,SIRIK

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU,  namanya Christia Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.


Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.

Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?

Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.

Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.

Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.

Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.

Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.

Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.

Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.

Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.

Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.

Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya.

Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.

Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.

Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.

Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran.

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW.
Baca selengkapnya

Dalang Persekusi Bunda Neno adalah Seorang DPR-RI dari partai PDIP

SIAPAKAH  IBU - IBU  PROJO  BERBAJU  UNGU PELAKU  PERSEKUSI  ITU❓📌

NAMANYA :  DWI  RIA  LATIFA
ANGGOTA  KOMISI II  DPR  DARI  FRAKSI  PDIP 

Dalam Orasinya, Seorang Wanita Dari Kelompok PROJO Penghadang Mengatakan Bahwa Mereka Akan Terus Mengejar Bunda Neno Jika Aparat Memperbolehkan Neno Di Batam.
"Kemanapun Kami Akan Mengejarnya,"
Kata Wanita Tersebut.




INDONESIA  ADALAH  NEGARA  HUKUM,
BUKAN  NEGARA  PREMAN📌

Hukum Menyatakan Masyarakat Dilarang Menyampaikan Pendapat Atau Berdemo Di Obyek Vital Transportasi Nasional Seperti Bandara, Pelabuhan Dan Stasiun.
Dan Seluruh Warga Negara Indonesia Mempunyai Kewajiban Untuk Mentaatinya.

Hal Itu Tercantum Dalam Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2017 Yang Dikeluarkan Oleh 
MENTERI PERHUBUNGAN  BUDI KARYA SUMADI  PADA 18 MEI 2017📌

Jadi Melakukan Aksi Persekusi Di Bandara Hang Nadim Adalah Sebuah Pelanggaran Hukum Dan Menginjak-injak Hukum Yang Berlaku Di Indonesia,
Dan Jelas Wajib Dipatuhi Oleh Seluruh Rakyat Indonesia, TANPA  TERKECUALI📌

Hukum Dibuat Adalah Untuk Dipatuhi,
Bukan Untuk Dilanggar.
Sungguh Aneh Rasanya Apabila Aparat Penegak Hukum Membiarkan Sekelompok Orang Menginjak-injak Aturan Yang Ada.

Aksi Persekusi Di Bandara Hang Nadim Oleh Sekelompok Orang Dari Kubu Yang Kontra Terhadap Gerakan 2019 Ganti Presiden Ini, Tentu Mengingatkan Masyarakat Terhadap Aksi Serupa Beberapa Waktu Lalu.

Yaitu Aksi Yang Dilakukan Di Bandara Tarakan Kalimantan Utara Oleh KADER PDIP NORHAYATI  ANDRIS,
Yang Membawa Sekitar 30 - 40 Orang Untuk Mempersekusi Rombongan Dakwah Islam FPI Yang Berisi Para Kyai Dan Ustadz.

APAKAH KELOMPOK PENGHADANG DI BANDARA TARAKAN DAN HANG NADIM BERASAL DARI KELOMPOK YANG SAMA❓📌

NGAKUNYA  SIH  ANGGOTA  DPR
TAPI  KELAKUAN  KOK  PRIMITIF  BEGITU🆘

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1984372751575325&id=100000078581607

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212329689938364&id=1262859063

http://wikidpr.org/anggota/5403631742b53eac2f8ef718

#2019GANTIPRESIDEN
KARENA  INDONESIA  BUTUH  KEDAMAIAN📌
Baca selengkapnya

Sedih, Begini Harapan Netizen, Ketika UAS memilih jadi suluh!

# Surat Cinta Untuk Tuan Guru Ustadz Abdul Somad, Lc, MA #

Tuan Guru,
Jika suluh yg engkau pilih,
Hanya mampu menerangi sekitar dirimu,..
Mengapakah tidak menjadi mentari,
Yang sinarnya mampu menerangi hingga pelosok negeri..

Tuan Guru,
Jika setetes embun mampu hilangkan dahaga di tengah sahara,
Begaimanatah kiranya jika engkau memiliki sebuah telaga, yang manfaatnya tentu akan lebih terasa,..


Tuan Guru,
Bukankah engkau pernah berkata, tanda tangan penguasa yg baik akan lebih mampu mewujudkan kebaikan, dibandingkan hanya sebatas himbauan yang engkau rangkai melalui mimbarmu,..

Tuan Guru,
Maka, tidakkah ini saatnya segala ucap dilaksanakan,. Agar lebih tentram kehidupan.. agar hukum Allah bisa ditegakkan,..
Agar keadilan terejawantahkan.

Tuan Guru,
Kami cinta denganmu, agama dan negeri ini.
Dan kami yakin engkau jauh lebih cinta dengan kami, agama dan negeri ini.

Tuan Guru,
Dengan kerendahan hatimu,
Kebaikan akhlakmu,
Kesantunan dirimu.
Terimalah dengan lapang hati harapan ulama, umat yang begitu besar terhadap dirimu.

Tuan guru, maafkan kami atas kelancangan ini...

Oleh : Mujiono
Baca selengkapnya

Pers Rilis Presidium #2019GantiPresiden

Pers Rilis Presidium #2019GantiPresiden

Neno warisman Di Demo Projo dan Banser Setibanya di BANDARA HANG NADIM BATAM

Neno Warisman dan rombongan Relawan #2019GantiPresiden setibanya di Bandara Hang Nadim, Batam langsung diamuk massa didalam dan diluar bandara.

Setibanya di garbarata sejumlah aparat keamanan langsung memfoto Neno Warisman dan mengamankan laju rombongan menuju areal dalam bandara.


Tanpa diduga aparat keamanan menghentikan rombongan Neno Warisman dan Pengacara Mursal SH menjelaskan kepada pihak kepolisian bahwa Indonesia negara hukum.

"Kita ini negara hukum, hormati hukum yang berlaku," jelas Mursal kepada aparat kepolisian, Sabtu Malam (28/7/2018).

Semenit kemudian seorang pria melakukan aksi anarkis di areal dalam bandara hang nadim batam yang seharusnya steril.

"tangkap pengkhianat nkri. Tangkap" teriak pelaku penyerang neno warisman dari jarak sekitar 3 meter menendang tempat sampah alumunium.

Kegaduhan ini berlangsung 5 menit karena sejumlah aparat keamanan dari bandara dan kepolisian meringkus pelaku yang terus berteriak.

"saya jengah baru keluar dari garbarata kok banyak orang yang foto-foto saya. Lalu tiba-tiba ada orang menyerang saya dan berteriak pengkhianat nkri, saya tegaskan gerakan #2019GantiPresiden tidak melanggar hukum dan sesuai konstitusional," urai Neno Warisman sebagai Presidium #2019GantiPresiden.

Kami tidak mengetahui jika FPI tak memberi tahu bahwa 80 orang pendemo Projo dan Banser.

Sementara itu Sang Alang menilai Projo dan Banser tak pandai dalam berdemokrasi.
"mereka tidak paham demokrasi, mereka harus profesional bahwa kita berbeda dan itulah demokrasi." imbuh Sang Alang.

Ustadz Idrus yang keluar Bandara dilukai pendemo dan saat ini sudah diamankan aparat keamanan.

Presidium #2019GantiPresiden
Baca selengkapnya

JAWABAN SEMUT MEMBUAT TERCENGANG NABI SULAIMAN

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

* JAWABAN SEMUT MEMBUAT TERCENGANG NABI SULAIMAN  *

}Ketika Allah memerintahkan nabi SULAIMAN agar pergi ke tepi pantai

}Sulaiman...?
Pergilah ke tepi pantai, nanti akan aku beri tahu yang belum pernah engkau mengerti

}Lalu nabi SULAIMAN pun pergi ke tepi pantai lalu beliau mengerjakan sholat sunah di tepi pantai
Ketika beliau sedang mengerjakan sholat tiba tiba ada semut yang mondar mandir di depan nabi Sulaiman sholat


}Ketika semut menuju pantai ia membawa potongan daun tetapi ketika kembali ke hutan ia tidak membawa apa-apa

} Peristiwa seperti ini sampai berulang ulang beberapa kali, setelah nabi Sulaiman selesai mengerjakan sholat, nabi Sulaiman memperhatikan semut yg lagi membawa potongan daun

}Setelah di perhatikan oleh nabi SULAIMAN ternyata semut yang membawa potongan daun tadi setelah di tepi pantai dia naik ke atas panggung nya kodok, lalu kodok tersebut menyelam ke dasar pantai bersama semut yg membawa  potongan dedaunan

}Setelah beberapa saat kodok bersama semut tadi muncul ke permukaan, tetapi anehnya semut sudah tidak membawa potongan daun

}Melihat kejanggalan ini nabi Sulaiman bertanya kepada semut

}Semut apa ya kamu lakukan mulai tadi mundar mandir di depan ku dan membawa potongan daun ? Tanya nabi Sulaiman pada semut

}Semut pun menjawab
}Nabi Sulaiman saya di tugaskan oleh Allah untuk mengantarkan makanannya (rizkinya)ulat yang ada di dasar laut sana
"Di dasar laut ada seekor ulat yang terjepit oleh batu karang , karna ulat itu di selamatkan oleh Allah di letakkan di sela sela batu karang agar tidak di makan oleh ikan "

Untuk itu saya di tugaskan oleh Allah untuk mengantar makanannya, karna saya tidak bisa berenang maka saya di bantu oleh kodok

Mendengar dari jawaban semut nabi Sulaiman langsung tercengang begitu agungnya Allah Hinga hewan sekecil apapun rizkinya tetap Allah jamin

وما من دابة في الارض الا على الله رزقها
ويعلم مستقر ها ومستودعها كل فى كتاب مبين :هود ٦

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rizkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanan nya
Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata(Al lauh Al mahfuzh)

}Masihkah kita ragu dengan rizki Allah?
Semoga bermanfaat aamiin.
Baca selengkapnya

Wednesday, 25 July 2018

PENDAPAT para ULAMA mu`tabar tentang BID’AH dan PEMBAGIANNYA

Pada kesempatan kali ini, saya hanya akan menyajikan pendapat para ulama yang mu`tabar tentang bid’ah dan pembagiannya untuk direnungkan tanpa pengaruh hawa nafsu.
_____



 1. Imam Syafii

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris As Syafii, mujtahid agung pendiri madzhab Syafii yang diikuti oleh mayoritas Ahlussunnah Wal Jamaah di dunia Islam, berkata:

ﺍﻟْﻤُﺤْﺪَﺛَﺎﺕُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷُﻣُﻮْﺭِ ﺿَﺮْﺑَﺎﻥِ : ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ : ﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ِﻣﻤَّﺎ ﻳُﺨَﺎﻟـِﻒُ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﺃَﻭْ ﺳُﻨَّﺔً ﺃَﻭْ ﺃَﺛﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﺇِﺟْﻤَﺎﻋًﺎ ، ﻓﻬَﺬِﻩِ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺍﻟﻀَّﻼَﻟـَﺔُ، ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻴَﺔُ : ﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻻَ ﺧِﻼَﻑَ ﻓِﻴْﻪِ ﻟِﻮَﺍﺣِﺪٍ ﻣِﻦْ ﻫﺬﺍ ، ﻭَﻫَﺬِﻩِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٌ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﺬْﻣُﻮْﻣَﺔ
ٍ
“Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama: Perkara baru yang menyalahi al Quran, Sunnah, Ijma atau menyalahi Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi al Quran, Sunnah, mau pun Ijma, maka sesuatu yang baru seperti ini tidak tercela.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafii juz 1/ 469)

Dalam riwayat lain Imam Syafii berkata:

ﺍَﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺑِﺪْﻋَﺘَﺎﻥِ : ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻣَﺤْﻤُﻮْﺩَﺓٌ ﻭَﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻣَﺬْﻣُﻮْﻣَﺔٌ، ﻓَﻤَﺎ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟﺴُّـﻨَّﺔَ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺤْﻤُﻮْﺩٌ ﻭَﻣَﺎ ﺧَﺎﻟَﻔَﻬَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺬْﻣُﻮْﻡٌ .

“Bid’ah ada dua macam: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah adalah bid’ah terpuji, dan bid’ah yang menyalahi Sunnah adalah bid’ah tercela.” (Dituturkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari)

Pembagian bid’ah menjadi dua oleh Imam Syafii ini disepakati oleh para ulama setelahnya dari seluruh kalangan ahli fikih empat madzhab, para ahli hadits, dan para ulama dari berbagai disiplin ilmu. Di antara mereka adalah para ulama terkemuka, seperti Izzuddin bin Abdis Salam, Imam Nawawi, Ibnu `Arofah, al Hathab al Maliki, Ibnu Abidin dan lainnya. Dari kalangan ahlul hadits ada Ibnul Arobi al Maliki, Ibnul Atsir, al Hafidz Ibnu Hajar, al Hafidz as Sakhawi, al Hafidz as Suyuthi dan lainnya. Termasuk dari kalangan ahli bahasa sendiri, seperti al Fayyumi, al Fairuzabadi, az Zabidi dan lainnya.

2.Ar Rabi

Imam ar Rabi bin Sulaiman, periwayat ilmu Imam Syafii termasuk salah satu yang meriwayatkan ucapan Imam Syafii :

ﺍﻟْﻤُﺤْﺪَﺛَﺎﺕُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷُﻣُﻮْﺭِ ﺿَﺮْﺑَﺎﻥِ : ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ : ﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ِﻣﻤَّﺎ ﻳُﺨَﺎﻟـِﻒُ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﺃَﻭْ ﺳُﻨَّﺔً ﺃَﻭْ ﺃَﺛﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﺇِﺟْﻤَﺎﻋًﺎ ، ﻓﻬَﺬِﻩِ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺿَﻼَﻟـَﺔٌ، ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻴَﺔُ : ﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻻَ ﺧِﻼَﻑَ ﻓِﻴْﻪِ ﻟِﻮَﺍﺣِﺪٍ ﻣِﻦْ ﻫﺬﺍ ، ﻭَﻫَﺬِﻩِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٌ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﺬْﻣُﻮْﻣَﺔ
ٍ
 “Perkara baru yang diada-adakan itu ada dua macam: Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, atsar Sahabat atau ijma’ ulama’, maka bid’ah itu adalah sesat (fa hadhihil-bid‘atu dalalatun). Kedua, perkara baru yang diadakan dari segala kebaikan (ma uhditsa min al-khair) yang tidak bertentangan dengan hal yang disebutkan, yang ini bukan bid’ah dicela (wa hadhihi muhdatsatun ghairu madzmumah).[ Diriwayatkan dari al-Rabi` oleh al-Bayhaqi didalam “al-Madkhal” dan “Manaqib asy-Syafi`i, I : 469 dengan sanad shahih dan dishahihkan juga oleh Ibnu Taimiyyah dalam “Dar’u Ta`arud al-`Aqli wan-Naqli, hal. 171 dan melalui al-Baihaqi oleh Ibn `Asakir dalam “Tabyin Kadzib al-Muftari, hal. 97. Dinukilkan oleh adz-Dzahabi dalam “Siyar”, VIII : 408, Ibnu Rajab dalam “Jami` al-`Ulum wal-Hikam, II : 52-53, Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, XIII : 253.]

3. Imam Izzuddin bin Abdissalam.

Imam Mujtahid, Izzuddin bin Abdis Salam mempelopori pembagian bid’ah menjadi lima. Dalam hal ini beliau mengatakan:

ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻓِﻌْﻞُ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻬَﺪْ ﻓِﻲْ ﻋَﺼْﺮِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﻫِﻲَ ﻣُﻨْﻘَﺴِﻤَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ : ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻭَﺍﺟِﺒَﺔٍ، ﻭَﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻣُﺤَﺮَّﻣَﺔٍ، ﻭَﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻣَﻨْﺪُﻭْﺑَﺔٍ، ﻭَﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻣَﻜْﺮُﻭْﻫَﺔٍ، ﻭَﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻣُﺒَﺎﺣَﺔٍ، ﻭَﺍﻟﻄَّﺮِﻳْﻖُ ﻓِﻲْ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﻥْ ﺗُﻌْﺮَﺽَ ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔِ : ﻓَﺈِﻥْ ﺩَﺧَﻠَﺖْ ﻓِﻲْ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍْﻹِﻳْﺠَﺎﺏِ ﻓَﻬِﻲَ ﻭَﺍﺟِﺒَﺔٌ، ﻭَﺇِﻥْ ﺩَﺧَﻠَﺖْ ﻓِﻲْ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍﻟﺘَّﺤْﺮِﻳْﻢِ ﻓَﻬِﻲَ ﻣُﺤَﺮَّﻣَﺔٌ، ﻭَﺇِﻥْ ﺩَﺧَﻠَﺖْ ﻓِﻲْ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍﻟْﻤَﻨْﺪُﻭْﺏِ ﻓَﻬِﻲَ ﻣَﻨْﺪُﻭْﺑَﺔٌ، ﻭَﺇِﻥْ ﺩَﺧَﻠَﺖْ ﻓِﻲْ ﻗَﻮَﺍِﻋِﺪ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺡِ ﻓَﻬِﻲَ ﻣُﺒَﺎﺣَﺔٌ . ﻭَﻟِﻠْﺒِﺪَﻉِ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺒَﺔِ ﺃَﻣْﺜِﻠَﺔٌ : ﺃَﺣَﺪُﻫَﺎ : ﺍْﻻِﺷْﺘِﻐَﺎﻝُ ﺑِﻌِﻠْﻢِ ﺍﻟﻨَّﺤْﻮِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻳُﻔْﻬَﻢُ ﺑِﻪِ ﻛَﻼَﻡُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻛَﻼَﻡُ ﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻭَﺍﺟِﺐٌ ﻷَﻥَّ ﺣِﻔْﻆَ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔِ ﻭَﺍﺟِﺐٌ ﻭَﻻَ ﻳَﺘَﺄَﺗَّﻰ ﺣِﻔْﻈُﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﺑِﻤَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﺫَﻟِﻚَ، ﻭَﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﺘِﻢُّ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺇِﻻَّ ﺑِﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﻭَﺍﺟِﺐٌ . ﺍﻟْﻤِﺜﺎﻝُ ﺍﻟﺜﺎَّﻧِﻲْ : ﺍﻟْﻜَﻼَﻡُ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﺠَﺮْﺡِ ﻭَﺍﻟﺘَّﻌْﺪِﻳْﻞ ﻟِﺘَﻤْﻴِﻴْﺰِ ﺍﻟﺼَّﺤِﻴْﺢِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻘِﻴْﻢِ . ﻭَﻟِﻠْﺒِﺪَﻉِ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻣَﺔِ ﺃَﻣْﺜِﻠَﺔٌ : ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﺬْﻫَﺐُ ﺍﻟْﻘَﺪَﺭِﻳَّﺔِ، ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﺬْﻫَﺐُ ﺍﻟْﺠَﺒَﺮِﻳَّﺔِ، ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﺬْﻫَﺐُ ﺍﻟْﻤُﺮْﺟِﺌَﺔِ، ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﺬْﻫَﺐُ ﺍﻟْﻤُﺠَﺴِّﻤَﺔِ . ﻭَﺍﻟﺮَّﺩُّ ﻋَﻠﻰَ ﻫَﺆُﻻَﺀِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺒِﺪَﻉِ ﺍﻟﻮَﺍﺟِﺒَﺔِ . ﻭَﻟِﻠْﺒِﺪَﻉِ ﺍﻟْﻤَﻨْﺪُﻭْﺑَﺔِ ﺃَﻣْﺜِﻠَﺔٌ : ﻣِﻨْﻬَﺎ : ﺇِﺣْﺪَﺍﺙُ ﺍﻟْﻤَﺪَﺍﺭِﺱِ ﻭَﺑِﻨَﺎﺀُ ﺍﻟْﻘَﻨَﺎﻃِﺮِ، ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﻛُﻞُّ ﺇِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻬَﺪْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ﺍْﻷَﻭَّﻝِ، ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﺘَّﺮَﺍﻭِﻳْﺢِ .. ﻭَﻟِﻠْﺒِﺪَﻉِ ﺍﻟْﻤَﻜْﺮُﻭْﻫَﺔِ ﺃَﻣْﺜِﻠَﺔٌ : ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﺧْﺮَﻓَﺔُ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺟِﺪِ، ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﺗَﺰْﻭِﻳْﻖُ ﺍﻟْﻤَﺼَﺎﺣِﻒِ . ﻭَﻟِﻠْﺒِﺪَﻉِ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺣَﺔِ ﺃَﻣْﺜِﻠَﺔٌ : ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍﻟﺘَّﻮَﺳُّﻊُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﺬِﻳْﺬِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺂﻛِﻞِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺸَﺎﺭِﺏِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻼَﺑِﺲِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻦِ، ﻭَﻟُﺒْﺲُ ﺍﻟﻄَّﻴَﺎﻟِﺴَﺔِ، ﻭَﺗَﻮْﺳِﻴْﻊُ ﺍْﻷَﻛْﻤَﺎﻡ
ِ
“Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah. Bid’ah terbagi menjadi lima; bid’ah wajibah, bid’ah muharramah, bid’ah mandubah, bid’ah makruhah dan bid’ah mubahah. Dan jalan untuk mengetahui hal itu adalah dengan membandingkan bid’ah pada kaedah-kaedah syariat. Apabila bid’ah itu masuk pada kaidah wajib, maka menjadi bid’ah wajibah. Apabila masuk pada kaidah haram, maka bid’ah muharramah. Apabila masuk pada kaidah sunat, maka bid’ah mandubah. Dan apabila masuk pada kaidah mubah, maka bid’ah mubahah.
Bid’ah wajibah memiliki banyak contoh. Salah satunya adalah menekuni ilmu nahwu sebagai sarana memahami Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Hal ini hukumnya wajib, karena menjaga syariat itu wajib dan tidak mungkin dapat menjaganya tanpa mengetahui ilmu nahwu. Sedangkan sesuatu yang menjadi sebab terlaksananya perkara wajib, maka hukumnya wajib. Contoh kedua, pembahasan mengenai jarh dan
ta’dil untuk membedakan hadits yang shahih dan yang lemah.
Bid’ah muharramah memiliki banyak contoh, diantaranya bid’ah ajaran orang-orang Qadariyah, Jabariyah, Murji’ah dan Mujassimah. Sedangkan menolak terhadap bidah-bid’ah tersebut termasuk hukumnya wajib.
Bid’ah mandubah memiliki banyak contoh, diantaranya mendirikan sekolah-sekolah dan setiap kebaikan yang tidak pernah dikenal pada abad pertama, dan diantaranya shalat Tarawih (berjamaah dalam satu imam).
Bid’ah makruhah memiliki banyak contoh, diantaranya memperindah bangunan masjid dan menghiasi mushhaf Al-Quran.
Bid’ah mubahah memiliki banyak contoh, diantaranya menjamah makanan dan minuman yang lezat-lezat, pakaian yang indah, tempat tinggal yang mewah, memakai songkok thaylasan, memperlebar lengan baju dan lain-lain.” (Qawa’id Al-Ahkam fi Mashalih Al-Anam, 2/133)

Pandangan Al-Imam Izzuddin bin Abdissalam ini yang membagi bid’ah menjadi lima bagian dianggap sebagai pandangan yang final dan diikuti oleh mayoritas ulama terkemuka dari kalangan fuqaha dan ahli hadits.

4. Imam Nawawi

Imam Muhaddits al Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an Nawawi juga membagi bid’ah secara umum kepada dua bagian. Ketika membicarakan masalah bidah, beliau mengatakan:

ﺍَﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺑِﻜَﺴْﺮِ ﺍْﻟﺒَﺎﺀِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻫِﻲَ ﺇِﺣْﺪَﺍﺙُ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻲ ﻋَﻬْﺪِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ، ﻭَﻫِﻲَ ﻣُﻨْﻘَﺴِﻤَﺔٌ ﺇِﻟﻰ : ﺣَﺴَﻨَﺔٍ
ﻭَﻗَﺒِﻴﺤَﺔٍ.

Bid’ah –dengan mengkasroh huruf ba– menurut syariat adalah segala sesuatu yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah SAW. Bid’ah terbagi menjadi dua, baik dan buruk. (Tahdzib al Asma wa al Lughat 3/298 )

Secara lebih rinci, Imam Nawawi bahkan membagi bid’ah kepada lima bagian. Beliau melanjutkan:

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤُﺠْﻤَﻊُ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﻣَﺎﻣَﺘِﻪِ ﻭَﺟَﻼَﻟَﺘِﻪِ ﻭَﺗَﻤَﻜُّﻨِﻪِ ﻓِﻲ ﺃَﻧْﻮَﺍﻉِ ﺍْﻟﻌُﻠُﻮﻡِ ﻭَﺑَﺮَﺍﻋَﺘِﻪِ ﺃَﺑُﻮ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻋَﺒْﺪُ ﺍْﻟﻌَﺰِﻳﺰِ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡِ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺭَﺿِﻲَ ﻋَﻨْﻪُ ﻓِﻲ ﺁﺧِﺮِ ﻛِﺘَﺎﺏِ “ ﺍﻟﻘَﻮَﺍﻋِﺪِ :” ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻣُﻨْﻘَﺴِﻤَﺔٌ ﺇِﻟﻰ : ﻭَﺍﺟِﺒَﺔٍ، ﻭَﻣُﺤَﺮََّﻣَﺔٍ، ﻭَﻣَﻨْﺪُﻭﺑَﺔٍ، ﻭَﻣَﻜْﺮُﻭﻫَﺔٍ، ﻭَﻣُﺒَﺎﺣَﺔٍ . ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖُ ﻓِﻲ ﺫﻟِﻚَ ﺃَﻥْ ﺗُﻌْﺮَﺽَ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻋَﻠﻰ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳﻌَﺔِ، ﻓَﺈِﻥْ ﺩَﺧَﻠَﺖْ ﻓِﻲ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍْﻹِﻳْﺠَﺎﺏِ ﻓَﻬِﻲَ ﻭَﺍﺟِﺒَﺔٌ، ﺃَﻭْ ﻓِﻲ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍﻟﺘَّﺤْﺮِﻳﻢِ ﻓّﻤُﺤَﺮَّﻣَﺔٌ، ﺃَﻭِ ﺍﻟﻨَّﺪْﺏِ ﻓَﻤَﻨْﺪُﻭﺑَﺔٌ، ﺃَﻭِ ﺍْﻟﻤَﻜْﺮُﻭﻩِ ﻓَﻤَﻜْﺮُﻭﻫَﺔٌ، ﺃَﻭِ ﺍْﻟﻤُﺒَﺎﺡِ ﻓَﻤُﺒَﺎﺣَﺔٌ ،

Telah berkata Syaikh dan Imam yang telah disepakati ketokohannya, keagungannya dan kekokohannya dalam berbagai fan ilmu serta kejeniusannya Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdissalam menyebut di akhir buku beliau, al-Qawa`id (al-Kubra): “Bid’ah itu terbagi pada perkara-perkara wajib (wajibat), haram (muharramat), sunnah (mandubat), makruh (makruhat) dan boleh (mubahat). Seharusnya, cara menilai suatu Bid’ah itu dengan melihat kaidah syariat (qawaid syariah). Jika ia masuk dalam kategori kewajiban (ijab) maka jadilah ia Wajib, jika ia termasuk dalam keharaman maka jadilah ia Haram, jika ia termasuk hal yang mendatangkan keutamaan, maka jadilah ia sunah, apabila ia termasuk hal yang buruk maka jadilah ia makruh dan seterusnya. Selebihnya adalah bid’ah yang boleh.” (Tahdzib Al-Asma wa al-Lughat 3/298 )

5. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani.

Imam al hafidz Ibnu Hajar al Asqalani, Ahli hadits dan ahli fiqih bermadzhab Syafii. Secara umum beliau membagi bid’ah menjadi dua, dan secara rinci beliau membaginya menjadi lima bagian. Dalam kitabnya Fath al Bari, beliau mengatakan:

ﻭَﻛُﻞّ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻲ ﺯَﻣَﻨِﻪِ ﻳُﺴَﻤَّﻰ ﺑِﺪْﻋَﺔً ، ﻟَﻜِﻦَّ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺑِﺨِﻠَﺎﻑِ ﺫَﻟِﻚَ
Segala sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi SAW dinamakan bidah. Akan tetapi sebagian bid’ah itu ada yang baik dan sebagian lagi ada yang sebaliknya (buruk) (Fath al Bari 4/318)

Di tempat lain beliau berkata:

ﻭَﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺃَﺻْﻠُﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻴْﺮِ ﻣِﺜَﺎﻝٍ ﺳَﺎﺑِﻖٍ ﻭَﺗُﻄْﻠَﻖُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓِﻲْ ﻣُﻘَﺎﺑِﻞِ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻓَﺘَﻜُﻮْﻥُ ﻣَﺬْﻣُﻮْﻣَﺔً ﻭَﺍﻟﺘَّﺤْﻘِﻴْﻖُ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻨْﺪَﺭِﺝُ ﺗَﺤْﺖَ ﻣُﺴْﺘَﺤْﺴَﻦٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓَﻬِﻲَ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻨْﺪَﺭِﺝُ ﺗَﺤْﺖَ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﺢٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓَﻬِﻲَ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﺤَﺔٌ ﻭَﺇِﻻَّ ﻓَﻬِﻲَ ﻣِﻦْ ﻗِﺴْﻢِ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺡِ ﻭَﻗَﺪْ ﺗَﻨْﻘَﺴِﻢُ ﺇِﻟَﻰ ﺍْﻷَﺣْﻜَﺎﻡِ ﺍﻟْﺨَﻤْﺴَﺔِ.

“Secara bahasa, bid’ah adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Dalam syariat, bid’ah diucapkan sebagai lawan sunnah, sehingga bid’ah itu pasti tercela. Sebenarnya, apabila bid’ah itu masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap baik menurut syariat, maka disebut bid’ah hasanah. Bila masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap buruk menurut syariat, maka disebut bid’ah mustaqbahah (tercela). Dan bila tidak masuk dalam naungan keduanya, maka menjadi bagian mubah (boleh). Dan bid’ah itu dapat dibagi menjadi lima hukum.” (Fath Al-Bari, 4/253).

6. Hujjatul Islam Imam Ghazali

Hujjatul Islam, al Imam Muhammad bin Muhammad al Ghazali dalam masterpiece-nya Ihya Ulumiddin menyatakan:

ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﺇﻧَّﻪُ ﺃُﺑْﺪِﻉَ ﺑَﻌْﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻛُﻞُّ ﻣَﺎ ﺃُﺑْﺪِﻉَ ﻣَﻨْﻬِﻴّﺎً، ﺑَﻞِ ﺍْﻟﻤَﻨْﻬِﻲُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﺗُﻀَﺎﺩُّ ﺳُﻨَّﺔً ﺛَﺎﺑِﺘَﺔً ﻭَﺗَﺮْﻓَﻊُ ﺃَﻣْﺮﺍً ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻣَﻊَ ﺑَﻘَﺎﺀِ ﻋِﻠَّﺘِﻪِ، ﺑَﻞِ ﺍْﻹِﺑْﺪَﺍﻉُ ﻗَﺪْ ﻳَﺠِﺐُ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﺾِ ﺍْﻷَﺣْﻮَﺍﻝِ ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻐَﻴَّﺮَﺕِ ﺍْﻷَﺳْﺒَﺎﺏ
ُ
“Apa yang dikatakan bahwa itu (kenyang) adalah baru dilakukan setelah Rasulullah maka tidaklah semua perkara bid’ah itu dilarang. Yang dilarang adalah yang bertentangan dengan sunnah tsabitah dan menghilangkan suatu perkara syariat bersama tetapnya illatnya. Bahkan terkadang membuat hal baru (bidah) itu menjadi wajib ketika situasinya berubah.” (Ihya Ulumiddin, Adabul `Akl 2/3)
Pada kesempatan lain, Imam Ghazali berkata ketika mengulas masalah penambahan titik pada al Quran:

ﻭَﻻَ ﻳَﻤْﻨَﻊُ ﻣِﻦْ ﺫﻟِﻚَ ﻛَﻮْﻧُﻪُ ﻣُﺤْﺪَﺛﺎً ﻓَﻜَﻢْ ﻣِﻦْ ﻣُﺤْﺪَﺙٍ ﺣَﺴَﻦ ﻛَﻤَﺎ ﻗِﻴﻞَ ﻓﻲ ﺇِﻗَﺎﻣَﺔِ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋﺎَﺕِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﺮَﺍﻭِﻳﺢِ ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﻋُﻤَﺮَ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭَﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ . ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺍْﻟﻤَﺬْﻣُﻮﻣَﺔُ ﻣَﺎ ﻳُﺼَﺎﺩِﻡُ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﺍﻟﻘَﺪِﻳﻤَﺔَ ﺃَﻭْ ﻳَﻜَﺎﺩُ ﻳُﻔْﻀِﻲ ﺇﻟﻰ ﺗَﻐْﻴِﻴﺮِﻫَﺎ .

“Hakikat bahwa ia adalah perkara baru yang diadakan tidaklah menghalanginya untuk dilakukan. Banyak sekali perkara baru yang terpuji, seperti sembahyang Tarawih berjamaah, ia adalah Bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ra, tetapi dipandang sebagai Bid’ah yang baik (Bid’ah Hasanah). Adapun Bid’ah yang dilarang dan tercela, ialah segala hal baru yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW atau yang bisa merubah Sunnah itu. (Ihya Ulumiddin, I : 276)

7. Imam Ibnu Atsir

Imam al Hafizh Ibnu Atsir al Jazari, pakar hadits dan bahasa, juga membagi bid’ah menjadi dua bagian; bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (buruk). Dalam kitabnya, Al-Nihayah fi Gharib al Hadits wa al Atsar, beliau mengatakan:

ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺑِﺪْﻋَﺘَﺎﻥِ ﺑِﺪْﻋَﺔُ ﻫُﺪًﻯ ﻭَﺑِﺪْﻋَﺔُ ﺿَﻼَﻝٍ ﻓَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲْ ﺧِﻼَﻑِ ﻣَﺎ ﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺰِ ﺍﻟﺬَّﻡِّ ﻭَﺍْﻹِﻧْﻜَﺎﺭِ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻭَﺍﻗِﻌًﺎ ﺗَﺤْﺖَ ﻋُﻤُﻮْﻡٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺪَﺏَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻭَﺣَﺾَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻲْ ﺣَﻴْﺰِ ﺍﻟْﻤَﺪْﺡِ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﻣِﺜَﺎﻝٌ ﻣَﻮْﺟُﻮْﺩٌ ﻛَﻨَﻮْﻉٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠُﻮْﺩِ ﻭَﺍﻟﺴَّﺨَﺎﺀِ ﻭَﻓِﻌْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻑِ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﻓْﻌَﺎﻝِ ﺍﻟْﻤَﺤْﻤُﻮْﺩَﺓِ ﻭَﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲْ ﺧِﻼَﻑِ ﻣَﺎ ﻭَﺭَﺩَ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉُ ﺑِﻪ
ِ
“Bid’ah ada dua macam: bid’ah huda (sesuai petunjuk agama) dan bid’ah dhalal (sesat). Bid’ah yang menyalahi perintah Allah dan Rasulullah, tergolong bid’ah tercela dan ditolak. Sedangkan bid’ah yang berada di bawah naungan keumuman perintah Allah dan sesuatu yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tergolong bid’ah terpuji. Sesuatu bid’ah (hal baru) yang belum pernah ada yang serupa sebelumnya seperti jenis kedermawanan yang baru atau kebajikan yang baru tentunya itu termasuk hal terpuji dan tidak mungkin digolongkan kepada sesuatu yang menyalahi syariat.” (An Nihayah fi Gharib al Atsar 1/267)

8. Imam Abu Syamah

Imam Abu Syamah, guru Imam Nawawi, penolong sunah dan pembasmi bidah, dalam kitabnya tentang mengingkari bid’ah mengatakan:

 ( ﻓﺼﻞ ‏) ﺛُﻢَّ ﺍْﻟﺤَﻮَﺍﺩِﺙُ ﻣُﻨْﻘَﺴِﻤَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺑِﺪَﻉٍ ﻣُﺴْﺘَﺤْﺴَﻨَﺔٍ ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺑِﺪَﻉٍ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﺤَﺔٍ ﻓَﺎْﻟﺒِﺪَﻉُ ﺍْﻟﺤَﺴَﻨَﺔُ ﻣُﺘَّﻔَﻖٌ ﻋَﻠﻰ ﺟَﻮَﺍﺯِ ﻓِﻌْﻠِﻬَﺎ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺏِ ﻟَﻬﺎ ﻭَﺭَﺟَﺎﺀِ ﺍﻟﺜَّﻮَﺍﺏِ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﺴُﻨَﺖْ ﻧِﻴَّﺘُﻪُ ﻓﻴﻬَﺎ
ﺍﻟﺒﺎﻋﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﻧﻜﺎﺭ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﺤﻮﺍﺩﺙ ‏( ﺹ : 12)

Fasal. Kemudian hal-hal yang baru itu terbagi menjadi bid’ah-bid’ah yang baik dan bidah-bid’ah yang buruk. Adapun bid’ah yang baik maka itu disepakati kebolehan melakukannya dan kesunahannya dan mengharapkan imbalan pahala bagi orang yang baik niatnya dalam melakukannya. (al Baits `Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal 12)

9. Imam Sakhawi

Imam agung dalam madzhab Syafii, as Syakhawi dalam kitabnya Fathul Mughits mengatakan mengenai bidah:

ﻭَﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻫِﻲَ ﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ﻋَﻠﻰَ ﻏَﻴْﺮِ ﻣِﺜَﺎﻝٍ ﻣُﺘَﻘَﺪِّﻡٍ ﻓَﻴَﺸْﻤُﻞُ ﺍْﻟﻤَﺤْﻤُﻮﺩَ ﻭَﺍْﻟﻤَﺬْﻣُﻮﻡَ ﻭَﻟِﺬَﺍ ﻗَﺴَﻤَﻬَﺎ ﺍْﻟﻌِﺰُّ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡِ ﻛَﻤَﺎ ﺳَﺄُﺷِﻴﺮُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﺘَّﺴْﻤِﻴﻊِ ﺑِﻘِﺮَﺍﺀَﺓِ ﺍﻟﻠَّﺤَّﺎﻥِ ﺍِﻟَﻰ ﺍْﻷَﺣْﻜَﺎﻡِ ﺍْﻟﺨَﻤْﺴَﺔِ ﻭَﻫُﻮَ ﻭَﺍﺿِﺢٌ ﻭَﻟﻜِﻨَّﻬَﺎ ﺧُﺼَّﺖْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﺑِﺎْﻟﻤَﺬْﻣُﻮﻡِ ﻣِﻤَّﺎ ﻫُﻮَ ﺧِﻼَﻑُ ﺍﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Bid’ah itu adalah sesuatu yang dibuat tanpa ada contoh terdahulu sebelumnya. Ia mencakup yang baik dan yang tercela. Oleh sebab itu al Izz bin Abdis Salam membaginya, sebagaimana akan aku isyaratkan insya Allah ketika membahas masalah memperdengarkan qiroah yang lahn, kepada lima hukum. Itu jelas, akan tetapi bid’ah dikhususkan secara syariat kepada yang tercela dari apa yang bertentangan dengan yang makruf dari Nabi saw (Fathul Mughits juz 1/326-327)

10. Imam Suyuthi

Imam Suyuthi dalam Syarah Muwaththo mengatakan:

ﺗُﻄْﻠَﻖُ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻋَﻠﻰَ ﻣَﺎ ﻳُﻘَﺎﺑِﻞُ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﺃَﻱْ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻲ ﻋَﻬْﺪِﻩِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺛُﻢَّ ﺗَﻨْﻘَﺴِﻢُ ﺇِﻟﻰَ ﺍْﻷَﺣْﻜَﺎﻡِ ﺍْﻟﺨَﻤْﺴَﺔ
ِ
Dalam syariat bid’ah digunakan untuk apa yang menjadi lawan dari sunnah, maksudnya sesuatu yang tidak ada di zaman Rasululllah saw kemudian bid’ah terbagi menjadi lima hukum. (Syarah Muwatho juz 1/105)

11. Ibnu Hajar al Haitami

Imam Ibnu Hajar al Haitami dalam al Fatawa al Haditsiyah mengatakan:

ﻭَﻗَﻮْﻝُ ﺍﻟﺴَّﺎﺋِﻞِ : ﻫَﻞِ ﺍْﻻِﺟْﺘِﻤَﺎﻉُ ﻟِﻠْﺒِﺪَﻉِ ﺍْﻟﻤُﺒَﺎﺣَﺔِ ﺟَﺎِﺋﺰٌ ؟ ﺟَﻮَﺍﺑُﻪُ : ﻧَﻌَﻢْ ﻫُﻮَ ﺟَﺎﺋِﺰٌ ، ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌِﺰُّ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡِ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ : ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻓِﻌْﻞُ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻬَﺪْ ﻓِﻲ ﻋَﻬْﺪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭَﺗَﻨْﻘَﺴِﻢُ ﺇِﻟَﻰ ﺧَﻤْﺴَﺔِ ﺃَﺣْﻜَﺎﻡٍ …

Adapun pertanyaan penanya, “Apakah berkumpul untuk melakukan bidah-bid’ah yang boleh itu diperbolehkan?
Jawabannya: Benar itu diperbolehkan. Berkata al Izz bin Abdis salam ra: Bid’ah itu adalah melakukan apa yang tidak ada di masa Nabi saw dan ia terbagi menjadi lima hukum… (Al Fatawa al Haditsiyah juz 1/150)

12. Imam al Munawi

Dalam faidhul Qodir, Imam al Munawi mengatakan:

ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺧَﻤْﺴَﺔُ ﺃَﻧْﻮَﺍﻉٍ : ﻣُﺤَﺮَّﻣَﺔٌ ﻭَﻭَﺍﺟِﺒَﺔٌ ﻭَﻣَﻨْﺪُﻭﺑَﺔٌ ﻭَﻣَﻜْﺮُﻭﻫَﺔٌ ﻭَﻣُﺒَﺎﺣَﺔ
ٌ
Bid’ah ada lima macam: Haram, wajib, sunah, makruh dan mubah. (Faidhul Qodir juz 1/440)

13. Imam ad Dimyati

Imam ad Dimyati, ahli fiqih madzhab Syafii dalam kitab monumentalnya I`anat at Thalibin menyatakan:

ﻭَﺍﻟْﺤﺎَﺻِﻞُ ﺃَﻥَّ ﺍْﻟﺒِﺪَﻉَ ﺍْﻟﺤَﺴَﻨَﺔَ ﻣُﺘَّﻔَﻖٌ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺪْﺑِﻬَﺎ، ﻭَﻫِﻲَ ﻣَﺎ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻣَﺮَّ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻠْﺰَﻡْ ﻣِﻦْ ﻓِﻌْﻠِﻪِ ﻣَﺤْﺬُﻭﺭٌ ﺷَﺮْﻋِﻲٌّ . ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﻓَﺮْﺽُ ﻛِﻔَﺎﻳَﺔٍ ، ﻛَﺘَﺼْﻨِﻴﻒِ ﺍْﻟﻌُﻠُﻮﻡِ .

Kesimpulannya bahwa bidah-bid’ah hasanah disepakati kesunahannya. Bid’ah hasanah adalah apa yang sesuai dengan dalil yang telah disebutkan. Dan perbuatannya tidak mengakibatkan hal yang terlarang secara syariat. Sebagian dari bid’ah ada yang hukumnya fardhu kifayah seperti penulisan ilmu-ilmu. (Hasyiyah i`anatith tholibin juz 1/271)

Semoga Bermanfaat
Baca selengkapnya
loading...