Showing posts with label Mengapa. Show all posts
Showing posts with label Mengapa. Show all posts

Thursday, 21 September 2017

Foto Aidit Pegang Rokok, Membungkam Kebohongan Anak Aidit!

[LASKARSYAHADAT] anak dan Cucu PKI adalah pembohong dan Tak Akan Mau kalah!

ILHAM AIDIT anak D. N.  AIDIT yang menjadi narasumber pada acara ILC 'PKI, Nyata atau Hantu'  mengomentari film khususnya tokoh Aidit yang katanya tidak merokok. Benarkah? Foto berikut ini menjawab kebohongan anak dan keturunan PKI


Baca selengkapnya

Purn. Jend. Suryo Prabowo : Warning PKI, September Ceria?

[laskarsyahadat] SEPTEMBER CERIA ?

Kalau di AS .....
ada yang namanya 'Miranda Warning'* yang diantaranya mengingatkan;

"..... seseorang yang yang 'ditangkap' diberitahu bahwa, dia berhak DIAM, dan apa pun yang dikatakan orang tersebut akan digunakan untuk melawannya di pengadilan ....."


di INDONESIA ..... koq LAIN ya ?

Suatu kasus dugaan korupsi, misalnya dugaan korupsi dalam pengadaan heli AW 101, koq justru malah 'diumbar dan dibela habis-habisan' melalui tv dan majalah, oleh tersangka dan simpatisan terduga koruptor.

Apa emang gitu ya ?
Setelah kekuatan Islam diobok-obok dan dipecah-belah dengan menggunakan isu Ahok, radikal, dan kebangkitan komunis, lalu sekarang gilirannya TNI yang diusik soliditasnya dengan menggunakan isu kebangkitan komunis dan dugaan korupsi pengadaan heli AW 101.

Koq kegaduhan dibulan September 2017 ini mirip yang terjadi dibulan yang sama ditahun 1965. Apakah sejarah kita memang akan berulang lagi ?

o ya, lagu .....
kalau lagu "SEPTEMBER CERIA" itu hoax, apa nggak sebaiknya diganti saja judulnya menjadi 'September Gaduh'.

Benernya apa sih ya, yang disembunyikan, koq sampai harus membuat kegaduhan dibulan September ini ?
____________________
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Miranda_warning
Baca selengkapnya

Rezim Jokowi Menjalin Kedekatan dengan RRC, Peristiwa 1965 Bisa Terulang KEMBALI PKI Akan Membunuh kaum Religius!

[laskarsyahadat] Kedekatan dengan RRC, Peristiwa 1965 Bisa Terulang Kembali...

Ilmuwan Ceko Bongkar Konspirasi di Balik Kudeta PKI 1965

Kudeta 1 Oktober 1965 yang ditulis ilmuwan Ceko, Victor Miroslav Vic, mengungkap detail teori konspirasi di balik kudeta berdarah PKI 40 tahun lalu. Terutama tentang peran Ketua Partai Komunis China Mao Zedong.


Mao Minta Habisi dengan Sekali Pukul

PESAWAT kepresidenan Jetstar yang membawa Presiden Soekarno dan 80 anggota rombongan, termasuk Ketua CC (Committee Central) PKI Dipo Nusantara (D.N.) Aidit, meninggalkan tanah air menuju Aljazair guna menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) II. Pesawat transit di Kairo, Mesir, 26 Juni 1965.

Mendadak ada kabar bahwa Presiden Aljazair Ben Bella dikudeta. KAA pun ditunda hingga 5 November 1965. Bung Karno kemudian memutuskan pulang ke tanah air. Sedangkan rombongan kecil yang dipimpin Aidit melawat ke Peking (Beijing), China. Salah satu di antara mereka adalah Nyono.

Setibanya di tanah air, penyakit ginjal Bung Karno kambuh lagi. Tim dokter China yang merawat Bung Karno sejak 1960 mendiagnosis bahwa kali ini penyakitnya makin gawat. Bahkan, tim dokter China itu memperkirakan, sewaktu-waktu jika penyakit Bung Karno kambuh lagi nyawanya tak tertolong. Keadaan ini makin mematangkan rencana PKI mengambil alih kekuasaan dari tangan Bung Karno. Yakni, dengan menyingkirkan rival utamanya lebih dahulu: para jenderal TNI AD.

Gawatnya kesehatan Bung Karno itu terlihat dari perintah pemanggilan mendadak Aidit dan Nyono oleh sang pemimpin besar revolusi itu lewat Menlu Soebandrio. Keduanya diminta segera pulang ke tanah air. Lewat kawat, Aidit menjawab akan pulang pada 3 Agustus 1965.

Pada 4 Agustus 1965, kesehatan Bung Karno terus memburuk. Dia tiba-tiba muntah-muntah sebanyak 11 kali, ditambah hilang kesadaran empat kali. Dokter kepresidenan, Dr Mahar Mardjono, pun mendadak dipanggil ke kamar Bung Karno di Istana Negara. Saat itu sudah ada tim dokter China.

Belakangan, diduga keras ternyata diagnosis dokter China tadi berkaitan erat dengan rencana PKI mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Rencana ini muncul setelah Aidit bertemu Mao Tze Tung (Mao Zedong) di China. Sebab, posisi Bung Karno sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi Angkatan Bersenjata sangat menentukan arah politik Indonesia.

Mao Zedong
Kalau sampai Bung Karno mangkat, sudah bisa ditebak akan terjadi perebutan kekuasaan antara PKI dan TNI-AD. Saling mendahului dan saling jegal antara kekuatan saat itu sangat mewarnai politik Indonesia 1965. “Ternyata diagnosis tim dokter China terbukti keliru. Sebab, Bung Karno baru meninggal tujuh tahun kemudian,” ungkap Ketua LIPI Taufik Abdulah dalam bedah buku di Yayasan Obor yang menerbitkan buku karya Miroslav kemarin.

Dugaan lain yang menguatkan bahwa PKI akan mengambil alih kekuasaan di Indonesia terekam dalam pembicaraan Ketua Partai Komunis China Mao Tze Tung dan Ketua CC PKI DP Aidit yang menemuinya Zhongnanghai, sebuah perkampungan dalam dinding-dinding kota terlarang di China.

“Kamu harus mengambil tindakan cepat,” kata Mao kepada Aidit.

“Saya khawatir AD akan menjadi penghalang,” keluh Aidit ragu-ragu.

“Baiklah, lakukan apa yang saya nasihatkan kepadamu; habisi semua jenderal dan perwira reaksioner itu dalam sekali pukul. Angkatan Darat akan menjadi seekor naga yang tidak berkepala dan akan mengikutimu,” ungkap Mao berapi-api.

“Itu berarti membunuh beratus-ratus perwira,” tanya Aidit lagi.

“Di Shensi Utara, saya membunuh lebih dari 20 ribu orang kader dalam sekali pukul saja,” tukas Mao.

Setelah menemui Mao, Aidit disertai dua dokter China, Dr Wang Hsing Te dan Dr Tan Min Hsuen (salah satu di antaranya diyakini Miroslav sebagai perwira intelijen China) terbang ke Jakarta guna mendeteksi kesehatan Bung Karno. Pada 7 Agustus 1965, mereka menghadap Bung Karno di Istana Merdeka.

Soekarno dan D.N. Aidit
Esoknya, 8 Agustus 1965, Aidit kembali menemui Bung Karno di Istana Bogor untuk berbicara empat mata. Menurut Miroslav, saat bertemu secara pribadi dengan Bung Karno itulah, Aidit melaporkan hasil pembicaraannya dengan Mao Tze Tung. Misalnya, advis untuk menyingkirkan jenderal AD yang tidak loyal kepada presiden (baca dewan jenderal sebutan PKI bagi jenderal AD).

PKI sadar benar tidak mudah menyingkirkan para jenderal AD tanpa payung kekuasaan Soekarno. Kedua, membentuk Kabinet Gotong Royong dengan PKI sebagai pemegang kendali (dengan memasukkan para kadernya). Ketiga, setelah semua misi itu sukses, diam-diam PKI menyiapkan strategi untuk menyingkirkan Bung Karno secara halus. Caranya, China menawari Bung Karno untuk istirahat panjang di sebuah vila dekat Danau Angsa, China, guna mengobati penyakitnya.

“Itu sebenarnya cara licik Aidit dan Mao untuk menyingkirkan Bung Karno dari kekuasaannya setelah melapangkan jalan PKI mengambil alih kekuasaan,” ungkap Miroslav.

Cara itu pernah diterapkan Mao kepada Raja Kamboja Pangeran Norodom Sihanouk. Setelah China berhasil mengomuniskan Kamboja lewat Pol Pot. Giliran Jenderal Lon Nol mengudeta Sihanouk saat berkunjung ke Moskow. Saat Kremlin (baca Uni Sovyet) menolak memberikan suaka kepada Sihanouk, China dengan senang hati menawarkan tempat tinggal dan perawatan yang wah bagi Sihanouk. “Istrinya, Princess Monica, sangat menikmati pemberian China tadi,” tambah Miroslav.

Berdasar hasil rekonstruksi kejadian yang dibuat Miroslav, Bung Karno tampaknya sejalan dengan rencana Mao. Terbukti, lanjut Miroslav, Bung Karno memanggil Brigjen Subur, Komandan Resimen Tjakrabhirawa, dan Letkol Untung ke kamar tidurnya untuk bertanya pada mereka.

“Apakah dia (Untung) cukup berani menangkap para jenderal yang tidak loyal kepada presiden dan menentang kebijakannya?” tanya Bung Karno.

“Saya akan melakukan kalau diperintahkan,” jawab Untung saat itu.

Ketua LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Taufik Abdullah mengatakan, kevalidan sejarah seperti itu memang perlu diuji. Tapi, boleh jadi dugaan keras Miroslav tersebut ada benarnya.

Taufik membuat tamsil, ada sepasang pengantin masuk rumah. Saat keluar wajahnya terlihat lusuh. Orang bisa menduga, pasangan pengantin itu baru melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri. Tapi, tidak ada yang tahu persis. “Bisa juga wajah yang tampak loyo itu disebabkan mereka habis membersihkan rumah,” ujar Taufik.

“Miroslav pantas menduga kuat bahwa pembicaraan Aidit dan Bung Karno di kamar tidurnya adalah soal isi pertemuan Aidit dengan Mao,” tambah Taufik.

Mao Tze Tung, lanjut Miroslav, semula ingin menggandeng Bung Karno untuk menancapkan kekuasaan PKI di Indonesia. Tapi, dalam perkembangan selanjutnya, Bung Karno dinilai bukan sosok pemimpin yang cocok. Dia dianggap terlalu sembrono dan pembawaannya meledak-ledak. Tapi, Mao tetap membutuhkan Bung Karno untuk mengantarkan PKI berkuasa di Indonesia.

Soal pembawaan yang meledak-ledak tersebut pernah dilaporkan Menlu China Marsekal Chen Yi saat menemui Bung Karno, 3 Desember 1964. Ketika itu, Bung Karno menuntut China agar membagi teknologi nuklirnya dengan Indonesia. Bung Karno juga mendesak uji nuklir dilakukan di wilayah Indonesia. Tujuannya, memberi dampak psikologis kepada kawan dan lawan Indonesia. Tapi, Chen Yi menolak karena itu terlalu berbahaya. Bung Karno kontan naik pitam. “Sambil menggebrak meja, Bung Karno berdiri menudingkan telunjuknya ke arah Chen Yi,” ungkap Miroslav.

Akibat keragu-raguan Mao Tze Tung tersebut, akhirnya China menunda pengiriman 100 ribu pucuk senjata untuk angkatan kelima (baca buruh dan tani) seperti dijanjikan sebelumnya. Sebagai gantinya, Mao hanya mengirimkan 30 ribu pucuk senjata lewat beberapa kapal guna menghadapi jenderal AD yang reaksioner. Tapi, itu tidak gratis. Sebagai imbalannya, Mao minta presiden melapangkan jalan PKI menguasai Indonesia. “Soal perjanjian rahasia itu terungkap dalam surat Aidit 10 November 1965 yang dikirim ke Bung Karno,” terang Miroslav.

Jaringan intelijen yang dibangun PKI terus mengintesifkan pembicaraan dengan penguasa komunis China guna mempersiapkan pengambialihan kekuasaan di Indonesia. Kontak Aidit-Mao maupun Soebandrio-Chen Yi makin intensif menjelang pengambilalihan yang ternyata gagal itu.

Akhirnya, sejarah pun mencatat: pada 30 September 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan enam jenderal TNI-AD oleh pasukan Cakrabhirawa. Mereka lalu dibawa ke Lubang Buaya untuk dimakamkan.

Tapi, itu sekaligus pukulan balik bagi PKI. Pangkostrad Mayjen Soeharto berhasil mengorganisasikan berbagai kekuatan anti-PKI untuk memukul balik lawannya. Soeharto akhirnya menjadi penguasa Orba selama 30 tahun lebih.

Zaman dulu : Kena propaganda Masyumi ....
Zaman sekarang: Kena propaganda kelompok intoleran ....

KENA PROPAGANDA MASYUMI !!!

Di era Orde Lama, tahun 1957, Bung Karno pernah menyusun sebuah kabinet yang dinamakan "Kabinet Kaki Empat". Dinamakan demikian krna kabinet itu terdiri dri empat partai besar Pemilu 1955 yakni: PNI, NU, Masyumi, PKI.

PNI, Murba, dan PKI sepakat dgn konsep itu, tpi partai2 seperti Masyumi, NU, PSII, dan Partai Katolik menolak. Salah satu respon penolakan paling keras adalah dri kubu NU. Sebabnya adalah trauma masa lalu ketika PKI melakukan pembantaian terhadap para kiai NU di Madiun dan sekitarnya tahun 1948 silam.

Sikap keras NU membuat Bung Karno gusar. Maka diundanglah para pembesar NU seperti KH Wahab Chasbullah, KH Zainul Arifin, dan KH Idham Chalid untuk bertemu dengan Bung Karno hingga terjadilah dialog berikut ini:

Bung Karno (BK): Kenapa (NU) menolak Kabinet Kaki Empat?

KH Idham (KI): Karena banyak kiai NU yg disembelih (PKI) pda waktu peristiwa Madiun, itu blm trlupakan oleh kami.

BK: Kalau kamu blm bsa melupakan bgmna kita bernegara?

KI: Itulah, Pak. Sya ini membawa bkan hanya suara sya pribadi, tpi suara semua orang (NU).

BK: Tuan tuan ini keras kepala betul!

KI: Memang pak. Jikalau PKI ditaruh di bahu, dia akan naik kepala, itu pengalaman dinegara-negara komunis.

BK: Itu kan di negara lain.

KI: Buktinya, pak, sewaktu di Madiun kan (PKI) sudah menimbulkan korban banyak di kalangan rakyat.

BK: Ya itu kan lain, nanti sya yg menghadapi kalau mereka berani (memberontak) lagi.

KI: Lebih baik PKI jgn diberi angin saja. Kami punya keyakinan suatu saat PKI akan memberontak lgi. Kalau seandainya NU tidak pantas di Kabinet, sya dgn sukarela akan mengundurkan diri.

BK: Tidak. Ini prinsip saya. Kita harus kerja di satu meja, jga harus makan bersama di meja yang sama.

KI: Tidak bisa pak. Saya hanya satu di antara sekian juta orang NU yang memutuskan tidak bisa bekerjasama dengan PKI.

BK: Saudara tahu saya ini bukan PKI? Saya ini orang Islam, tapi kita ini harus mengurus dunia. Ada 6 juta suara (PKI) tidak diikutkan. Ini berbahaya.

KI: Kami berpendapat justru kalau (PKI) diikutkan berbahaya.

BK: Itu berarti saudara "kena propaganda Masyumi"!!

---------- selesai ---------

Jika sikap tegas yg ditunjukkan para kyai masa silam dicap BK sebagai "kena propaganda Masyumi" maka jgn heran jka sikap tegas Anda menolak infiltrasi paham merah dan liberal skarang akan dicap orang sebagai "kena paham Islam radikal"

Sumber :
Dialog disarikan dri buku "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah",editor Arief Mudatsir Mandan, yg dikutip H Abdul Mun'im DZ dlm buku "Benturan NU PKI 1948-1965"
Baca selengkapnya

10 PENEGASAN PANGLIMA TNI

[laskarsyahadat] *10 PENEGASAN PANGLIMA TNI:* oleh Edi Moerdoko

1. Memulai dengan mengucapkan 'Assalamu 'alaikum'.

2. Menegaskan apa yang dilakukan oleh TNI adalah urusan Panglima TNI, hak Panglima TNI.

3. Mempertanyakan mengapa sejak tahun 2008 tidak ada lagi pelajaran sejarah tentang PKI diajarkan
di Indonesia.


4. Menegaskan bahwa bangsa ini pernah punya masa kelam, dan jangan lagi terjadi.

5. Ketika sejak 1998-hari ini hanya ada satu film tentang PKI, maka hanya ini yang bisa ditonton. Adapun usulan Presiden RI untuk membuat film yang baru, didukung.

6. Terkait adanya pihak-pihak yang tidak setuju perintah Panglima TNI untuk menonton kembali film G30S/PKI, dijawab tegas EGP (Emang Gue Pikirin), yang jelas sejarah tetap harus disampaikan.

7. TNI sudah tahu namun tidak akan membuka apa yang TNI tahu tentang perkembangan Komunis di Indonesia, cukup internal TNI yang mengetahui.

8. Bangsa pemenang berawal dari pemahaman akan sejarah.

9. Komunis bisa menjadi Proxy War yang digunakan untuk merusak bangsa ini, dan TNI adalah musuh utama Komunis.

10. Panglima TNI menutup sesi di ILC, kembali dengan mengucap 'Assalamu 'alaikum'.

*PANGLIMA YANG SANTRI PENJAGA NKRI.*
Baca selengkapnya

Agent CIA Steven O'Brien: Jokowi Bermuka Dua?

[laskarsyahadat] Agent CIA Steven O'Brien: Jokowi Bermuka Dua?

Agen CIA Steven O'Brien saat ditemui di daerah Kuningan Jakarta mengatakan, Jokowi calon presiden yang bermuka dua? Bermuka dua adalah jalan untuk menjadi seorang pengkhianat bangsa yang dipimpin seorang pemimpin berkarakter seperti itu sangat berbahaya!

Menurut O'Brien, saya tidak pernah membayangkan seorang pemimpin menjijikan seperti Jokowi yang selalu menawarkan bangsa nya. Jokowi melalui pembicaraan telepon dan surat pribadi kepada negara negara kuat seperti Amerika, Inggris, memberikan pembuka 'apa yang kalian mau'?

Jokowi adalah tipe pemimpin 'marketing' yang memiliki otak target seorang manager pemasaran, tambah steven O'brien agen CIA. Kalau di negeri kami pemimpin seperti Jokowi tidak akan lebih menjadi seorang negoisiator diplomatik saja, yang kerjanya cuma menjilat!


Suatu malam Jokowi bilang 'yes' kepada Israel, besok dia bilang 'yes' kepada kami (Amerika; red), hari ini dia juga bilang 'yes' pada China?

Mister Jokowi adalah sebuah simbol keterwakilan jiwa ambisius dan tidak patriotik tambah O'brien yang selalu bicara menawarkan!

"Apa yang bangsa kalian bisa berikan kepada kami demi simpati dukungan dari kami," kata O'brien?

Apakah rakyat indonesia masih tertidur dan belum sadar juga :
Solo Ditinggal 1/2 main?
Jakarta Ditinggal 1/2 main?
President Hanya Di bilang petugas partai?

Akankah Kita Semuanya Membiarkan Jongos PKI (Komunis) Memimpin Negeri Indonesia Tercinta?

Oleh: Bang Dewa:
Baca selengkapnya

Tere Liye "Kelar Hidup Lu"!

[laskarsyahadat] *'Kelar hidup lu'

Kenal dengan foto ini?



Tidak kenal juga tidak apa. Sy juga tidak kenal. Terpisah jauh jarak dan waktu kita dengan beliau. Nama beliau adalah 'Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani'. Lahir di Serang tahun 1813 M, saat Belanda masih menjajah Indonesia. Otaknya dikenal encer sejak 5 tahun, usia 15 dia sudah naik haji, dan berguru dengan ulama2 mahsyur Arab. Kalau generasi sekarang, 15 masih SMP, beliau sudah jauh sekali merantau mencari ilmu.

Pulang ke Banten, dia menjadi ulama yang gagah berani melawan penjajahan Belanda. Repot sekali penjajah, karena jaman itu persis Pangeran Diponegoro juga sedang perang di tanah Jawa. Mencegah front besar terbuka, Belanda harus membatasi gerak-gerik Al Bantani, ceramahnya dilarang, semua dilarang, diawasi. Jangan sampai Al Bantani jadi Dipenogoro berikutnya. Tahun 1830, di tahun yg sama ketika Pangeran Diponegoro dijebak Belanda dengan cara licik, melihat situasi, Al Bantani memutuskan kembali ke Mekah.

Apakah dia lari dari melawan penjajahan? TIDAK. Dia justeru memulai episode baru melawan hal tersebut. Dia memutuskan menetap di Mekah, mengajar di sana, menggelorakan semangat kemerdekaan kepada cendekia, muslim Indonesia yang naik haji. Jaman itu sudah banyak penduduk Nusantara yg pergi menunaikan haji, naik kapal. Wah, wah, itu lebih serius lagi. Menanamkan pemahaman terbaik, semangat kemerdekaan, ke generasi berikutnya, itu sungguh berbahaya. Belanda mengutus Snouck Hourgronje, mematai-mati Al Bantani di Mekah. Si mata2 yg justeru terpesona melihat ahklak Al Bantani. Dalam beberapa catatan, Snouck memuji Al Bantani.

Nama Al Bantani mahsyur di Arab, dia bahkan diangkat jadi Imam masjidil Haram. Reputasinya hingga Mesir, dan negara2 tetangga. Orang2 tahu, ada ulama Indonesia yang tinggal Mekah, dan dia sedang melawan penjajah Belanda. Bukan beliau yang melawan penjajah secara langsung, tapi saksikanlah murid2nya. Ngeri melihat daftarnya, karena K.H. Hasyim Asyari (Pendiri Nahdhatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), adalah salah-dua dari murid2 yg sempat belajar kepada Al Bantani. Menurut cerita (tapi ini perlu divalidasi), K.H. Hasyim Asyari saat mengajar santri-santrinya di Pesantren Tebu Ireng menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarîb. Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di hati K.H. Hasyim Asyari hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan pada santri-santrinya.

Selain Al Bantani, juga ada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama Indonesia yang menjadi non-arab pertama imam masjidil haram. Juga tak terbilang jasa beliau mendidik tokoh2 pejuang kemerdekaan di tanah Mekah. Murid2nya juga buanyak.

Kenanglah Al Bantani (nama ini artinya 'dari Banten), ulama besar yang menulis setidaknya 115 buku, meninggal di tanah Arab tahun, 1897. Makam beliau bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq. Tidak terhitung murid2nya kemudian, menjadi pejuang kemerdekaan, hidup mati melawan penjajah Belanda. Besar sekali arti ulama2 di tanah Mekah bagi kemerdekaan Indonesia. Kagak ada mereka, (meminjam istilah anak muda kekinian) kelar hidup lu. Mungkin kita semua masih jadi jongos penjajah.

**kalau ada yg lebih tahu atas sejarah Al Bantani, harap diperbaiki, ikutlah menulis. seharusnya bukan sy yg menulis hal ini, karena sy ini lebih cocok menulis novel fantasi, jurus menghilang, teknik mengeluarkan petir, dll. tp entahlah, sy tdk tahu lagi siapa yg seharusnya menceritakan hal ini ke kalian. adik2 sekalian, ada benang merah yang telah terputus dalam sejarah bangsa ini. mulailah di pelajari kembali.
Baca selengkapnya

PKI Menggelar Seminar, Inilah KESAKSIAN DR. AMOROSO KATAMSI DAN PUTRI D.I. PANDJAITAN

[laskarsyahadat] KESAKSIAN DR. AMOROSO KATAMSI DAN PUTRI D.I. PANDJAITAN
==========================

Kemarin pagi di acara AKI (Apa Kabar Indonesia) Pagi, sekitar jam 06.40 wib, TV One menghadirkan dr. Amoroso Katamsi, pemeran Soeharto dalam film Pengkhianatan G30S PKI. Pak Amoroso Katamsi ditanya, umur berapa beliau ketika memerankan Soeharto. Dijawabnya ketika dimulai shooting tahun 1981 beliau berumur 43 tahun.
Lalu ditanya lagi umur berapa saat peristiwa G30S PKI terjadi. Beliau menjawab spontan "umur 27 tahun".
Ini artinya sinkron, beliau lahir tahun 1938.
Menurutnya saat itu dia sudah mahasiswa hampir selesai, tinggal menunggu pengambilan sumpah dokter saja.


Beliau lalu ditanya, apa yang diingatnya seputar kejadian tanggal 30 September  1965 dan sesudahnya.
Pak Amoroso menjelaskan bahwa dia ingat betul saat itu di pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 sekitar jam 7 pagi, RRI menyiarkan pidato Letkol Untung yang mengklaim bahwa ada gerakan 30 September serta pembentukan Dewan Revolusi,  kemudian mendemisionerkan kabinet, dll. Pokoknya seperti yang ditulis dalam buku-buku sejarah.
Baru pada sore/malam harinya, dari RRI ada pidato Pak Harto.

Ketika dikonfirmasi apakah cerita yang ada dalam film yang dirinya ikut berperan didalamnya sesuai/sama atau tidak dengan kejadian sebenarnya di saat itu, tegas dr. Amoroso Katamsi menjawab "SAMA! Sama dengan yang saya tahu".
Apalagi beliau saat itu adalah yang berhadapan dengan PKI, karena dia tergabung dalam HMI.

Nah, kesaksian dari seorang Amoroso Katamsi yang saat itu sudah berusia 27 tahun, pemuda yang berpendidikan baik, cerdas (djaman doeloe bisa sekolah sampai jadi dokter disaat sebagian besar orang sebangsanya cuma tamat SD/SMP, tentu tidak sembarangan lho!), seorang aktivis mahasiswa saat itu,  semestinya lebih layak dipercaya ketimbang kesaksian seseorang yang kala itu masih bocah usia 6 tahun yang cuma tahu bahwa bapaknya tidak merokok. Tanyalah apa yang disiarkan RRI, pasti dia tidak tahu. Anak kecil mana mudheng siaran berita serius.

Cerita seorang berpendidikan dokter, asli tidak aspal, yang sepanjang hidupnya tidak bermasalah soal integritas dirinya, juga lebih layak untuk dipertimbangkan ketimbang cerita seseorang yang pernah melakukan tindakan kebohongan.

* * *

Dua tahun lalu, September 2015, ketika ramai issu bahwa negara akan meminta maaf kepada PKI, plus adanya "pengadilan/gugatan" yang digelar di negeri Belanda, mengadili negara Republik Indonesia, dimana pak Todung Mulya Lubis dan ibu Nursyahbani Katjasungkana ikut hadir disana, acara ILC TV One juga mengupas seputar kejadian 30 September 1965.
Saat itu dihadirkan putera puteri jendral korban G30S dan juga anak tokoh PKI.
Putri para jendral yang  hadir saat itu ibu Amelia Yani dan ibu Catherine Pandjaitan.

Putri jendral Ahmad Yani, ibu Amelia Yani bercerita apa yang dia alami, lihat dan dengar sendiri malam itu. Pak Yani yang dibangunkan oleh pasukan Tjakra Bhirawa dan diminta segera ikut mereka dengan alasan dipanggil Paduka Jang Mulia (PJM) Presiden. Pak Yani meminta waktu untuk mandi dulu, namun tidak diijinkan karena harus cepat. Akhirnya Pak Yani menawar, setidaknya cuci muka dan ganti baju, namun anggota Tjakra Bhirawa yang sudah tidak sabar kemudian menembak Jendral Ahmad Yani dari belakang.

Apa yang diceritakan ibu Amelia Yani sama dengan yang ada dalam adegan film G30S PKI. Saat itu bu Amelia Yani usianya sudah belasan tahun. Artinya keterangan beliau cukup bisa dianggap valid.

Putri Jendral DI Pandjaitan, ibu Catherine, juga bercerita bagaimana beliau menyaksikan sendiri bagaimana proses ayahnya dibunuh dengan sadis. Saat itu usianya 17-18 tahun, dia melihat dari atas balkon rumahnya, ketika bapaknya dipukul dengan popor senjata kemudian ditembak tepat di kepala oleh Tjakra Bhirawa. Kemudian tubuhnya diseret sampai ke depan rumah. Lalu ketika di depan pagar rumah, tubuh jendral DI Pandjaitan dilemparkan lewat pagar kemudian dimasukkan ke dalam truk.

Catherine muda saat itu berusaha mengejar bapaknya yang diseret, tapi tentu saja tak terkejar. Dalam keputus-asaan dia histeris dan meraupkan ceceran darah bapaknya ke wajahnya. Catherine mengakui memang itu yang dilakukannya saat itu, sama persis dengan yang digambarkan dalam adegan film.

Kesaksian Catherine 2 tahun lalu, diulang tadi malam sekitar jam 8 di iNews TV. Ibu Catherine diwawancarai secara live by phone oleh host iNews, dan ditanya pendapatnya soal nyinyiran sebagian masyarakat yang mengatakan film G30S PKI adalah TIDAK SESUAI dengan kejadian sebenarnya alias TIDAK BENAR.
Catherine balik mempertanyakan : bagian mana yang tidak benar?!

Beliau kembali mengulang cerita kejadian 52 tahun lalu, sama persis dengan yang diceritakannya saat diundang hadir di ILC, 2 tahun lalu.
Sampai pada bagian dia melihat bapaknya dipukul dengan senjata lalu ditembak di kepala hingga otaknya berceceran, Catherine mengaku dia masih merinding saat menceritakan itu. Shocknya tidak mudah hilang bertahun-tahun karena dia menyaksikan sendiri kejadiaan malam itu, saat usianya 17 tahunan.

* * *

Jajang C. Noor, istri almarhum Arifin C. Noor sang sutradara film G30S PKI, malam ini juga dihadirkan di iNews TV. Saat pembuatan film tersebut, Jajang menjadi pencatat adegan. Dia bercerita bahwa suaminya melakukan riset selama 2 tahunan untuk membuat film itu. Semua istri para pahlawan revolusi diminta menceritakan kejadian yang mereka alami saat rumah mereka mendadak didatangi pasukan Tjakra Bhirawa. Para ibu itu didampingi putra dan putrinya yang ikut menjadi saksi hidup. Khusus ibu Ahmad Yani yang malam itu tidak sedang berada di rumah, karena sedang di rumah dinas, kesaksian diberikan oleh anak-anak beliau. Bahkan ibu Ahmad Yani sampai nyaris pingsan ketika mengetahui bagaimana kematian suaminya.

Menurut Jajang, setiap peristiwa penculikan jendral shootingnya selama 1 minggu. Misalnya serangkaian shooting peristiwa penculikan dan pembunuhan Jendral Ahmad Yani, waktunya satu minggu. Shooting kejadian di rumah Pak Nasution juga satu minggu, begitu pula shooting di rumah korban yang lainnya.
Uniknya,  shooting schene penculikan secara tidak sengaja selalu tepat pada malam Jum'at. Sama dengan kejadian sebenarnya yang terjadi pada Kamis malam Jum'at.

Setiap shooting film, anggota keluarga jendral yang bersangkutan selalu hadir untuk menyaksikan adegan demi adegan, untuk memastikan akurasinya. Apalagi lokasi shooting memang di rumah kediaman tempat kejadian sebenarnya berlangsung.

Jadi, dimana letak ketidakbenarannya?!

Kalau soal Aidit merokok, diakui oleh Jajang bahwa itu memang tafsiran Arifin untuk menggambarkan seseorang yang sedang mencari ketenangan di tengah ketegangan, biasanya merokok. Efek asap diperlukan oleh sutradara untuk memberikan efek dramatisasi suasana.
Hal ini dibenarkan oleh Prof. Salim Said Selasa malam di acara ILC, bahwa tafsiran sutradara itu sesuatu yang LUMRAH untuk memberikan dampak dramatis dalam suatu adegan.

Jadi tidak layak diributkan, hanya karena adegan Aidit merokok maka semua adegan dalam film itu bohong.

Lagipula, Ilham Aidit hanya meributkan soal  bapaknya yang tidak merokok, bukan? Tapi dia tidak bisa membantah alur gerakan 30 September malam itu.  Anak umur 6 tahun mana tahu hal-hal  serius? Sesuai dengan usianya yang dia tahu hanyalah bermain, makan dan mungkin ingatan tentang kenangan manis bersama keluarga terdekat.

Ade Irma Suryani Nasution saat itu juga berumur 6 tahun. Dia juga tidak paham apa yang sedang terjadi malam itu.
Itu sebabnya dia tertembak. Kalau saja dia sudah dewasa atau minimal remaja, tentu nalurinya akan merasa takut dan logikanya pasti akan menuntunnya untuk berlindung, cari aman.
Justru karena dia bocah cilik lugu yang tak tahu apa-apa, maka malam itu dia menjadi martir.

* * *

Soal dipilihnya Arifin C. Noor sebagai sutradara, Jajang bercerita saat itu Pak Dipo (G. Dwipayana), Direktur PPFN (Pusat Produksi Film Negara), mencari sutradara yang akan diminta untuk membuat film sejarah tentang peristiwa G30S PKI.
Goenawan Mohammad menyarankan nama Arifin C. Noor dan Teguh Karya sebagai sutradara kawakan saat itu.
Pak Dipo kemudian memilih Arifin.

Jadi, kalau akan dibuat film baru soal peristiwa G30S PKI, sanggupkah menghadirkan saksi mata yang masih hidup dari setiap pelaku dan korban?!
Istri para Jendral pahlawan revolusi, setelah 52 tahun berlalu, saya yakin sudah banyak yang wafat (atau malah sudah wafat semuanya?).
Putera puteri para pahlawan revolusi yang saat peristiwa itu terjadi berusia setidaknya 17 tahun, sekarang mestinya berusia 69 tahun.

Masa iya yang akan dijadikan rujukan adegan adalah anak usia 5-6 tahun saat itu? Malah jadi meragukan dan konyol.
Alih-alih membuat film yang lebih akurat, bisa jadi malah makin banyak meleset dari aslinya.
Jangan sampai nanti para jendral yang sudah mengorbankan nyawanya itu justru jadi tokoh antagonis dan para anggota PKI justru jadi "korban" yang layak diberi simpati.

PKI kan bukan hanya 30 September 1965 saja melakukan pemberontakan keji dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Bukankah tahun 1926-1927 dan tahun 1948 PKI juga memberontak??!

Anehnya, mereka yang ngotot PKI tidak bersalah dan hanya jadi korban, biasanya tidak mampu menjawab kalau disodorkan fakta pemberontakan PKI tahun 1948.
Itu sebabnya mereka hanya berputar-putar di seputar peristiwa G30S PKI saja.
Tak ada argumen apapun yang mampu menyanggah kekejaman PKI tahun 1948.

Kalau mau membuat film tentang PKI, sekalian saja dibuat panjang, mulai pemberontakan tahun 1926-1927 dan tahun 1948. Agar generasi muda sekarang lebih bisa memotret sejarah secara utuh dan mendapat gambaran tentang PKI dengan lebih komplit.

Embie C. Noor,  adik almarhum Arifin C Noor, yang menjadi ilustrator musik di film G30S PKI, mengatakan senang sekali jika film bisa dibalas dengan film juga.

Tapi yang terpenting jangan ada pemutarbalikan sejarah!
Baca selengkapnya

TERORIS DI INDONESIA, FAKTA ATAU FIKSI?

[laskarsyahadat] Norman Sidabutar

TERORIS DI INDONESIA, FAKTA ATAU FIKSI?
.
3 tahun lalu sy pernah ngobrol santai dgn Letkol TNI (Purn) Petrus Sunyoto, Kopassus yg pernah meraih penghargaan dari Presiden RI sebagai Prajurit Terberani TNI.
.
Di dinding kantornya banyak piagam2 penghargaan khususnya yg berkaitan dgn pelatihan anti teror diberbagai negara. Bahkan ada piagam utk beliau dari Green Baret USA sebagai instruktur strategi perang grilya.
.
Melihat piagam2 itu membuat sy terkagum2 kpd beliau. Piagam2 itu juga mengusik pikiran sy utk bertanya banyak hal, terutama apakah benar ada teroris di indonesia ini? Krn beliau adalah termasuk pasukan yg pertama2 dilatih anti tetor.
.


Beliau menjawab bahwa tdk ada itu teroris di indonesia. Yg ada adalah org2 yg marah krn sakit hati kepada pemerintah, yg tdk tau harus mengadu kemana lagi krn selalu dicuekin.
.
Sy membantahnya, krn di tv dan media lainnya disajikan berita2 penangkapan teroris.
Beliau tersenyum atas bantahan sy tersebut. Dia jelaskan bhw protap penanganan teroris tdk spt itu. Semuanya harus senyap. Beliau mencontohkan ttg operasi penangkapan Osama. Kapan operasinya? Siapa yg beroperasi? Mana mayatnya? Semuanya senyap!
Trus, sy tanya lagi, kenapa operasi anti teror di indonesia itu heboh? Bahkan ada yg diliput live oleh media. Dia kembali tersenyum, itu bukan operasi anti teror, itu operasi pencitraan, atau operasi pengalihan isu, atau operasi dgn misi tertentu, tegasnya. Kemudian beliau bertanya kpd sy, kenapa pasukan anti teror itu bukan kopassus? Kan kopassus yg paling ahli menangani teror? Sy menggeleng gak tau.
Beliau jelaskan, bahwa klu kopassus atau tni yg lain yg disuruh menangani anti teror maka kesatuan itu gak bakal mau disuruh2 merekayasa. Makanya yg ditugasi adalah kesatuan yg mau disuruh2 merekayasa. Oh, gitu toh....
Sayang, tahun 2014 yg lalu beliau dipanggil Yang Maha Kuasa, innalillahi waina ilaihi rojiun. Selamat jalan komandan, banyak kisah2 yg engkau ceritakan ke sy yg msh melekat dibenakku. Engkau adalah pelaku sejarah yg selalu kukagumi.
*Tulisan dari Bambang Widianto


Baca selengkapnya
loading...