Friday, 21 April 2017

Marah dan Tegas! Wapres JK sebut Media Asing Tidak Adil terkait Kemenangan Anies-Sandi!

[Laskarsyahadat] Beberapa media asing, terutama yang berbasis diAmerika Serikat menyebut kemenangan Anies-Sandi di Pilkada DKI Jakarta merupakan kemenangan dari Kelompok Islam garis keras.

Wakil Presiden, Jusuf Kalla menegaskan, hal itu sama sekali tidak benar dan pemberitaan tidak adil kepada pasangan itu.


"Soal Pilkada, tadi saya ketemu Wakil Presiden Amerika. Saya bilang ndak (tidak) adil ini media luar, karena yang menang banyak didukung oleh teman-teman dari sisi Islam malah dianggap garis keras yang menang," kata JK di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (20/4/2017

"Kemenangan Anies-Sandi bukan kemenangan kelompok Islam garis keras," lanjutnya.

Dengan nada bercanda, justru kata dia, Anies merupakan orang yang paling ringan dan lembut di antara orang-orang yang keras.

"Justru saya kira Pak Anies itu paling ringan orangnya, buka paling keras. Paling lembut di antara yang keras itu karena ada Imam yang besar. Imam yang suka sama beliau, dianggap besar oleh pendukungnya padahal cuma pendukung saja," ucap JK seraya tertawa.

Dia meminta kepada semua pihak untuk menghormati pilihan dari masyarakat DKI Jakarta yang sudah memilih untuk memimpin daerahnya selama lima tahun mendatang.

Baca selengkapnya

Minta Laknat! Marrisa Annita Mantan Reporter Metro TV tuduh Habib Rizieq Syihab sebagai Tokoh Ekstrimis

[Laskarsyahadat] Pembawa acara berita sebuah stasiun televisi swasta Marissa Anita membuat pernyataan yang sarat dengan ujaran kebencian. Pemeran film 'Istirahatlah Kata-kata' itu menilai Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab sebagai ekstrimis yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Waspadailah bahaya laten ektrimis di bumi Indonesia," kata Marissa, pada Kamis (20/4/2017)
Mantan penyiar berita Metro TV itu mengatakan demikian karena mengomentari headline media daring Kompas yang berjudul "Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Rizieq Shihab".


"Saya terima kasih Habib Rizieq, keberanian Anda luar biasa. Ustaz Sambo, terima kasih, dengan kalian semua di belakang kami, kami tidak gentar," kata Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, dalam acara doa sujud syukur di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (19/4/2017).

Ucapan Marissa tentu mengundang kecaman dari para pengikutnya di Twitter @MarissaAnita.
"Anda tega mengatakan ulama adalah extrimis? Anda harus tau. Ayah Habib Rizieq adalah pahlawan bangsa!" kata akun Saasyria.

"Mau diboikot kayak Uus? Atau ngemis-ngemis minta maaf kayak Ernest?" kata Muhammad Hafiz W.

Sumber: [Paramuda/BersamaDakwah]
Baca selengkapnya

Kisah RA. Kartini, Qur'an dan KH. Saleh Darat

[Laskarsyahadat] RA. Kartini, Tafsir Al Qur'an dan KH. Saleh Darat

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;
"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"


"Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca".

"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya".
"Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.
"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya".
"Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya".

Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.
"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban".

"Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan".
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; "Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disun dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT.

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur'an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.
Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.
Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.
Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini.

 Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Mr. Abendano
Baca selengkapnya

Wednesday, 19 April 2017

Jokowi coblos kenakan Kemeja Putih "sinyal Kuat Manuver Politik Jokowi terhadap Megawati"

[Laskarsyahadat] Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta), M Rico Sinaga mengatakan, keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan kemeja putih saat mencoblos di TPS 04 Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (19/4), dinilai memiliki sinyal pesan tersendiri.

Pasalnya kemeja putih selama ini diidentikan menjadi ciri khas baju kebesaran Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

"Tadinya, saya tidak percaya. Kok Jokowi berani tampil sevulgar itu. Kan kita semua tahu, itu (kemeja putih) adalah seragam kebesaran Anies-Sandi," kata Rico di kawasan Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/4).

Rico menilai, apa yang dipertontonkan Jokowi yang berani mengenakan kemeja putih adalah simbol politik yang sangat terang benderang.


"Jokowi ini orang Jawa, tentu dia cukup mahir menyampaikan pesan kepada kawan maupun lawan politiknya melalui simbol-simbol begitu. Kali ini saya bilang Jokowi mulai berani dan tidak lagi sungkan sama Megawati Soekarnoputri," kata Rico.

Jokowi, jelas Rico, sedang ingin menyampaikan kepada pubik bahwa sejatinya dia tidak menghendaki Basuki Tjahaja Purnama menjadi Gubernur DKI 2017-2022.

"Jadi, melalui kemeja putih itu, Jokowi hatinya ke Anies-Sandi. Saya kira keputusan itu merupakan menifestasi dari dalam dirinya, bahwa dia memang sudah tidak nyaman dengan Basuki," ungkap Rico.

"Artinya ini apa? Sebagai petugas partai, Jokowi mulai berani menunjukkan ketidakpatuhannya kepada sang Ketua Umum PDIP. Kita tahu, Megawati adalah orang yang paling ngotot memenangkan Basuki," terang Rico.

Karenanya, Rico memprediksi, dalam waktu yang tidak lama Jokowi akan menanggung risiko politik yang menurutnya bisa berakibat fatal.

"Saya yakin, sebagai politisi senior Megawati pasti mampu membaca 'genderang perlawanan' Jokowi. Atau sekurang-kurang, Megawati akan mengevaluasi tentang loyalitas petugas partainya, yang bernama Jokowi," cetus Rico.

"Kalau Megawati sudah tersinggung, bukan tidak mungkin Jokowi akan diganggu oleh PDIP di sisa masa kepemimpinannya. Ini menarik, karena biar bagaimanapun taring Jokowi yang statusnya adalah Presiden akan memberi perlawanan yang sengit, bukan tidak mungkin PDIP nantinya malah akan direbut oleh Jokowi sebelum Pileg 2019," pesan Rico.

Diketahui, pagi tadi Jokowi menyalurkan hak suaranya di TPS 4 Universitas Bank Mandiri, Gambir, Jakarta Pusat. Ia datang bersama Ibu Negara Iriana Jokowi.

Pantauan di lokasi, Jokowi mengenakan kemeja putih sementara istrinya memakai baju pink.

Usai mencoblos, Jokowi sempat memberikan keterangan pers. Di hadapan wartawan Jokowi mengatakan siapa pun pemenangnya harus diterima secara lapang dada. "Kita semua bersaudara," ucapnya singkat.


 Sumber: NASIONAL.in






Baca selengkapnya

Polisi brutal dan berpihak!!! Rakyat Percayakan Kemanaan dan Keutuhan NKRI pada TNI, bahkan Kotak Suara!

[Laskarsyahadat] Rakyat Percaya TNI dibanding Polisi.

Kepercayaan rakyat Indonesia terhadap institusi  polisi semakin luntur semenjak penanganan kasus penistaan agama,  dan munculnya berbagai isu PKI,  serta brutalnya polisi dalam menangani permasalahan rakyat.


Kasus penistaan agama oleh Ahok,  polisi tidak bertindak cepat,  bahkan melindungi penista agama dengan berbagai cara(rakyat tidak Bisa dibohongi).  Media sudah terbuka,  segala tindakan polisi dalam menangani kasus Ahok dengan jelas keberpihakan dalam membela dengan berbagai tuduhan tidak mendasar terhadap ulama.

MUI sebagai lembaga fatwa umat Islam tidak lagi dipercaya,  sehingga polisi mencari dalil lain terkait fatwa penistaan agama oleh Ahok. Bahkan ulama dituduh sebagai pelaku makar dan dikirminalisasi dengan berbagai cara,  ancaman,  penjara bahkan teror.

Rakyat Indonesia masih sabar,  khususnya umat Islam yang sudah sangat sabar.

Kebrutalan polisi pun menjadi pemicu hilangnya kepercayaan rakyat Indonesia terhadap institusi Polri yang diberi mandat untuk kemanaan,  kejadian brutal dalam menggunakan senjata,  bahkan baru terduga sudah ditembak mati,  belum lama,  sekeluarga di brondoong tembakan oleh polisi,  mengakibatkan satu tewas.

Dalam masalah keamanan,  Rakyat mempercayakan kepada TNI,  institusi yang dengan tegas mengatakan akan melindungi rakyat. Akan bersama rakyat bahkan membantu rakyat.  TNI menjadi kepercayaan rakyat dalam memegang senjata, dalam menjaga keutuhan NKRI dan TNI Pun dipercaya dalam menjaga Kotak Suara.


Baca selengkapnya

Tuesday, 18 April 2017

Biadab! "dapat jatah Makan Sisa" ulama KH. Muh. Al Khatthath diperlakukan di dalam Penjara!

[Laskarsyahadat] Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon bersana anggota Komisi III Romo Syafi’i, Muslim Ayub, Abdul Wahab Dalimunte dan beberapa staf Sekretariat Jenderal DPR hari ini, Selasa (18/4) mengunjungi Ustadz Muhammad Al Khaththath di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.



“Agendanya kita mau menjenguk Ustadz Al Khaththath, berdasarkan aspirasi kemarin yang kami terima dari tokoh-tokoh Islam, pengacara dan lain sebagainya. Bahwa penahanan ini sudah lewat dari dua minggu serta tamu sangat susah untuk menjenguknya,” ujar Fadli kepada Warta Pilihan di Gedung Nusantara III, DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (18/4).

Menurutnya, kunjungan hari ini merupakan kunjungan yang tidak diagendakan tempo hari karena mendapatkan keluhan dari perwakilan umat Islam yang akan ke sana sangat dipersulit oleh pihak Kepolisian.

“Iya jadi ini saya kira kunjungan spontanitas saja, kita mau tahu sesulit apa sih mengunjungi Mako Brimob, kok sampe segitunya,” terang Fadli.

Selain itu, ia ingin mengetahui polisi atas dasar hukum apa menyulitkan tamu yang ingin mengunjungi Ustadz Muhammad Al Khaththath.

“Iya kita mau tahu juga polisi atas dasar apa melakukan hal seperti itu, bahkan keluarganya pun di persulit sampai jatah makanan tidak diberikan. Kemarin kita dapat kabar beliau (MAK, red) mendapatkan jatah makanan sisa dari petugas yang piket. Ini menurut saya pelanggaran Hak Asasi Manusia terberat,” tandas Fadli.

sumber : wartapilihan

Baca selengkapnya
loading...